{"id":93,"date":"2019-10-22T06:35:00","date_gmt":"2019-10-22T06:35:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=93"},"modified":"2019-10-22T06:35:00","modified_gmt":"2019-10-22T06:35:00","slug":"hikayat-sang-frater-dan-sebuah-senja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=93","title":{"rendered":"Hikayat Sang Frater dan Sebuah Senja"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: left;\">\nOleh: Stefanus Cagar Manusakerti&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\nEditor: Rachmad Ganta Semendawai<\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhmXH4-uBuWFZ76VH0BO0IEiwFRESbgPWVfRimbMXrkLDI5essIwRWrigZS5OMJXtGyt9ILPwHnZu5kjEydVGgdKjwvxzgsjEsl39CWtGR67ySXLYYbhGvLl07ld3bCsFvSXnDfiNAqShyphenhyphenN\/s1600\/1568521398484.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"720\" data-original-width=\"1280\" height=\"225\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhmXH4-uBuWFZ76VH0BO0IEiwFRESbgPWVfRimbMXrkLDI5essIwRWrigZS5OMJXtGyt9ILPwHnZu5kjEydVGgdKjwvxzgsjEsl39CWtGR67ySXLYYbhGvLl07ld3bCsFvSXnDfiNAqShyphenhyphenN\/s400\/1568521398484.png\" width=\"400\" \/><\/a><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<\/div>\n<p><a name='more'><\/a><\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\nNamanya<br \/>\n adalah Markus Wisanggeni. Perpaduan dari nama seorang rasul dan tokoh<br \/>\npewayangan. Markus adalah nama yang wajar diberikan oleh umat Katholik<br \/>\nkepada anak laki-laki mereka. Namun, untuk nama Wisanggeni, bukan tanpa<br \/>\nalasan orang tuanya memberikan nama itu. Dalam pewayangan, Wisanggeni<br \/>\nadalah seorang lelaki gagah yang sakti mandraguna. Namun, kelahirannya<br \/>\nsendiri ditolak oleh kahyangan bahkan oleh ayahnya sendiri, Arjuna.<br \/>\nSejak lahir, Markus kecil tidak pernah mengenal ayahnya. Yang ia tahu<br \/>\nnama Wisanggeni dihadiahi ibunya untuk sekadar mengingatkan bahwa ia<br \/>\nmemiliki seorang Ayah. Sekarang umurnya telah tepat menginjak 23 tahun<br \/>\ndan ia memiliki sebutan tambahan di depan Markus. Frater. Ya, Frater<br \/>\nMarkus. Begitulah orang-orang memanggil ia sekarang. Oleh gereja, Markus<br \/>\n ditugaskan disebuah pulau kecil yang dikanan-kirinya hanya ada genangan<br \/>\n air biru langit yang membentang luas. Disana ia tinggal disebuah biara<br \/>\nkecil yang terletak di atas bukit tertinggi di pulau itu. Dari luar<br \/>\nbiara itu memang terlihat rimpuh, namun dari biara itu dia dapat melihat<br \/>\n seluruh bagian pulau. Sudah dua tahun ia ditugaskan di pulau ini. Pada<br \/>\ntiap-tiap sore, Markus memiliki sebuah kebiasaan yang telah ia lakoni<br \/>\nsemenjak pertama kali tiba di biara itu. Saban sore, ketika matahari<br \/>\nmulai turun dan desir angin pantai mulai mendesah, ia akan hinggap di<br \/>\nsalah satu jendela biara yang menghadap langsung ke laut. Untuk satu<br \/>\nsampai dua jam ia akan diam saja disitu. Membiarkan dirinya dihisap<br \/>\npanorama yang mampu membuatnya berdecak kagum. Begitulah kebiasannya<br \/>\ndisamping memberi pelayanan pada umat selama dua tahun bertugas. <br \/>\n&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\nPada<br \/>\n suatu sore, seperti biasanya ia sudah siap di jendela itu. Seperti<br \/>\nbiasanya pula Markus telah siap untuk menikmati lukisan alam yang<br \/>\nsedemikian rupa. Juga mendengar bunyi kepak camar yang berkejaran di<br \/>\nsela nyiur kelapa, mengamati kapal-kapal nelayan yang berbalik arah<br \/>\nmenuju pantai yang dari jendela biara akan terlihat seperti sebuah<br \/>\nparade. Di bibir pantai para istri dan anak telah menunggu suami dan<br \/>\nAyah hanya untuk membantu mengangkat ikan ataupun jala. Namun, ketika<br \/>\nsore telah hendak mencapai ujungnya, tiba-tiba entah dari mana asalnya,<br \/>\nmelintaslah sebuah siluet berbentuk gadis yang melayang-layang di atas<br \/>\nlautan yang telah mulai berubah warna menjadi kelam. Dari siluet itu<br \/>\nkeluar sebuah cahaya kemerah-merahan yang memancar sangat nyata dan<br \/>\nterang. Seketika sore yang coklat dan sedikit hangat yang saban hari ia<br \/>\nnikmati telah berubah menjadi sebuah sore yang&nbsp; kemerah-merahan dan<br \/>\nsangat hangat. Markus tersilap dan bingung. Apa itu, apakah matanya<br \/>\nmulai tidak beres? Apakah yang dulu diceritakan ibu itu akhirnya<br \/>\nterjadi? Ibunya pernah bercerita bahwa keluarga ibunya memiliki<br \/>\nketurunan penyakit mata yang kadang membuat mereka melihat hal yang<br \/>\ntidak-tidak. Sampai-sampai, kakek buyut dan kakeknya pernah dibilang<br \/>\ngila oleh orang-orang karena penyakit itu. Masih di jendela itu, ia<br \/>\nmulai mengedip-edipkan matanya dengan cepat. Ia takut jika penyakit<br \/>\nketurunan keluarga ibunya akhirnya juga menurun pada matanya. Semakin<br \/>\nkencang ia mengkedipkan matanya. Namun, siluet itu masih saja ada.<br \/>\nSekarang kakinya berpantulan lincah di atas permukaan laut. Seperti<br \/>\nhalnya seorang anak yang kegirangan bermain di halaman depan rumahnya.<br \/>\nHal itu semakin membuat takut Markus. Wajahnya mulai basah dengan peluh<br \/>\nsebesar biji jeruk. Tetapi, disamping rasa takut, ada sebuah perasaan<br \/>\nlain yang hadir. Sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan. Sesuatu<br \/>\nyang membuatnya merasa hangat di sekujur tubuhnya. Ia mengawang, rasanya<br \/>\n seperti ketika ibu menempelkan handuk hangat ketika ia habis bermain<br \/>\nhujan dan menggigil kedinginan. Tapi kehangatan ini lain. Bahkan 100<br \/>\nhanduk hangat ibu pun tetap tidak sebanding dengan kehangatan yang<br \/>\nsedang ia rasakan saat ini. Saat ini, di depan jendela biara rimpuh, di<br \/>\nbukit tertinggi, sebuah pulau terpencil.<\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjEgfa34VZwX1N79UeZ0W5uHXhQndHilGzY1J4NhkxEkrUt1xEdoAi2CoYQjK58LNz0I8d_88qgFmmZhf3trz5wHk3G3hyphenhyphenK71i4uwNShm4GMsPGdpFF2xPNmB4thqKf-0_O01pXxeUs-agp\/s1600\/1568636112421.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"715\" data-original-width=\"1352\" height=\"211\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjEgfa34VZwX1N79UeZ0W5uHXhQndHilGzY1J4NhkxEkrUt1xEdoAi2CoYQjK58LNz0I8d_88qgFmmZhf3trz5wHk3G3hyphenhyphenK71i4uwNShm4GMsPGdpFF2xPNmB4thqKf-0_O01pXxeUs-agp\/s400\/1568636112421.png\" width=\"400\" \/><\/a><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\nKetika<br \/>\n matari telah sampai pada ujung riwayatnya dan hendak ditelan cakrawala,<br \/>\n siluet gadis itu juga pergi menuju garis lurus cakrawala. Langit<br \/>\nkembali gelap seperti sediakala. Langit itu memberikan perasaan yang<br \/>\nmasygul bagi Markus. Seolah kehangatan yang ia rasakan tadi telah<br \/>\nmenguar entah kemana. Seperti obor yang kering minyaknya sehingga padam<br \/>\ntiba-tiba. Ia mencoba menenangkan hatinya dengan rebahan di atas kasur<br \/>\nkapuk tipis yang selama ini menemani tidurnya. Namun, kasur itu seperti<br \/>\nmendorongnya untuk berdiri. Alkitab mungkin lebih mampu menenangkannya<br \/>\nketimbang kasur kapuk pikirnya. Ia membuka Alkitab pemberian gurunya<br \/>\nsaat masih di seminari. Sama saja. Ia masih dikuasai rasa yang begitu<br \/>\nberkecamuk. Semua jarum pada jam dinding telah menunjuk angka 12. Markus<br \/>\n mencoba berdoa. Ia buat tanda salib. Bapa apakah gerangan yang terjadi,<br \/>\n aku tak pernah merasakan sesuatu yang seperti ini. Kenapa siluet gadis<br \/>\nitu masih ada di mataku. Tuhan, apakah hambamu ini telah jatuh hati?<\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\nPagi<br \/>\n itu ia pergi ke pasar di perkampungan nelayan untuk membeli persediaan<br \/>\ndapur. \u201cFrater apa Frater kemarin sore masih terjaga?\u201d Tanya pedagang di<br \/>\n tempat Markus membeli ikan. Markus mengangguk. \u201cSebenarnya apa itu<br \/>\nFrater. Saya lahir dan hidup disini, tapi selama ini saya tidak pernah<br \/>\nmelihat yang seperti itu disini. Apa itu kuasa Tuhan Frater?\u201d.<br \/>\nSebetulnya Markus juga memiliki pertanyaan yang sama. \u201cMungkin saja bisa<br \/>\n begitu\u201d Markus menjawab seadanya. \u201cFrater saya pernah membaca sebuah<br \/>\nbuku karangan seseorang yang saya lupa namanya dan judulnya. Dalam buku<br \/>\nitu digambarkan persis seperti apa yang terjadi kemarin. Ketika pada<br \/>\nsore hari langit akan berwarna kemerah-merahan dan hangat. Dalam buku<br \/>\nitu, pengarangnya menyebutnya sebagai senja\u201d sahut anak pedagang tadi<br \/>\nyang ternyata menguping dan tiba-tiba muncul dari bagian belakang kios.<br \/>\nSenja, sebutan yang indah untuk suatu bentuk yang indah. Ketika waktu<br \/>\ntelah menunjukkan sore, Markus kembali ke biara. Ia telah siap di depan<br \/>\njendela untuk menantikan siluet gadis senja itu lagi. Benar adanya.<br \/>\nGadis itu kembali datang dan melayang-layang di atas buih-buih laut.<br \/>\nSore kembali memerah dan hangat. Markus kembali merasakan hal yang sama<br \/>\nseperti yang ia rasakan hari lalu. Gadis itu masih terlihat sama<br \/>\nriangnya. Melompat-lompat seperti anak kelinci dan kembali hilang di<br \/>\npenghujung sore. Tuhan, aku benar-benar telah jatuh hati.<\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\nSetelah<br \/>\n kehadiran gadis senja itu sejak pertama kali, pada tiap malam Markus<br \/>\nselalu merasakan sesuatu yang masygul dalam dirinya. Ia selalu mengingat<br \/>\n bentuk siluet itu. Ia selalu mendamba rasa hangat itu untuk menjamah<br \/>\ntubuhnya lagi dan lagi. Gelap malam hanya memberi dia rasa kalut yang<br \/>\ndalam. Dalam doanya Markus mengucap, \u201cTuhan aku ini hamba-Mu. Aku telah<br \/>\nberjanji bahwa hanya kaulah tempat dimana tubuhku pantas mengabdi. Tapi<br \/>\nTuhan, saat ini aku merasa bahwa tubuhku menginginkan pengabdian yang<br \/>\nlain. Pengabdian duniawi. Menyerahkan diriku untuk ditelan habis oleh<br \/>\ncahaya kemerah-merahan itu. Oleh kehangatan itu. Ya, oleh gadis senja<br \/>\nitu. Tuhan ketika gadis itu hilang ditelan cakrawala bersamaan dengan<br \/>\nmatari, hamba seperti melihat Bunda Maria yang diangkat ke Surga dengan<br \/>\nkudus. Maafkan hamba Tuhan, tak pantas rasanya hamba membuat<br \/>\nperbandingan itu. Namun, itulah yang benar-benar hamba rasakan saat ini.<br \/>\n Tolonglah hamba Tuhan\u201d.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\nMakin<br \/>\n hari perasaan itu semakin menguat. Benih perasaan itu telah menjadi<br \/>\nsubur oleh kehangatan yang mencuat dari kulit gadis senja itu. Dan<br \/>\nsekarang benih itu telah berakar. Sebuah akar tunjang telah menancap<br \/>\npada relung hatinya paling dalam. Yang sebelumnya hanya ia perbolehkan<br \/>\nTuhan untuk menjamah tempat itu. Setelah pertama kali gadis itu datang,<br \/>\nMarkus selalu membuat coretan pada kalender di kamarnya. Coretan itu<br \/>\ntelah berjumlah 364. Telah 364 hari, Markus berada dalam kemasygulan.<br \/>\nSiang itu ia sudah diambang batas. Markus coba menenangkan diri pergi ke<br \/>\n taman di belakang biara. Walau kecil, namun taman itu terlihat asri<br \/>\ndengan kembang dan kumbangnya. Ia duduk di tepian air mancur. Ia<br \/>\nmelongok ke air dan terlihatlah pantulan wajahnya. Markus baru tersadar,<br \/>\n sudah lama tidak bercukur. Ketika sedang memperhatikan wajahnya yang<br \/>\ntelah lama tidak dipelihara, dari dalam kolam Markus melihat sebuah<br \/>\npadma. Padma mekar yang telah ranum. Mungkin jantungnya berhenti untuk<br \/>\nsesaat. Keringat dingin bercucuruan dari pori-pori di seluruh kulitnya.<br \/>\nPadma itu, warnanya mengingatkan ia akan warna cahaya yang keluar dari<br \/>\nkulit gadis itu. Seketika itu juga, luruhlah hatinya. Tak bisa lagi<br \/>\nMarkus tahan akar tunjang yang tumbuh terlalu cepat. Akar itu telah<br \/>\nmenerobos keluar dari hatinya. Tanpa pikir panjang, ia ambil padma itu.<br \/>\nSore telah jatuh. Markus berlari menuruni bukit tertinggi itu. Ia lari<br \/>\ndengan tergopoh-gopoh. Seperti maling ayam yang dikejar warga.<\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEgWm7Uvf0SZVndPMZMW5sXldqL5JKKcoZEZ9xNlaHq0GKqSFaPy_nKlNE7Tg-bDlie7ykgIzjhRWEOskso6kUVPBMjStic8i1UDa8aOo15uJQKFhtN3SyclsgOveBFD6zy_5Pk02BIFMUL0\/s1600\/BUMI.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"806\" data-original-width=\"1600\" height=\"201\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEgWm7Uvf0SZVndPMZMW5sXldqL5JKKcoZEZ9xNlaHq0GKqSFaPy_nKlNE7Tg-bDlie7ykgIzjhRWEOskso6kUVPBMjStic8i1UDa8aOo15uJQKFhtN3SyclsgOveBFD6zy_5Pk02BIFMUL0\/s400\/BUMI.png\" width=\"400\" \/><\/a><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: left;\">\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<\/div>\n<p>Sekarang<br \/>\n ia telah sampai di pantai. Dimana pasir-pasir pada tiap sore setelah<br \/>\nkedatangan gadis senja itu selalu mengerling seperti tumpukan perhiasan<br \/>\nyang tumpah. Markus telah sampai pada bibir pantai ketika sore tiba-tiba<br \/>\n kembali ke wujudnya yang semula. Sore yang coklat dan sedikit hangat.<br \/>\nMarkus masih menunggui gadis itu sampai tirai hitam telah menutupi<br \/>\nseluruh langit. Remuk sudah pengharapannya. \u201cHei gadis, dimana kau.<br \/>\nKenapa kau tidak muncul. Aku sudah disini. Aku sudah disini sedari tadi.<br \/>\n Kenapa kau belum muncul juga!\u201d. Kalap, Markus melepas sandalnya. Ia<br \/>\nlari menerjang ombak malam hari, ia menerjangnya hingga hampir sampai ke<br \/>\n tengah laut sebelum tubuhnya lebih dulu dilahap ombak malam itu.<br \/>\nKehabisan tenaga untuk berlari tadi, Markus membiarkan dirinya digulung<br \/>\nombak. Mungkin ini akhir baginya. Mungkin ia hanya memang digariskan<br \/>\nuntuk menjadi frater. <br \/>\n&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br \/>\nHingga ketika matanya hampir<br \/>\nmengatup, Markus merasakan kehangatan yang sama lagi. Dari bagian<br \/>\nmatanya yang masih sedikit membuka, Markus melihat seperti ada cahaya<br \/>\nkemerah-merahan yang menghampirinya. Ya, itu dia. Gadis senja. Dengan<br \/>\nlirih gadis itu berucap \u201cMulai sekarang kau akan melihatku pada<br \/>\ntiap-tiap senja. Mulai sekarang senja akan selalu turun di pulau ini.<br \/>\nSelamanya.\u201d Akhir kalimat itu membuat Markus tersadar. Ia mencoba&nbsp;<br \/>\nmembuka matanya. Sedikit pedas rasanya. Markus tersadar bahwa telah ada<br \/>\ndi bibir pantai dengan sekerumunan orang yang telah mengelilinginya.<br \/>\nDitangannya, Markus melihat padma itu masih ada. Padma dengan rona<br \/>\nkemerah-merahan itu masih sama segarnya ketika ia ambil dari kolam.<br \/>\nKetika Markus bangun dan menengadahkan kepalanya ke langit di atas laut<br \/>\nlepas, ternyata senja sedang turun dengan indah-indahnya.<\/p>\n<p><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Stefanus Cagar Manusakerti&nbsp; Editor: Rachmad Ganta Semendawai Namanya adalah Markus Wisanggeni. Perpaduan dari nama seorang rasul dan tokoh pewayangan. Markus adalah nama yang wajar diberikan oleh umat Katholik kepada anak laki-laki mereka. Namun, untuk nama Wisanggeni, bukan tanpa alasan orang tuanya memberikan nama itu. Dalam pewayangan, Wisanggeni adalah seorang lelaki gagah yang sakti mandraguna. Namun, kelahirannya sendiri ditolak oleh kahyangan bahkan oleh ayahnya sendiri, Arjuna. Sejak lahir, Markus kecil tidak pernah mengenal ayahnya. Yang ia tahu nama Wisanggeni dihadiahi ibunya untuk sekadar mengingatkan bahwa ia memiliki seorang Ayah. Sekarang umurnya telah tepat menginjak 23 tahun dan ia memiliki sebutan tambahan di depan Markus. Frater. Ya, Frater Markus. Begitulah orang-orang memanggil ia sekarang. Oleh gereja, Markus ditugaskan disebuah pulau kecil yang dikanan-kirinya hanya ada genangan air biru langit yang membentang luas. Disana ia tinggal disebuah biara kecil yang terletak di atas bukit tertinggi di pulau itu. Dari luar biara itu memang terlihat rimpuh, namun dari biara itu dia dapat melihat seluruh bagian pulau. Sudah dua tahun ia ditugaskan di pulau ini. Pada tiap-tiap sore, Markus memiliki sebuah kebiasaan yang telah ia lakoni semenjak pertama kali tiba di biara itu. Saban sore, ketika matahari mulai turun dan desir angin pantai mulai mendesah, ia akan hinggap di salah satu jendela biara yang menghadap langsung ke laut. Untuk satu sampai dua jam ia akan diam saja disitu. Membiarkan dirinya dihisap panorama yang mampu membuatnya berdecak kagum. Begitulah kebiasannya disamping memberi pelayanan pada umat selama dua tahun bertugas. &nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada suatu sore, seperti biasanya ia sudah siap di jendela itu. Seperti biasanya pula Markus telah siap untuk menikmati lukisan alam yang sedemikian rupa. Juga mendengar bunyi kepak camar yang berkejaran di sela nyiur kelapa, mengamati kapal-kapal nelayan yang berbalik arah menuju pantai yang dari jendela biara akan terlihat seperti sebuah parade. Di bibir pantai para istri dan anak telah menunggu suami dan Ayah hanya untuk membantu mengangkat ikan ataupun jala. Namun, ketika sore telah hendak mencapai ujungnya, tiba-tiba entah dari mana asalnya, melintaslah sebuah siluet berbentuk gadis yang melayang-layang di atas lautan yang telah mulai berubah warna menjadi kelam. Dari siluet itu keluar sebuah cahaya kemerah-merahan yang memancar sangat nyata dan terang. Seketika sore yang coklat dan sedikit hangat yang saban hari ia nikmati telah berubah menjadi sebuah sore yang&nbsp; kemerah-merahan dan sangat hangat. Markus tersilap dan bingung. Apa itu, apakah matanya mulai tidak beres? Apakah yang dulu diceritakan ibu itu akhirnya terjadi? Ibunya pernah bercerita bahwa keluarga ibunya memiliki keturunan penyakit mata yang kadang membuat mereka melihat hal yang tidak-tidak. Sampai-sampai, kakek buyut dan kakeknya pernah dibilang gila oleh orang-orang karena penyakit itu. Masih di jendela itu, ia mulai mengedip-edipkan matanya dengan cepat. Ia takut jika penyakit keturunan keluarga ibunya akhirnya juga menurun pada matanya. Semakin kencang ia mengkedipkan matanya. Namun, siluet itu masih saja ada. Sekarang kakinya berpantulan lincah di atas permukaan laut. Seperti halnya seorang anak yang kegirangan bermain di halaman depan rumahnya. Hal itu semakin membuat takut Markus. Wajahnya mulai basah dengan peluh sebesar biji jeruk. Tetapi, disamping rasa takut, ada sebuah perasaan lain yang hadir. Sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan. Sesuatu yang membuatnya merasa hangat di sekujur tubuhnya. Ia mengawang, rasanya seperti ketika ibu menempelkan handuk hangat ketika ia habis bermain hujan dan menggigil kedinginan. Tapi kehangatan ini lain. Bahkan 100 handuk hangat ibu pun tetap tidak sebanding dengan kehangatan yang sedang ia rasakan saat ini. Saat ini, di depan jendela biara rimpuh, di bukit tertinggi, sebuah pulau terpencil. Ketika matari telah sampai pada ujung riwayatnya dan hendak ditelan cakrawala, siluet gadis itu juga pergi menuju garis lurus cakrawala. Langit kembali gelap seperti sediakala. Langit itu memberikan perasaan yang masygul bagi Markus. Seolah kehangatan yang ia rasakan tadi telah menguar entah kemana. Seperti obor yang kering minyaknya sehingga padam tiba-tiba. Ia mencoba menenangkan hatinya dengan rebahan di atas kasur kapuk tipis yang selama ini menemani tidurnya. Namun, kasur itu seperti mendorongnya untuk berdiri. Alkitab mungkin lebih mampu menenangkannya ketimbang kasur kapuk pikirnya. Ia membuka Alkitab pemberian gurunya saat masih di seminari. Sama saja. Ia masih dikuasai rasa yang begitu berkecamuk. Semua jarum pada jam dinding telah menunjuk angka 12. Markus mencoba berdoa. Ia buat tanda salib. Bapa apakah gerangan yang terjadi, aku tak pernah merasakan sesuatu yang seperti ini. Kenapa siluet gadis itu masih ada di mataku. Tuhan, apakah hambamu ini telah jatuh hati? Pagi itu ia pergi ke pasar di perkampungan nelayan untuk membeli persediaan dapur. \u201cFrater apa Frater kemarin sore masih terjaga?\u201d Tanya pedagang di tempat Markus membeli ikan. Markus mengangguk. \u201cSebenarnya apa itu Frater. Saya lahir dan hidup disini, tapi selama ini saya tidak pernah melihat yang seperti itu disini. Apa itu kuasa Tuhan Frater?\u201d. Sebetulnya Markus juga memiliki pertanyaan yang sama. \u201cMungkin saja bisa begitu\u201d Markus menjawab seadanya. \u201cFrater saya pernah membaca sebuah buku karangan seseorang yang saya lupa namanya dan judulnya. Dalam buku itu digambarkan persis seperti apa yang terjadi kemarin. Ketika pada sore hari langit akan berwarna kemerah-merahan dan hangat. Dalam buku itu, pengarangnya menyebutnya sebagai senja\u201d sahut anak pedagang tadi yang ternyata menguping dan tiba-tiba muncul dari bagian belakang kios. Senja, sebutan yang indah untuk suatu bentuk yang indah. Ketika waktu telah menunjukkan sore, Markus kembali ke biara. Ia telah siap di depan jendela untuk menantikan siluet gadis senja itu lagi. Benar adanya. Gadis itu kembali datang dan melayang-layang di atas buih-buih laut. Sore kembali memerah dan hangat. Markus kembali merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan hari lalu. Gadis itu masih terlihat sama riangnya. Melompat-lompat seperti anak kelinci dan kembali hilang di penghujung sore. Tuhan, aku benar-benar telah jatuh hati. Setelah kehadiran gadis senja itu sejak pertama kali, pada tiap malam Markus selalu merasakan sesuatu yang masygul dalam dirinya. Ia selalu mengingat bentuk siluet itu. Ia selalu mendamba rasa hangat itu untuk menjamah tubuhnya lagi dan lagi. Gelap malam hanya memberi dia rasa kalut yang dalam. Dalam doanya Markus mengucap, \u201cTuhan aku ini hamba-Mu. Aku telah berjanji bahwa hanya kaulah tempat dimana tubuhku pantas mengabdi. Tapi Tuhan, saat ini aku merasa bahwa tubuhku menginginkan pengabdian yang lain. Pengabdian duniawi. Menyerahkan diriku untuk ditelan habis oleh cahaya kemerah-merahan itu. Oleh kehangatan itu. Ya, oleh gadis senja itu. Tuhan ketika gadis itu hilang ditelan cakrawala bersamaan dengan matari, hamba seperti melihat Bunda Maria yang diangkat ke Surga dengan kudus. Maafkan hamba Tuhan, tak pantas rasanya hamba membuat perbandingan itu. Namun, itulah yang benar-benar hamba rasakan saat ini. Tolonglah hamba Tuhan\u201d.&nbsp; Makin hari perasaan itu semakin menguat. Benih perasaan itu telah menjadi subur oleh kehangatan yang mencuat dari kulit gadis senja itu. Dan sekarang benih itu telah berakar. Sebuah akar tunjang telah menancap pada relung hatinya paling dalam. Yang sebelumnya hanya ia perbolehkan Tuhan untuk menjamah tempat itu. Setelah pertama kali gadis itu datang, Markus selalu membuat coretan pada kalender di kamarnya. Coretan itu telah berjumlah 364. Telah 364 hari, Markus berada dalam kemasygulan. Siang itu ia sudah diambang batas. Markus coba menenangkan diri pergi ke taman di belakang biara. Walau kecil, namun taman itu terlihat asri dengan kembang dan kumbangnya. Ia duduk di tepian air mancur. Ia melongok ke air dan terlihatlah pantulan wajahnya. Markus baru tersadar, sudah lama tidak bercukur. Ketika sedang memperhatikan wajahnya yang telah lama tidak dipelihara, dari dalam kolam Markus melihat sebuah padma. Padma mekar yang telah ranum. Mungkin jantungnya berhenti untuk sesaat. Keringat dingin bercucuruan dari pori-pori di seluruh kulitnya. Padma itu, warnanya mengingatkan ia akan warna cahaya yang keluar dari kulit gadis itu. Seketika itu juga, luruhlah hatinya. Tak bisa lagi Markus tahan akar tunjang yang tumbuh terlalu cepat. Akar itu telah menerobos keluar dari hatinya. Tanpa pikir panjang, ia ambil padma itu. Sore telah jatuh. Markus berlari menuruni bukit tertinggi itu. Ia lari dengan tergopoh-gopoh. Seperti maling ayam yang dikejar warga. Sekarang ia telah sampai di pantai. Dimana pasir-pasir pada tiap sore setelah kedatangan gadis senja itu selalu mengerling seperti tumpukan perhiasan yang tumpah. Markus telah sampai pada bibir pantai ketika sore tiba-tiba kembali ke wujudnya yang semula. Sore yang coklat dan sedikit hangat. Markus masih menunggui gadis itu sampai tirai hitam telah menutupi seluruh langit. Remuk sudah pengharapannya. \u201cHei gadis, dimana kau. Kenapa kau tidak muncul. Aku sudah disini. Aku sudah disini sedari tadi. Kenapa kau belum muncul juga!\u201d. Kalap, Markus melepas sandalnya. Ia lari menerjang ombak malam hari, ia menerjangnya hingga hampir sampai ke tengah laut sebelum tubuhnya lebih dulu dilahap ombak malam itu. Kehabisan tenaga untuk berlari tadi, Markus membiarkan dirinya digulung ombak. Mungkin ini akhir baginya. Mungkin ia hanya memang digariskan untuk menjadi frater. &nbsp;&nbsp;&nbsp; Hingga ketika matanya hampir mengatup, Markus merasakan kehangatan yang sama lagi. Dari bagian matanya yang masih sedikit membuka, Markus melihat seperti ada cahaya kemerah-merahan yang menghampirinya. Ya, itu dia. Gadis senja. Dengan lirih gadis itu berucap \u201cMulai sekarang kau akan melihatku pada tiap-tiap senja. Mulai sekarang senja akan selalu turun di pulau ini. Selamanya.\u201d Akhir kalimat itu membuat Markus tersadar. Ia mencoba&nbsp; membuka matanya. Sedikit pedas rasanya. Markus tersadar bahwa telah ada di bibir pantai dengan sekerumunan orang yang telah mengelilinginya. Ditangannya, Markus melihat padma itu masih ada. Padma dengan rona kemerah-merahan itu masih sama segarnya ketika ia ambil dari kolam. Ketika Markus bangun dan menengadahkan kepalanya ke langit di atas laut lepas, ternyata senja sedang turun dengan indah-indahnya.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-93","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=93"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/93\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=93"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=93"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=93"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}