{"id":86,"date":"2020-01-29T17:53:00","date_gmt":"2020-01-29T17:53:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=86"},"modified":"2020-01-29T17:53:00","modified_gmt":"2020-01-29T17:53:00","slug":"muter-muter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=86","title":{"rendered":"Muter-muter"},"content":{"rendered":"<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Oleh: Farras Pradana<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Editor: Donny Agustio<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhCtjVFsr2054tZzY2gcbEeqBPXf9QATJDP1mkbUlu0TPTNnd0_ZjGwKV3gFc2mVTXqY7g26iFKLWsMgY2HQ2ekcfe-L8aY5F9Yn3enUtGy-Uu1tBsreiMUNSTv5VNYD12LGn0sgejK0qe1\/s1600\/WhatsApp+Image+2020-01-31+at+16.12.12.jpeg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"266\" data-original-width=\"400\" height=\"265\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhCtjVFsr2054tZzY2gcbEeqBPXf9QATJDP1mkbUlu0TPTNnd0_ZjGwKV3gFc2mVTXqY7g26iFKLWsMgY2HQ2ekcfe-L8aY5F9Yn3enUtGy-Uu1tBsreiMUNSTv5VNYD12LGn0sgejK0qe1\/s400\/WhatsApp+Image+2020-01-31+at+16.12.12.jpeg\" width=\"400\" \/><\/a><\/div>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<\/div>\n<p><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Semua berawal dari saya dan berakhir dengan kelanjutan yang disebabkan oleh saya juga. Pada titik ini, saya memang mirip dengan Tuhan, tetapi saya bukan Tuhan. Meski Tuhan akan selalu hadir dalam kisah ini, dan dalam kisah hidupmu yang tak berhenti meski kamu mati. Namun, saya ingin memulai kisah ini dengan tidak mendadak, karena beberapa manusia, mungkin juga dirimu, tidak menyukai ketiba-tibaan. Saya akan memulai seperti seorang pencerita di istana sultan yang megah, yang setiap pilarnya dilapisi emas dan lantainya dari keramik kaca yang dingin karena di bawahnya mengalir sungai yang jernih. Jangan bayangkan ini surga, karena setelah Sulaiman, istana-istana seperti itu mudah didapati. Apalagi jika kamu seorang presiden. Bayangkan, saya berdiri di depan tahta yang diduduki sultan, istri-istrinya, anak-anaknya, menteri-menterinya, para panglimanya, dan sejumlah rakyat yang mendapatkan kehormatan diundang ke istana. Saya akan memulai dengan kata-kata legendaris yang sekarang sudah mulai ditinggalkan dan beralih kepada cara tiba-tiba yang membuat setiap orang memilih kabur.&nbsp;<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Pada suatu hari, lima tahun yang lalu, saya masih berada dalam toko elektronik yang dimiliki seorang keturunan Tionghoa. Saya tinggal di tempat itu kurang lebih selama dua bulan. Awalnya saya diproduksi di Negeri Ular, sebelum dikirim ke Negeri Tikus dengan kapal. Di kapal, di dalam tanker saya tidur diselimuti kain-kain sutra halus hasil buatan perempuan Negeri Ular. Saya tidak sendirian di dalam kotak persegi panjang yang menyekap saya itu. Saya bersama kawan-kawan saya yang berasal dari bermacam-macam tempat di Negeri Ular. Namun, kami memiliki satu kesamaan, yaitu kesamaan pikiran. Pikiran kami dibentuk untuk tujuan&nbsp; mengembalikan modal, dan sedikit banyak mengambil keuntungan. Agar jumlah seperti diri saya ini bisa ada di mana-mana, di berbagai penjuru dunia. Melalui tanker-tanker besi yang gelap dan panas tanpa bisa mengambil udara laut yang berhamburan di luar.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Suatu hari, dikarenakan jemu menunggu tiba di tempat tujuan, saya bertanya kepada Layar Datar Besar atau yang biasa kami dipanggil LDB. \u201cMenurutmu kapan kita sampai?\u201d, tanya saya begitu. Sedikit cahaya remang-remang dikeluarkan dari tubuhnya sehingga saya bisa sedikit melihat bentuknya.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cBesok kita sampai!\u201d, LDB menjawab dengan semangat.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cApa kau yakin? Kau kan sekarang tidak bisa melihat waktu?\u201d&nbsp;<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Saya memang penuh keraguan ketika perjalanan mengarungi samudera di dalam tanker ini dimulai.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cSaya sangat bisa melihat waktu karena waktu sudah diprogram di dalam diri saya ini.\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Mendengar jawabannya, saya terkagum-kagum dengan kemampuan LDB yang dapat mengetahui waktu. Sedangkan saya sendiri tidak tahu apa kemampuan saya. Selama perjalanan yang panjang dan membosankan itu, saya terus berpikir, apa kemampuan saya? Dan apa yang bisa saya lakukan ketika nanti sampai di negeri tujuan? Kedua pertanyaan itu menjadikan saya filsuf di dalam tengker. Saya sering dikira gila oleh kawan-kawan saya. Kadang saya juga dianggap individualis karena terlalu sering menyendiri di pojokan untuk merenung. Dikarenakan semakin lama semakin pusing, saya mengajak kawan-kawan untuk berdiskusi. Lantas, LDB mengungkapkan kemampuannya dan apa tujuannya di Negeri Tikus,<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cTujuan saya jelas, ialah untuk digunakan dan diperjualbelikan sebagai bagian dari tujuan pembuat kita.\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Semua yang ada mengangguk-angguk dan setuju soal tujuan kami diangkut di dalam tanker ini. Akan tetapi, tiba-tiba salah satu dari kami menyela,<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cAda hal lain yang menjadi tujuan kita,\u201d kata Pon.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Kami semua menatapnya, tetapi tidak berani bertanya lebih lanjut. Kami sungkan pada penghuni paling lama tanker ini.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cTujuan lain itu adalah alasan saya memilih tinggal di sini dan tidak melihat dunia luar,\u201d Pon melanjutkan dengan nada datar.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Setelah diskusi yang berakhir muram, saya kembali diliputi kebingungan. Saya masih belum tahu apa kemampuan saya. Butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan kemampuan saya yang sesungguhnya. Baru setelah tiba di toko elektronik milik seorang Tionghoa itu, saya menemukan kemampuan saya. Cara kerja saya dan manfaat saya selain dijualbelikan.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">*<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Saat di toko elektronik itu, saya bertemu dengan Jepret yang berasal dari Negeri Kucing. Katanya, ia berada di sini karena punya alasan yang sama dengan saya. Kalau sudah begitu saya jadi bingung. Jika Jepret yang bukan dari Negeri Ular punya alasan yang sama dengan saya, apakah sebenarnya tujuan kami selain dijualbelikan di Negeri Tikus ini? Apa tujuan pembuat kami sebenarnya?<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cMungkin saya tahu!\u201d, tiba-tiba Boombox bergabung dengan saya dan Jepret.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cMemangnya apa yang kamu tahu?\u201d, tanya Jepret. \u201cKamu kan baru tiga hari yang lalu di toko ini.\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cSaya memang masih baru, namun saya diprogram untuk menerima banyak informasi sehingga saya tahu apa saja yang telah terjadi.\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cBerarti kamu mata-mata dari Negeri Burung Hantu, ya?\u201d, tanya saya begitu penasaran.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cTidak seperti itu. Coba dengarkan.\u201d Boombox membuka mulutnya dan terdengar: barang elektronik impor membanjiri toko-toko di seantero negeri dengan harga jual yang lebih murah dibanding barang elektronik bikinan lokal. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan perekonomian negeri kita yang terlilit hutang. Apalagi dengan panasnya kondisi masyarakat sekarang yang mulai berani menjarah. Dikhawatirkan akan terjadi kekacauan besar yang dapat menghancurkan negeri ini. Sekian berita yang dapat kami sampaikan.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Saya terdiam. Tahu apa maksud dari semuanya.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cBagian terakhir tadi,\u201d kata Jepret. \u201cTujuan kita selama ini.\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">*<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Kejadiannya sangatlah sederhana dan tidak terlalu susah untuk diceritakan. Apalagi untuk dipahami dan ditelusuri. Rasa-rasanya sungguh tidak perlu. Semuanya sudah terjadi dan menikmati hasilnya sendiri-sendiri. Saya tahu dengan persis apa yang dapat kamu ambil dari peristiwa yang terjadi ini.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Pertama-tama, toko elektronik yang tertutup dan gelap dibuka dengan suara yang keras. Hal itu membuat saya terbangun. Padahal saya sedang bermimpi indah tentang seseorang yang sedang mandi di kali. Beberapa orang masuk, mengambil apa saja yang mereka butuhkan. Biasanya kalau orang-orang datang, pemilik toko akan melayani dengan ramah. Akan tetapi kali ini, si pemilik toko hilang entah ke mana. Mungkin ia sengaja membagikan isi tokonya, termasuk saya. Saya pingsan karena dibawa dengan ngawur oleh seorang laki-laki. Begitulah sekelumit ingatan yang tersisa pada bagian itu untuk merangkai cerita yang muter-muter ini.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">*<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Saya terbangun, tetapi akan lebih tepat jika dikatakan \u201csaya menyala\u201d. Ya, saya menyala ketika sedang diuji coba oleh yang membawa saya kabur dari toko elektronik milik Tionghoa itu. Semoga si Tionghoa itu mendapat rezeki lebih setelah membagi-bagikan dagangannya.&nbsp;<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Saya berguna karena saya berputar. Saya berputar karena tersambung dengan listrik. Saya menyejukan ruangan di sekitar tempat saya berdiri. Saya adalah entitas yang melihat semuanya, dengan putaran yang memandang ke segala arah. Saya dengar dan rasakan percakapan gemilang seorang yang mengambil saya dengan saya.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cWah, kipas ini memang benar-benar dibutuhkan\u201d, katanya pada saya sambil memencet angka satu yang berarti menambah kencang putaran saya.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cSaya yang harusnya berterima kasih kepada saudara karena telah menggunakan saya\u201d, jawab saya dengan penuh sopan santun.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cTapi seharusnya saya ambil AC saja. AC pasti lebih dingin daripada cuma kipas\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cApa kamu merasa saya terbatas?\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cLagi pula ini kipas dinding, bukan kipas yang gampang untuk dipindah-pindah.\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Apa ia tidak mendengar saya?&nbsp;<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cSudah menjarah, salah jarah barang pula. Astaga!!\u201d, keluhnya sambil memukuli saya.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Rasanya tidak terlalu sakit. Cuma perlakuannya saja yang menyebalkan.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cLebih baik saya keluar lagi, cari barang lagi\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cTerus saya bagaimana?\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cBiar tidak terlalu memberatkan saya, lebih baik kipas ini kusumbangkan ke masjid saja. Hitung-hitung penebusan dosa.\u201d Sambil memutus saya dari arus listrik, laki-laki itu tertawa cekikikan.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">*<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Saya tertidur karena lelah. Entah mengapa saya mudah sekali tertidur ketika tidak tersambung dengan listrik. Mungkin ini efek kecanduan dari listrik. Jika pernah menggunakannya sekali, maka ingin rasanya terus tersambung.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Sedikit remang-remang, saya perhatikan kondisi di sekitar saya. Di bawah sana, lantai keramik terhampar. Di bawah sana, artinya saya tergantung. Sesuai kodrat diciptakannya saya. Memang, saya tidak boleh melawan kodrat seenaknya. Jika saya melawan, kemungkinan yang terjadi hanyalah kesia-siaan. Saya tidak akan menjadi berguna. Apalah daya barang seperti saya ini. Sudah dimanfaatkan sejak awal, tidak boleh punya kehendak bebas pula. Saya sudah diatur sedemikian rupa untuk menurut.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Diam, dan saya tidak dinyalakan. Hanya saja saya tersambung dengan arus listrik. Makanan yang sekarang harus saya konsumsi setiap harinya agar saya tidak mudah lemas.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Beberapa waktu tergantung di tempat seperti ini rasanya sungguh membosankan. Tidak ada yang bisa diajak bicara. Beberapa kawan yang seharusnya bisa saya ajak bercakap-cakap berada dalam posisi yang jauh. Jadi pasti suara saya tidak bisa mereka dengar. Sekarang, cuma pikiran dan pandangan saya yang dapat berputar-putar. Mengelilingi ruangan yang memiliki gambaran indah di bagian dinding serupa lukisan Negeri Ular yang pernah saya lihat dulu. Namun, memikirkan apa saja yang ada di sekitar saya dalam waktu yang cukup lama membuat saya jatuh tertidur.&nbsp;<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cHa?!\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Tetiba saya terperanjat. Ada dua hal yang membuat saya merasakan itu. Pertama, saya terbangun dari tidur lelap saya karena mendengar suara benda berat dipukul-pukul. Kedua, saya terbangun dan melihat apa yang ada di bawah saya terasa jauh sekali. Padahal sebelumnya saya sudah tahu, saya berada dalam posisi tergantung. Namun belum berakhir rasa kaget itu, mendadak saya berputar. Berputar di titik yang paling maksimal. Rasanya saya pengen mengeluarkan semua kotoran saya karena tidak kuat lagi.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Lalu saya lihat di bawah sana, kawan saya Mico diketuk-ketuk dengan jari oleh seorang laki-laki. Laki-laki itu kemudian berbicara dan suaranya tersalurkan melalui Oa yang ada di atap bangunan ini, atau masjid (saya baru ingat orang yang membawa saya beberapa hari yang lalu berkata bahwa ia akan memberikan saya ke masjid. Ya, masjid. Sekarang saya berada di tempat yang disebut masjid). Saya tahu, suara keras yang sama, yang dibunyikan oleh laki-laki di bawah sana keluar dari Oa. Karena Mico dan Oa adalah pasangan serasi sepanjang kegunaannya. Saya tiba-tiba menjadi iri. Meski Mico dan Oa terpisah ruang, keduanya berada dalam satu kesatuan, sedangkan saya?<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Mendadak, secara pelan-pelan terbentuk barisan di bawah sana. Pada barisan itu, terdapat dua bagian yang terpisah. Di bagian dekat Oa, barisan lelaki dan di belakangnya, tepat di bawah saya, barisan perempuan. Tentu saja saya dapat membedakan laki-laki dan perempuan! Perbedaan mereka sangat mencolok dan tambah mudah dikenali pasa saat-saat yang begini. Perempuan mengikuti gerakan laki-laki yang berdiri sendirian di depan. Saya membuat mereka nyaman dan tentram dalam melakukan gerakan-gerakannya itu dengan gerakan saya. Saya memang sudah ditugaskan untuk yang begini dan saya tidak bisa melawan. Meski saya ingin melakukan yang lebih agar saya lebih bermanfaat dan tidak terlalu dikekang buku panduan penggunaan saya, saat awal dibuat.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">*<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Malam itu, saya benar-benar lelah karena seharian penuh berputar-putar tiada henti. Tempat ini, maksud saya masjid, telah dilangsungkan sebuah acara yang dihadiri banyak orang. Entah apa namanya, namun yang paling mengesalkan dari acara itu adalah saya tidak beristirahat sama sekali. Saya diputar sepanjang acara dari siang hingga malam hari. Bahkan sekarang, pandangan saya sedikit begitu agak kacau. Namun sialnya, ketika saya mencoba terlelap tidur, tiba-tiba saya diputar lagi oleh seseorang.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cTuru sik.\u201d Dua orang laki-laki sudah dalam posisi terlentang di bawah saya.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cMasih enggak?\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cHabis tadi keteguk\u201d, salah seorang yang memegang botol menjawab. \u201cIni botolnya kalau mau.\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cJingan. Gak disisain!\u201d Orang yang berada dalam posisi duduk menjawab dengan nada keras.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cWoy, apa kalian bisa memberi saya waktu untuk tidur?!\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201c\u2026\u201d<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Dua manusia itu ambruk semua. Keduanya tak bergerak sama sekali seperti binatang yang sudah jadi bangkai. Sialnya, mereka lupa menghentikan putaran saya. Untuk apa saya berputar-putar terus tanpa ada manfaatnya. Angin malam yang menerobos jendela dan dinginnya lantai keramik harusnya cukup membuat mereka tidak kepanasan. Atau ini karena kebebalan mereka. Dasar! Membuat saya tidak bisa tidur saja sepanjang malam.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cTangi-tangi!\u201d&nbsp;<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Suara itu membangunkan saya dari lelap yang lamat-lamat. Saya benar-benar kehilangan energi untuk berada dalam posisi sadar. Perputaran saya ini hanya diakibatkan oleh listrik yang masih tersalur ke dalam diri saya.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cIni apa, ini?!\u201d Dari penglihatan yang sekecil baut, saya lihat seorang yang mengenakan penutup kepala berwarna putih menendang-nendang dua laki-laki yang tidur di bawahku sejak semalam.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Kedua laki-laki itu terbangun dengan cara yang sangat nikmat. Mereka tidak terganggu sama sekali dengan suara yang menyentak-nyentak. Namun, hal itulah yang saya rasa membangkitkan amarah laki-laki berpenutup kepala putih itu. Ia memukuli kedua laki-laki itu dengan botol kaca yang tergeletak di bawah sana.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">\u201cPergi sana, anjing. Mengotori tempat Tuhan saja!\u201d Ia berhasil mengusir dua laki-laki yang telah dianggapnya mengotori masjid. Saya lihat ia membaui botol kaca yang digenggamnya. \u201cArak. Benar-benar mabok, anjing-anjing itu!\u201d, gerutunya. Ia akhirnya menyadari gerakan saya dan menghentikan laju saya. Saya ucapkan terima kasih untuk laki-laki itu. Dan biarkan saya istirahat, terlelap.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Rasanya tubuh saya dihancurkan oleh sebuah mesin daur ulang. Semua kerangka yang menyusun diri saya remuk. Pelan-pelan pandangan saya mulai terbuka. Dan apa yang saya katakan tentang, \u201csemua berawal dari saya dan berakhir karena saya\u201d telah terjadi. Bukan lima tahun yang lalu dan ini bukan lima tahun yang telah terjadi. Ini, pada suatu hari yang biasa, saya berputar memandangi seluruh ruangan yang terisi manusia. Mereka masih melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan di hari-hari yang lalu. Namun, saya berada di atas kepala seorang perempuan yang jatuh tergeletak. Ia sendirian dalam posisi tidur, yang lain tidak. Ia terkapar tanpa ada pergerakan sedikitpun. Saya sendiri perlahan-lahan mulai kehilangan pandang. Saya tidak mendapat asupan energi listrik lagi. Dan perempuan ini tetap tidak bangkit, sementara orang-orang yang ada di sekitarnya tetap bergerak naik-turun. Saya kehilangan rasa, dan saya akan mengalami banyak hal selama lima tahun yang akan datang. Sampai pada suatu hari saya benar-benar dihancurkan, lalu saya didaur ulang dan hidup kembali untuk menceritakan kisah ini pada kamu sekalian.<\/span><\/div>\n<div>\n<span style=\"font-family: inherit; white-space: pre;\"> <\/span><br \/>\n<i><span style=\"font-family: inherit;\">*Tulisan ini dipersembahkan untuk Ahmad Effendi<\/span><\/i><\/div>\n<div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Farras Pradana Editor: Donny Agustio Semua berawal dari saya dan berakhir dengan kelanjutan yang disebabkan oleh saya juga. Pada titik ini, saya memang mirip dengan Tuhan, tetapi saya bukan Tuhan. Meski Tuhan akan selalu hadir dalam kisah ini, dan dalam kisah hidupmu yang tak berhenti meski kamu mati. Namun, saya ingin memulai kisah ini dengan tidak mendadak, karena beberapa manusia, mungkin juga dirimu, tidak menyukai ketiba-tibaan. Saya akan memulai seperti seorang pencerita di istana sultan yang megah, yang setiap pilarnya dilapisi emas dan lantainya dari keramik kaca yang dingin karena di bawahnya mengalir sungai yang jernih. Jangan bayangkan ini surga, karena setelah Sulaiman, istana-istana seperti itu mudah didapati. Apalagi jika kamu seorang presiden. Bayangkan, saya berdiri di depan tahta yang diduduki sultan, istri-istrinya, anak-anaknya, menteri-menterinya, para panglimanya, dan sejumlah rakyat yang mendapatkan kehormatan diundang ke istana. Saya akan memulai dengan kata-kata legendaris yang sekarang sudah mulai ditinggalkan dan beralih kepada cara tiba-tiba yang membuat setiap orang memilih kabur.&nbsp; Pada suatu hari, lima tahun yang lalu, saya masih berada dalam toko elektronik yang dimiliki seorang keturunan Tionghoa. Saya tinggal di tempat itu kurang lebih selama dua bulan. Awalnya saya diproduksi di Negeri Ular, sebelum dikirim ke Negeri Tikus dengan kapal. Di kapal, di dalam tanker saya tidur diselimuti kain-kain sutra halus hasil buatan perempuan Negeri Ular. Saya tidak sendirian di dalam kotak persegi panjang yang menyekap saya itu. Saya bersama kawan-kawan saya yang berasal dari bermacam-macam tempat di Negeri Ular. Namun, kami memiliki satu kesamaan, yaitu kesamaan pikiran. Pikiran kami dibentuk untuk tujuan&nbsp; mengembalikan modal, dan sedikit banyak mengambil keuntungan. Agar jumlah seperti diri saya ini bisa ada di mana-mana, di berbagai penjuru dunia. Melalui tanker-tanker besi yang gelap dan panas tanpa bisa mengambil udara laut yang berhamburan di luar. Suatu hari, dikarenakan jemu menunggu tiba di tempat tujuan, saya bertanya kepada Layar Datar Besar atau yang biasa kami dipanggil LDB. \u201cMenurutmu kapan kita sampai?\u201d, tanya saya begitu. Sedikit cahaya remang-remang dikeluarkan dari tubuhnya sehingga saya bisa sedikit melihat bentuknya. \u201cBesok kita sampai!\u201d, LDB menjawab dengan semangat. \u201cApa kau yakin? Kau kan sekarang tidak bisa melihat waktu?\u201d&nbsp; Saya memang penuh keraguan ketika perjalanan mengarungi samudera di dalam tanker ini dimulai. \u201cSaya sangat bisa melihat waktu karena waktu sudah diprogram di dalam diri saya ini.\u201d Mendengar jawabannya, saya terkagum-kagum dengan kemampuan LDB yang dapat mengetahui waktu. Sedangkan saya sendiri tidak tahu apa kemampuan saya. Selama perjalanan yang panjang dan membosankan itu, saya terus berpikir, apa kemampuan saya? Dan apa yang bisa saya lakukan ketika nanti sampai di negeri tujuan? Kedua pertanyaan itu menjadikan saya filsuf di dalam tengker. Saya sering dikira gila oleh kawan-kawan saya. Kadang saya juga dianggap individualis karena terlalu sering menyendiri di pojokan untuk merenung. Dikarenakan semakin lama semakin pusing, saya mengajak kawan-kawan untuk berdiskusi. Lantas, LDB mengungkapkan kemampuannya dan apa tujuannya di Negeri Tikus, \u201cTujuan saya jelas, ialah untuk digunakan dan diperjualbelikan sebagai bagian dari tujuan pembuat kita.\u201d Semua yang ada mengangguk-angguk dan setuju soal tujuan kami diangkut di dalam tanker ini. Akan tetapi, tiba-tiba salah satu dari kami menyela, \u201cAda hal lain yang menjadi tujuan kita,\u201d kata Pon. Kami semua menatapnya, tetapi tidak berani bertanya lebih lanjut. Kami sungkan pada penghuni paling lama tanker ini. \u201cTujuan lain itu adalah alasan saya memilih tinggal di sini dan tidak melihat dunia luar,\u201d Pon melanjutkan dengan nada datar. Setelah diskusi yang berakhir muram, saya kembali diliputi kebingungan. Saya masih belum tahu apa kemampuan saya. Butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan kemampuan saya yang sesungguhnya. Baru setelah tiba di toko elektronik milik seorang Tionghoa itu, saya menemukan kemampuan saya. Cara kerja saya dan manfaat saya selain dijualbelikan. * Saat di toko elektronik itu, saya bertemu dengan Jepret yang berasal dari Negeri Kucing. Katanya, ia berada di sini karena punya alasan yang sama dengan saya. Kalau sudah begitu saya jadi bingung. Jika Jepret yang bukan dari Negeri Ular punya alasan yang sama dengan saya, apakah sebenarnya tujuan kami selain dijualbelikan di Negeri Tikus ini? Apa tujuan pembuat kami sebenarnya? \u201cMungkin saya tahu!\u201d, tiba-tiba Boombox bergabung dengan saya dan Jepret. \u201cMemangnya apa yang kamu tahu?\u201d, tanya Jepret. \u201cKamu kan baru tiga hari yang lalu di toko ini.\u201d \u201cSaya memang masih baru, namun saya diprogram untuk menerima banyak informasi sehingga saya tahu apa saja yang telah terjadi.\u201d \u201cBerarti kamu mata-mata dari Negeri Burung Hantu, ya?\u201d, tanya saya begitu penasaran. \u201cTidak seperti itu. Coba dengarkan.\u201d Boombox membuka mulutnya dan terdengar: barang elektronik impor membanjiri toko-toko di seantero negeri dengan harga jual yang lebih murah dibanding barang elektronik bikinan lokal. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan perekonomian negeri kita yang terlilit hutang. Apalagi dengan panasnya kondisi masyarakat sekarang yang mulai berani menjarah. Dikhawatirkan akan terjadi kekacauan besar yang dapat menghancurkan negeri ini. Sekian berita yang dapat kami sampaikan. Saya terdiam. Tahu apa maksud dari semuanya. \u201cBagian terakhir tadi,\u201d kata Jepret. \u201cTujuan kita selama ini.\u201d * Kejadiannya sangatlah sederhana dan tidak terlalu susah untuk diceritakan. Apalagi untuk dipahami dan ditelusuri. Rasa-rasanya sungguh tidak perlu. Semuanya sudah terjadi dan menikmati hasilnya sendiri-sendiri. Saya tahu dengan persis apa yang dapat kamu ambil dari peristiwa yang terjadi ini. Pertama-tama, toko elektronik yang tertutup dan gelap dibuka dengan suara yang keras. Hal itu membuat saya terbangun. Padahal saya sedang bermimpi indah tentang seseorang yang sedang mandi di kali. Beberapa orang masuk, mengambil apa saja yang mereka butuhkan. Biasanya kalau orang-orang datang, pemilik toko akan melayani dengan ramah. Akan tetapi kali ini, si pemilik toko hilang entah ke mana. Mungkin ia sengaja membagikan isi tokonya, termasuk saya. Saya pingsan karena dibawa dengan ngawur oleh seorang laki-laki. Begitulah sekelumit ingatan yang tersisa pada bagian itu untuk merangkai cerita yang muter-muter ini. * Saya terbangun, tetapi akan lebih tepat jika dikatakan \u201csaya menyala\u201d. Ya, saya menyala ketika sedang diuji coba oleh yang membawa saya kabur dari toko elektronik milik Tionghoa itu. Semoga si Tionghoa itu mendapat rezeki lebih setelah membagi-bagikan dagangannya.&nbsp; Saya berguna karena saya berputar. Saya berputar karena tersambung dengan listrik. Saya menyejukan ruangan di sekitar tempat saya berdiri. Saya adalah entitas yang melihat semuanya, dengan putaran yang memandang ke segala arah. Saya dengar dan rasakan percakapan gemilang seorang yang mengambil saya dengan saya. \u201cWah, kipas ini memang benar-benar dibutuhkan\u201d, katanya pada saya sambil memencet angka satu yang berarti menambah kencang putaran saya. \u201cSaya yang harusnya berterima kasih kepada saudara karena telah menggunakan saya\u201d, jawab saya dengan penuh sopan santun. \u201cTapi seharusnya saya ambil AC saja. AC pasti lebih dingin daripada cuma kipas\u201d \u201cApa kamu merasa saya terbatas?\u201d \u201cLagi pula ini kipas dinding, bukan kipas yang gampang untuk dipindah-pindah.\u201d Apa ia tidak mendengar saya?&nbsp; \u201cSudah menjarah, salah jarah barang pula. Astaga!!\u201d, keluhnya sambil memukuli saya. Rasanya tidak terlalu sakit. Cuma perlakuannya saja yang menyebalkan. \u201cLebih baik saya keluar lagi, cari barang lagi\u201d \u201cTerus saya bagaimana?\u201d \u201cBiar tidak terlalu memberatkan saya, lebih baik kipas ini kusumbangkan ke masjid saja. Hitung-hitung penebusan dosa.\u201d Sambil memutus saya dari arus listrik, laki-laki itu tertawa cekikikan. * Saya tertidur karena lelah. Entah mengapa saya mudah sekali tertidur ketika tidak tersambung dengan listrik. Mungkin ini efek kecanduan dari listrik. Jika pernah menggunakannya sekali, maka ingin rasanya terus tersambung. Sedikit remang-remang, saya perhatikan kondisi di sekitar saya. Di bawah sana, lantai keramik terhampar. Di bawah sana, artinya saya tergantung. Sesuai kodrat diciptakannya saya. Memang, saya tidak boleh melawan kodrat seenaknya. Jika saya melawan, kemungkinan yang terjadi hanyalah kesia-siaan. Saya tidak akan menjadi berguna. Apalah daya barang seperti saya ini. Sudah dimanfaatkan sejak awal, tidak boleh punya kehendak bebas pula. Saya sudah diatur sedemikian rupa untuk menurut. Diam, dan saya tidak dinyalakan. Hanya saja saya tersambung dengan arus listrik. Makanan yang sekarang harus saya konsumsi setiap harinya agar saya tidak mudah lemas. Beberapa waktu tergantung di tempat seperti ini rasanya sungguh membosankan. Tidak ada yang bisa diajak bicara. Beberapa kawan yang seharusnya bisa saya ajak bercakap-cakap berada dalam posisi yang jauh. Jadi pasti suara saya tidak bisa mereka dengar. Sekarang, cuma pikiran dan pandangan saya yang dapat berputar-putar. Mengelilingi ruangan yang memiliki gambaran indah di bagian dinding serupa lukisan Negeri Ular yang pernah saya lihat dulu. Namun, memikirkan apa saja yang ada di sekitar saya dalam waktu yang cukup lama membuat saya jatuh tertidur.&nbsp; \u201cHa?!\u201d Tetiba saya terperanjat. Ada dua hal yang membuat saya merasakan itu. Pertama, saya terbangun dari tidur lelap saya karena mendengar suara benda berat dipukul-pukul. Kedua, saya terbangun dan melihat apa yang ada di bawah saya terasa jauh sekali. Padahal sebelumnya saya sudah tahu, saya berada dalam posisi tergantung. Namun belum berakhir rasa kaget itu, mendadak saya berputar. Berputar di titik yang paling maksimal. Rasanya saya pengen mengeluarkan semua kotoran saya karena tidak kuat lagi. Lalu saya lihat di bawah sana, kawan saya Mico diketuk-ketuk dengan jari oleh seorang laki-laki. Laki-laki itu kemudian berbicara dan suaranya tersalurkan melalui Oa yang ada di atap bangunan ini, atau masjid (saya baru ingat orang yang membawa saya beberapa hari yang lalu berkata bahwa ia akan memberikan saya ke masjid. Ya, masjid. Sekarang saya berada di tempat yang disebut masjid). Saya tahu, suara keras yang sama, yang dibunyikan oleh laki-laki di bawah sana keluar dari Oa. Karena Mico dan Oa adalah pasangan serasi sepanjang kegunaannya. Saya tiba-tiba menjadi iri. Meski Mico dan Oa terpisah ruang, keduanya berada dalam satu kesatuan, sedangkan saya? Mendadak, secara pelan-pelan terbentuk barisan di bawah sana. Pada barisan itu, terdapat dua bagian yang terpisah. Di bagian dekat Oa, barisan lelaki dan di belakangnya, tepat di bawah saya, barisan perempuan. Tentu saja saya dapat membedakan laki-laki dan perempuan! Perbedaan mereka sangat mencolok dan tambah mudah dikenali pasa saat-saat yang begini. Perempuan mengikuti gerakan laki-laki yang berdiri sendirian di depan. Saya membuat mereka nyaman dan tentram dalam melakukan gerakan-gerakannya itu dengan gerakan saya. Saya memang sudah ditugaskan untuk yang begini dan saya tidak bisa melawan. Meski saya ingin melakukan yang lebih agar saya lebih bermanfaat dan tidak terlalu dikekang buku panduan penggunaan saya, saat awal dibuat. * Malam itu, saya benar-benar lelah karena seharian penuh berputar-putar tiada henti. Tempat ini, maksud saya masjid, telah dilangsungkan sebuah acara yang dihadiri banyak orang. Entah apa namanya, namun yang paling mengesalkan dari acara itu adalah saya tidak beristirahat sama sekali. Saya diputar sepanjang acara dari siang hingga malam hari. Bahkan sekarang, pandangan saya sedikit begitu agak kacau. Namun sialnya, ketika saya mencoba terlelap tidur, tiba-tiba saya diputar lagi oleh seseorang. \u201cTuru sik.\u201d Dua orang laki-laki sudah dalam posisi terlentang di bawah saya. \u201cMasih enggak?\u201d \u201cHabis tadi keteguk\u201d, salah seorang yang memegang botol menjawab. \u201cIni botolnya kalau mau.\u201d \u201cJingan. Gak disisain!\u201d Orang yang berada dalam posisi duduk menjawab dengan nada keras. \u201cWoy, apa kalian bisa memberi saya waktu untuk tidur?!\u201d \u201c\u2026\u201d Dua manusia itu ambruk semua. Keduanya tak bergerak sama sekali seperti binatang yang sudah jadi bangkai. Sialnya, mereka lupa menghentikan putaran saya. Untuk apa saya berputar-putar terus tanpa ada manfaatnya. Angin malam yang menerobos jendela dan dinginnya lantai keramik harusnya cukup membuat mereka tidak kepanasan. Atau ini karena kebebalan mereka. Dasar! Membuat saya tidak bisa tidur saja sepanjang malam. \u201cTangi-tangi!\u201d&nbsp; Suara itu membangunkan saya dari lelap yang lamat-lamat. Saya benar-benar kehilangan energi untuk berada dalam posisi sadar. Perputaran saya ini hanya diakibatkan oleh listrik yang masih tersalur ke dalam diri saya. \u201cIni apa, ini?!\u201d Dari penglihatan yang sekecil baut, saya lihat seorang yang mengenakan penutup kepala berwarna putih menendang-nendang dua laki-laki yang tidur di bawahku sejak semalam. Kedua laki-laki itu terbangun dengan cara yang sangat nikmat. Mereka tidak terganggu sama sekali dengan suara yang menyentak-nyentak. Namun, hal itulah yang saya rasa membangkitkan amarah laki-laki berpenutup kepala putih itu. Ia memukuli kedua laki-laki itu dengan botol kaca yang tergeletak di bawah sana. \u201cPergi sana, anjing. Mengotori tempat Tuhan saja!\u201d Ia berhasil mengusir dua laki-laki yang telah dianggapnya mengotori masjid. Saya lihat ia membaui botol kaca yang digenggamnya. \u201cArak. Benar-benar mabok, anjing-anjing itu!\u201d, gerutunya. Ia akhirnya menyadari gerakan saya dan menghentikan laju saya. Saya ucapkan terima kasih untuk laki-laki itu. Dan biarkan saya istirahat, terlelap. Rasanya tubuh saya dihancurkan oleh sebuah mesin daur ulang. Semua kerangka yang menyusun diri saya remuk. Pelan-pelan pandangan saya mulai terbuka. Dan apa yang saya katakan tentang, \u201csemua berawal dari saya dan berakhir karena saya\u201d telah terjadi. Bukan lima&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-86","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=86"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=86"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=86"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=86"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}