sanskerta,  Sejarah,  Tokoh

Peran Susanna Sebagai Jembatan Bagi Naturalis Eropa Dalam Pengumpulan Pengetahuan Botani di Maluku

Kepulauan Maluku dikenal sebagai “The Spice Island” sebagai pusat biodiversitas dunia, terutama karena posisinya di kawasan Wallacea yang kaya akan spesies endemik flora fauna, serta rempah-rempah. Dalam periode awal modern di Eropa sekitar abad ke-15, komoditas seperti cengkih, pala bernilai tinggi. Selain itu, rasa keingintahuan akan tumbuhan dan tempat asal dari komoditas tersebut menjadi pendorong para naturalis, ilmuan, penjelajah, serta pedagang untuk menjelajahi dunia baru. Maluku juga bukan hanya menarik perhatian ilmuan Eropa, tetapi juga menjadi fokus eksplorasi pengetahuan sejak masa kolonial.

Kolonialisme membawa perubahan besar dalam pengelolaan sumber daya alam. seringkal melalui praktik monopoli dan penguasaan lahan yang menimbulkan konflik agraria. Mereka juga membatasi kebebasan masyarakat lokal dalam mengelola dan memperdagangkan hasil bumi mereka. Di sisi lain, interaksi antara pengetahuan lokal, seperti praktik trasisi yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam justru menjadi pemahan baru dalam khazanah pengetahuan Eropa. Hal ini menjadi awal dari pencarian pengetahuan tentang flora di Maluku. Keingintahuan akan pengetahuan baru menjadi pendorong penjelajah pergi ke negeri-negeri jauh. Pada awalnya memang diprakarsai Portugis yang kemudian Spanyol dan akhirnya diadopsi oleh Belanda, yang akhirnya menjadi faktor ekspansi Eropa ke benua Asia.

Oleh karena itu, para penjelajah, naturalis, dan ilmuan terdorong untuk mengumpulkan berbagai biodiversitas selama penjelajahan mereka di dunia baru. Dengan mengamati secara seksama, mempelajari, serta mencatat pengetahuan dan praktik lokal untuk memperluas khazanah pengetahuan di Eropa. Hal ini dilakukan bukan hanya sekedar slogan gold, glory, gospel, melainkan mencari pengetahuan baru dan mengirimnya ke Eropa. Sehingga, Eropa seakan-akan menjadi kiblat dari semua pengetahuan tanpa melihat kontribusi masyarakat lokal yang telah menuntun ilmuan Eropa dalam penelitiannya di Hindia Belanda. Dalam hal ini, Georg Erberhard Rumphius hadir sebagai figur naturalis yang berasal dari Jernam dan bekerja untuk VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Rumphius memproduksi karya dari hasil eksplorasinya di Maluku; ensiklopedis Herbasium Amboinense yang mencatat hampir 1200 spesies tumbuhan. Walaupun karyanya banyak menginspirasi para naturalis lain seperti Carl Linnaeus, historiografi sains yang dibuat kolonial tetap menempatkan laki-laki Eropa sebagai agen tunggal pengetahuan. Alhasil peran aktor yang menjadi jembatan komunikasi yang memungkinkan produksi pengetahuan borani tersebut terhapus.

Dominasi dari maskulinitas dalam arsip merupakan hasil struktur epistemik yang menempatkan otoritas ilmiah pada subjek laki-laki Eropa. Perempuan, baik Eropa maupun Bumiputra, dianggap hanya pada ranah domestik. Tampa sadar mereka merupakan partisipan aktif dalam praktik ilmiah, namun tidak diakui sebagai produsen pengetahuan yang sah. Dalam hal ini, perempuan lokal yang menjadi informan, pengumpul spesimen, dan penjaga pengetahuan botani lokal yang direduksi menjadi sumber data pasif, bukan kolaborator yang adil dalam ranah intelektual. Ketidakhadiran mereka dalam catatan arsip bukan berarti mereka tidak ikut berkontribusi, melainkan karena sistem historiografi sains tidak menganggap kontribusi mereka layak untuk dicatat.

Invisibilitas perempuan dalam sejarah sains kolonial semakin kompleks ketika menyangkut Susanna, sebagai istri dari Georg Eberhard Rumphius. Mereka sangat dekat dengan ruang pusat produksi pengetahuan yang mudah diabaikan, namun terlalu terikat juga pada ranah domestik untuk diakui sebagai kolaborator ilmiah. Susanna merupakan contoh dari paradigmatik kondisi ini. Meskipun pernikahannya dengan Rumphius pada 1652 menandai awal periode paling produktif dari sang naturalis, dan juga pada kematiannya dalam gempa bumi Maluku pada 1674 meninggalkan dampak mendalam pada karya dan kehidupan Rumphius. Sehingga namanya tenggelam, dan hampir tidak pernah muncul dalam literatur tentang sejarah botani Maluku.

Ketiadaan literatur tentang Susanna menunjukan pola sitemik dalam arsip masa kolonial. Perempuan bumiputra yang menikah dengan seorang pejabat VOC jarang sekali bagi mereka yang memiliki jejak komprehensif. Walaupun statusnya terbilang mapan pada zamannya, tetapi tetap tidak dianggap sebagai bagian dari lingkaran ilmiah Eropa. Namun, hal ini menjadi celah-celah catatan epistolari, naskah, dan juga arsip untuk merekontruksi peran mereka dalam produksi pengetahuan lokal. Selain itu, kebutaan yang dialami Rumphius sejak 1970 seharusnya mengakhiri karirnya sebagai naturalis yang bekerja untuk tumbuhan botani. Namun, Rumphius justru terus produktif, bahkan periode pasca kebutaannya menghasilkan deskripsi botani yang lebih detail. Pada masa kebutaannya tentu mengundang banyak pertanyaan: siapa yang menjadi mata Rumphius? siapa yang mengumpulakan spesimen, mendeskripsiskan karaktersitik, dan berkomunikasi dengan informan lokal? Dalam hal inilah peran Susanna ikut andil dan membantu Rumphius dalam penelitian botaninya, Meskipun namanya tidak pernah secara eksplisit disebutkan sebagai kolaborator dalam catatan kolonial.

Penelitian tentang perempuan dalam sains telah berkembang dalam dua dekade terakhir. Hal ini didorong oleh perspektif feminisme dan dekolonialitas yang mempertanyakan keheroikan laki-laki Eropa dalam catatan sejarah. Studi tentang Maria, Sibylla Merian, Jeanne Bare, dan perempuan lain yang berkontribusi pada eksplorasi ilmiah abad ke-17 dan ke-18 telah membukan ruang diskusi peran perempuan dalam produksi pengetahuan. Namun, fokus pada perempuan Eropa telah menghasilkan narasi baru yang tetap saja marjinal terhadap perempuan bumiputra di koloni. Dalam persoalan Hindia Belanda, meski beberapa studi telah mengangkat peran perempuan Jawa dalam berbagai bidangnya, namun perempuan dari wilayah timur ini dalam sejarah sains masih menjadi area yang belum terjamah.

Awal Kehidupan Susanna dalam Ekosistem Kolonial

Susanna merupakan gadis yang berasal dari Ambon, Maluku. Dalam dokumen gereja tercatatn nama lengkapnya sebagai Susanna, meskipun beberapa sumber merujuknya sebagai putri dari seorang prajurit VOC yang bernama Laurens van de Velde yang telah menetap di Ambon. Susanna menikah dengan Georg Eberhard Rumphius pada tahun 1652, ketika Rumphius berusia 25 tahun dan sudah mengabdi kepada VOC selama tiga tahun. Pernikahannya berlangsung di gereja Protestan Ambon, dan mengikuti ritual Calvinis yang pada saat itu menjadi standar bagi pegawai VOC. Dari pernikahan tersebut, kemungkinan mereka diberkahi 2 orang anak, meskipun kehidupan mengenai keluarga Rumphius ini sangat terbatas dalam catatan kolonial. Karena keterbatasan sumber mengenai Susanna, kemungkinan ia merupakan anak hasil dari perkawinan bangsa Eropa dan juga perempuan lokal yang kemudian dibaptis

untuk menempatkannya dalam kategori sosial. Meskipun Susanna tida sepenuhnya sebagai Eropa maupun Bumiputra penuh.

Susanna dan Rumphius hidup dalam ranah domestik di sebuah rumah yang menjadi laboratoriumnya pada kawasan Benteng Victoria, kompleks administratif VOC di teluk Ambon. Kehidupan Susanna pada masa itu tidak dapat lepat dari konsep epistemik yang digunakan kolonial. Berbeda halnya dengan sains masa modern yang bekerja dalam institusi dengan sekat pemisah antara ruang kerja dan rumah. Rumphius justru menjalankan penelitiannya dalam ruang domestik dan melibatkan anak beserta istrinya dalam praktik ilmiahnya. Dengan adanya Susanna disampingnya yang membawa pengetahuan botani lokal, serta pemahaman karakteristik dan deskripsi tumbuhan memberikan akses yang luas untuk Rumphius. Hal ini, memungkinkan bagi pernikahan yang dilakukan naturalis asal Jerman ini merupakan bentuk strategis, untuk memberikan akses luas pada jaringan pengetahuan lokal serta bahasa bagi keberhasilan penelitian botani.

Kemudian pada tahun 1670, kemalangan terjadi pada Rumphius yang mengalami kebutannya akibat penyakit glaukoma. Empat tahun setelahnya, pada 17 Februari 1674, gempa bumi dahsyat mengguncang Ambon dan memicu tsunami yang menewaskan 2.000 orang termasuk Susanna dan juga putri bungsunya. Akibat dari bencana tersebut, Rumphius mengalami kesedihan mendalam yang terekam dalam korespondensinya dengan para kolega di Eropa. Hal ini dibuktikan dalam penemuan bunga anggrek yang kemudian diberikan nama Flos Susannae, penamaan tersebut merupakan sebuah penghormatan karena Susanna yang pertama kali memperlihatkan anggrek kepada Rumphius ketika sedang berjalan santai di hutan.

Susanna Mengeksplorasi Frola Fauna di Maluku

Dalam historiografi Indonesia, perempuan belum begitu tampak dalam narasi sejarah. Hal ini dikarenakan adanya peralihan corak penulisan sejarah yang bersifat Eropasentris ke Indonesiasentris. Akan tetapi, jika kita melihat dari kasus Susanna, ia sebagai istri sekaligus pengelola rumah tangga Rumphius terlibat dalam serangkaian aktivitas yang secara eksplisit mendukung proyek ilmiah suaminya: mengumpulkan tanaman, mendampingi observasi, serta mendokumentasi catatan hariannya. Aktivitas-aktivitas tersebut bukanlah pekerjaan yang sederhana dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Ia memerlukan pengetahuan mengenai lokasi spesies, waktu yang tepat dalam siklus tumbuhan, serta bagaimana mengidentifikasi dan mengkarakteristik spesies.

Peran dari Susanna semakin kuat pada periode 1970, yang dimana pada saat itu Rumphius mengalami kebuataan permanen akibat glaukoma. Susanna dan juga putranya Paul August ikut mendeskripsikan serta mengkarakteristik hasil temuan dari penelitiannya. Walaupun VOC sempat mengirimkan asisten kepada Rumphius pasca kebutaannya, tetapi sumber yang mencatat nama dari asisten tersebut nihil. Pada masa ini juga, Susanna menjadi mediator antara Rumphius dan juga masyarakat Ambon. Hal ini dikarenakan Rumphius sendiri tidak begitu menguasai bahasa, walaupun ia pernah belajar bahasa Melayu dan juga bahasa-bahasa lokal. Mungkin dari kurangnya penguasaan bahasa formal ini, memunculkan rasa kurang percaya sehingga akses jaringan pengetahuan lokal terhambat. Oleh sebab itu, Susanna dalam hal ini menjadi agen langsung serta menjadi jembatan antara pengetahuan lokal dan juga Eropa.

Dalam catatan Rumphius Herbarium Amboinense, nama Susanna tidak muncul, tetapi kerak sekali merujuk pada “informan lokal” yang selalu memberikan pengetahuan tentng nama vernakular, kegunaan tanaman, dan juga lokasi habitat tanpa menyebutkan identitas spesifik mereka. Apakah mungkin anonimitas tersebut merupakan konvensi pengetahuan pada masa kolonial yan tidak menghargai kontributor lokal sebagai produsen pengetahuan? Hal tersebut memang merupakan corak dari pengetahuan Eropasentris, yang dimana kontributor lokal sering membagi informasi pengetahuan kepada para ilmuan, penjelajah, serta naturalis ditenggelamkan namanya. Sehingga pengetahuan tersebut di klaim sebagai temuan dari para ilmuan dan juga penjelajar Eropa.

Walaupun Susanna menjadi agen penting dan juga kontributor Rumphius dalam penelitian ilmiahnya, nasib tragis menimpa Susanna pada 17 Februari 1674 yang menewaskannya dalam bencana gempa bumi serta tsunami di Ambon, Maluku. Rumphius dalam surat-suratnya kepada rekannya di Buitenzorg (sekarang Bogor), menuliskan tentang kesulitannya dalam melanjutkan penelitiannya, dikarenakan faktor usia yang semakin rentan dan juga mengeluh akibat kehilangan Susanna, istri tercintanya. Meskipun demikian, ada beberapa catatan yang mengatakan ia kemudian menikah lagi dengan perempuan lokal bernama Anna. Akan tetapi, catatan tersebut masih dipertanyakan mengenai keasliannya.

Penulis: Geodivan Ahnaf Aryaguna

Editor: Rafi Iftikhar Prananta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *