{"id":84,"date":"2020-01-31T09:31:00","date_gmt":"2020-01-31T09:31:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=84"},"modified":"2020-01-31T09:31:00","modified_gmt":"2020-01-31T09:31:00","slug":"akulturasi-budaya-pada-bangunan-masjid-gedhe-mataram-kotagede","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=84","title":{"rendered":"Akulturasi Budaya Pada Bangunan Masjid Gedhe Mataram Kotagede"},"content":{"rendered":"<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjM26_vJK58hbIz7Wt1JBkZnDXjLBuCnSsNgQnoJ2Nu7i0yxw26Z_RCz-i4Tx63q7N20etC-JWVzm79_M-5mqwylx9NFZ6jB8cYjELWvz0TVjzPhDAkDWOqU5dMuaZR1qLuOEGl5ivmGm5O\/s1600\/WhatsApp+Image+2020-01-31+at+16.21.41.jpeg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"375\" data-original-width=\"500\" height=\"300\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjM26_vJK58hbIz7Wt1JBkZnDXjLBuCnSsNgQnoJ2Nu7i0yxw26Z_RCz-i4Tx63q7N20etC-JWVzm79_M-5mqwylx9NFZ6jB8cYjELWvz0TVjzPhDAkDWOqU5dMuaZR1qLuOEGl5ivmGm5O\/s400\/WhatsApp+Image+2020-01-31+at+16.21.41.jpeg\" width=\"400\" \/><\/a><\/div>\n<p><span style=\"font-family: inherit;\"><span style=\"text-align: justify;\"><br \/><\/span><\/span><br \/>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><span style=\"text-align: justify;\">Masjid Gedhe Mataram merupakan masjid tertua<br \/>\ndi Yogyakarta, yang dibangun oleh Sultan Agung pada tahun 1640 M. Pembangunan<br \/>\nmasjid dilakukan secara bergotong royong dengan masyarakat sekitar yang umumnya<br \/>\nmasih memeluk agama Hindu dan Buddha. Masjid Gedhe Mataram sendiri berada di<br \/>\nkompleks pemakaman raja-raja Mataram yang beralamatkan di Dusun Sayangan,<br \/>\nKecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Pada bagian depan kompleks masjid, terdapat<br \/>\nsebuah prasasti berbentuk bujur sangkar yang di atasnya terdapat lambang<br \/>\nKasunanan Surakarta Agung. Ihwal tersebut menunjukan keterlibatan Kasunanan<br \/>\nSurakarta pada tahap kedua pembangunan Masjid Gedhe Mataram, yang dalam hal ini<br \/>\nPaku Buwono X. Perbedaan bangunan yang didirikan oleh Sultan Agung dan Paku Buwono<br \/>\nX adalah pada tiang masjid yang dibangun oleh Sultan Agung berasal dari kayu,<br \/>\nsedangkan Paku Buwono X memakai besi. Secara keseluruhan, bangunan masjid yang<br \/>\nberbentuk limasan terbagi menjadi dua bagian, yaitu inti dan serambi.<\/span><\/span><\/p>\n<div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<b><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Ulasan Bagian Bangsal Masjid Gedhe Mataram<br \/>\nKotagede<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Di balik seketeng adalah halaman masjid. Dari<br \/>\nhalaman masjid ke arah lurus dan kanan, terdapat bangunan masjid. Kemudian,<br \/>\njikalau menuju ke arah kiri, terdapat kompleks makam dan sendang\/kolam. Pada<br \/>\nhalaman masjid ini berdiri dua buah bangunan Bangsal Pacaosan, yang ada di<br \/>\nsebelah kanan dan kiri halaman. Bangunan Pacaosan berdenah segi empat. Tinggi<br \/>\nlantai 20 cm dari level tanah halaman. Bangsal ini merupakan bangunan terbuka,<br \/>\ntanpa dinding dengan atap berbentuk limasan. Atap disangga oleh kolom kayu<br \/>\nberjumlah enam buah. Pada bagian halaman masjid, juga berdiri bangunan tugu<br \/>\nyang berfungsi sebagai tempat jam\/penunjuk waktu salat. Pada puncak tugu, dihiasi<br \/>\ndengan hiasan berbentuk kupluk\/peci raja. Hal ini menunjukkan bahwa bangunan<br \/>\nmasjid adalah bangunan milik kerajaan.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><span style=\"color: black; line-height: 150%;\">Pada bagian ini, b<\/span><span style=\"color: black; line-height: 150%;\">udaya Jawa <\/span><span style=\"color: black; line-height: 150%;\">sangat melekat <\/span><span style=\"color: black; line-height: 150%;\">pada tata ruang. Dimulai dari ruang luar yang<br \/>\nmenyerupai alun-alun dengan pohon beringinnya, bangunan Pacaosan sebagai<br \/>\nbangunan perantara atau tempat menunggu untuk berkegiatan di Masjid. Menurut<br \/>\ntata ruang Jawa, bangunan Pacaosan digunakan sebagai tempat tunggu, sebelum<br \/>\nmasuk ke ruang raja.<b><o:p><\/o:p><\/b><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<b><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Ulasan Bagian Gapura Masjid Gedhe Mataram<br \/>\nKotagede<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><span style=\"color: black; line-height: 150%;\">Tata ruang masjid terbagi atas ruang luar dan<br \/>\nruang dalam. Tata ruang luar terdiri dari pagar pembatas. Pagar pembatas adalah<br \/>\ndinding yang mirip dengan dinding bangunan candi Hindu (Uwarna, 1987). Pada<br \/>\nbagian dalam dinding terdapat jagang\/kolam keliling. Jagang mengelilingi<br \/>\nkompleks masjid dan juga ada di sekeliling emper bangunan masjid. Makna jagang<br \/>\ndi sekeliling dinding pagar ialah sebagai benteng keamanan (Setyowati, 2007). Akan<br \/>\ntetapi, untuk jagang di sekeliling bangunan masjid digunakan sebagai sarana<br \/>\nmembersihkan kaki sebelum masuk ke masjid. Dinding pagar keliling memiliki tiga<br \/>\nbuah gapura sebagai pintu masuk. Gapura-gapura ini berbentuk paduraksa, semacam<br \/>\ngapura pada candi.<\/span><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"> <span style=\"background: white;\">Persis di<br \/>\nbagian depan gapura, akan ditemui sebuah tembok berbentuk huruf \u201cL\u201d<\/span>. <span style=\"background: white;\">Pada tembok tersebut, juga terpahat beberapa gambar<br \/>\nyang merupakan lambang kerajaan<\/span>. Bentuk paduraksa dan huruf \u201cL\u201d tersebut<br \/>\nmerupakan bentuk toleransi Sultan Agung pada warga Hindu dan Buddha yang ikut<br \/>\nbergotong royong membangun masjid<\/span><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<b><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Ulasan Bagian Pagar Bata Masjid Gedhe Mataram<br \/>\nKotagede<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"background: white; line-height: 150%; margin-bottom: 7.5pt; text-align: left;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Selain pada sisi dalam masjid, keunikan arsitektur<br \/>\nMasjid Gedhe Mataram juga terdapat pada sisi halaman luar masjid alias area<br \/>\npekarangan. Pada sisi kiri halaman, akan ditemui pagar tinggi yang terbuat dari<br \/>\nbatu bata besar. Pagar tersebut merupakan pagar utama yang dibangun pada masa<br \/>\nSultan Agung dan merupakan bangunan asli dari Masjid Gedhe Mataram. Konon, perlekatan<br \/>\ndari batu bata ini menggunakan gula aren. Pagar ini dihiasi batuan marmer yang<br \/>\nberukir aksara jawa dan menjadi ciri khas lain dari Masjid Gedhe Mataram. Kemudian<br \/>\npada sisi kanan halaman, terdapat pagar dengan ukuran batu bata lebih kecil dan<br \/>\nwarna yang lebih pucat. Pagar tersebut merupakan hasil pembangunan kedua<br \/>\noleh&nbsp;Pakubuwono X. Pagar dengan batu bata kecil ini lebih mendominasi keseluruhan<br \/>\nbagian pagar, yang diakhiri dengan pintu gerbang cantik&nbsp;berarsitekturkan<br \/>\nJawa kuno, paduraksa. Sebuah konsep arsitektur khas budaya Hindu.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<b><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<b><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Ulasan Bagian Saka\/Tiang Masjid Gedhe Mataram<br \/>\nKotagede<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Saka merupakan sebutan untuk tiang penyangga<br \/>\ndari Masjid Gedhe Mataram. Saka sendiri berfungsi sebagai penyangga bangunan<br \/>\nserambi masjid dengan atap limasan. Sambungan antara atap <i style=\"mso-bidi-font-style: normal;\">tajug lambang gantung<\/i> dengan atap limasan pada serambi menggunakan<br \/>\ntalang dari plat besi berbentuk cekung setengah bola. Teknik talang dengan<br \/>\nmaterial besi tersebut merupakan teknologi dari pertukangan Cina. Teknik<br \/>\nterebut juga digunakan pada bangunan Kuil Sam Go Kong di Semarang. Kolom pada<br \/>\nbangunan serambi disebut Soko Pengarep dan Soko Penanggap. Semua saka ditopang<br \/>\noleh pondasi umpak dari batu alam hitam tanpa ornamen. Bagian atas Soko Pengarep<br \/>\nditutup dengan papan yang penuh dengan ornamen kaligrafi. Tiang atau saka pada<br \/>\nMasjid Gedhe Mataram dikenal dengan istilah \u201csaka guru\u201d. Istilah tersebut<br \/>\ndiambil dari bahasa Sanskerta, yang mana \u201csaka\u201d berarti tiang dan \u201cguru\u201d<br \/>\nberarti utama. Jadi, saka guru merupakan tiang penyangga utama dari Masjid<br \/>\nGedhe Mataram. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saka guru merupakan<br \/>\nbagian dari unsur Jawa. <o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left; text-indent: 28.35pt;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<b><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<b><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Ulasan Bagian Kolam Masjid Gedhe Mataram Kotagede<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Pada area Masjid Gedhe Mataram, terdapat<br \/>\nsebuah jagang atau kolam yang berbentuk menyerupai parit dan mengelilingi<br \/>\nmasjid. Pada awalnya, jagang tersebut terhubung dengan sendang yang berada di<br \/>\nsebelah selatan masjid. Namun, terkait dengan masalah perairan di area masjid,<br \/>\nmaka jalan air yang menghubungkan kolam dengan sendang diputus sehingga jagang<br \/>\nberdiri sendiri mengelilingi masjid. Jagang juga pada awalnya digunakan sebagai<br \/>\nmedia berwudu, membersihkan kotoran sebelum memasuki masjid. Jagang mengandung<br \/>\nfilosofi bahwa sebelum memasuki masjid, hendaknya seseorang menghilangkan sifat<br \/>\nangkaranya terlebih dahulu. Lamun seiring dengan berjalannya waktu, atas dasar<br \/>\npemutakhiran masjid, dibangunlah tempat wudu dengan keran menggantikan fungsi<br \/>\nbersuci dari jagang. Kini, jagang yang mengelilingi Masjid Gedhe Mataram hanya<br \/>\nberfungi untuk mendinginkan masjid.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left; text-indent: 28.35pt;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<b><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Ulasan bagian Atap Masjid Gedhe Mataram<br \/>\nKotagede<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<span style=\"background: white; color: #333333; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Ihwal lain yang menarik dari Masjid Gedhe<br \/>\nMataram ialah terdapat sebuah mustaka di puncak atap masjid. Mustaka tersebut<br \/>\ntidak berornamenkan bulan sabit\/lafaz Allah pada umumnya, melainkan sebuah gada<br \/>\nberukuran besar yang berornamenkan daun mimbar.&nbsp;Pada bagian atap masjid,<br \/>\nterdiri dari dua tingkat. Atap masjid Gedhe Mataram Kotagede terbuat dari kayu<br \/>\ndan ditutup menggunakan genteng. Pada bagian atas atap tersebut berbentuk<br \/>\nsegitiga dengan sudutnya yang runcing. Kemudian, bagian bawah atap tersebut<br \/>\nseperti segitiga yang terpotong bagian atasnya saja. Pada bagian puncak<br \/>\ntersebut diberi mahkota yang disebut dengan \u201cpataka\u201d.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left; text-indent: 0.5in;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<b><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Ulasan Bagian Mimbar dan Beduk Masjid Gedhe<br \/>\nMataram Kotagede<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; text-align: left;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Masjid Gedhe Mataram memiliki beduk yang<br \/>\nberukuran diameter 85 cm. Beduk sebagai penanda waktu salat ini merupakan<br \/>\nhadiah yang diberikan oleh Nyai Pinggit dari Desa Dondong, Kulon Progo. Untuk<br \/>\nmengenang jasa Nyai Pinggit, keturunannya diperbolehkan menempati wilayah di<br \/>\nsekitar area masjid. Daerah tersebut diberi nama Dondongan. Mereka juga menjadi<br \/>\nabdi dalem yang bertugas mengurusi masjid. Masjid Gedhe Mataram juga mempunyai<br \/>\nmimbar khotbah di dalamnya. Mimbar tersebut terletak di sebelah utara mihrab.<br \/>\nMenurut catatan sejarah, mimbar tersebut merupakan pemberian dari Kesultanan<br \/>\nPalembang Darussalam kepada Kesultanan Mataram pada masa Sultan Agung. <o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 0in; text-align: center;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><b><span style=\"color: black; line-height: 150%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/b><b><span style=\"line-height: 150%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/b><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 0in; text-align: left;\">\n<div style=\"line-height: 24px; margin-left: 0in;\">\n<b>Daftar Pustaka:<\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\">Mengungkap kisah masjid agung kotagedhe. https:\/\/www.idntimes.com<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><span style=\"color: black; line-height: 24px;\">https:\/\/seminar.iplbi.or.id\/akulturasi-budaya-pada-bangunan-masjid-gedhe-mataram-yogyakarta\/<\/span><span style=\"color: black; line-height: 24px;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\">https:\/\/visitingjogja.com\/12706\/masjid-mataram-kotagede\/<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><a href=\"https:\/\/www.yogyes.com\/id\/yogyakarta-tourism-object\/pilgrimage-sites\/masjid-kotagede\/\"><span style=\"color: black; line-height: 24px;\">https:\/\/www.yogyes.com\/id\/yogyakarta-tourism-object\/pilgrimage-sites\/masjid-kotagede\/<\/span><\/a><span style=\"color: black; line-height: 24px;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\">Nanda Silvia. Makna Dan Fungsi Arsitektur Masjid Gedhe Mataram Kota Gedhe Yogyakarta,<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><span style=\"color: black; line-height: 24px;\">Skripsi FUPI UIN Sunan Kalijaga. 2017.&nbsp;<\/span><span style=\"line-height: 24px;\"><a href=\"http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/29787\/2\/13520023_BAB%0DI_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf\">http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/29787\/2\/13520023_BAB<o:p><\/o:p><\/a><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><span><span style=\"line-height: 24px;\"><a href=\"http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/29787\/2\/13520023_BAB%0DI_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf\">I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf<\/a><\/span><\/span><span style=\"color: black; line-height: 24px;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\">Apriyanto. Akulturasi Budaya Dalam Arsitektur Masjid Gedhe Mataram Kota Gede, Skripsi FAIB<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\">UIN Sunan Kalijaga, 2015.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><a href=\"http:\/\/digilib.uinsuka.ac.id\/15503\/1\/BAB%20I%2C%20V%2C%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf\"><span style=\"color: black; line-height: 24px;\">http:\/\/digilib.uinsuka.ac.id\/15503\/1\/BAB%20I%2C%20V%2C%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf<\/span><\/a><span style=\"color: black; line-height: 24px;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\">Gagoek Hardiman. Akulturasi Budaya pada Bangunan Masjid Gedhe Mataram Yogyakarta,<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\">Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 1, A 011-018. Program Doktoral<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\">Arsitektur dan Perencanaan Kota, Fakultas Teknik,<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\">https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/769768\/warisan-toleransi-di-masjid-gedhe<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\">Kompas.com. (2010, 13 Agustus). Mengheningkan Cipta bagi Semua Makhluk.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><a href=\"https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2010\/08\/13\/12562021\/\"><span style=\"color: black; line-height: 24px;\">https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2010\/08\/13\/12562021\/<\/span><\/a><span style=\"color: black; line-height: 24px;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: -28.35pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\">Setiawan Agus<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;&nbsp;<\/span>Prasetya. 2017. Tugas Akhir Perancangan Buku Infografis Kompleks Masjid<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><span style=\"color: black; line-height: 24px;\">Gedhe Mataram Kotagede. ISI Yogyakarta .<\/span><span style=\"color: black; line-height: 24px;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt;\">\n<span style=\"color: black; line-height: 24px;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"background-color: white; border: 0px; color: #444444; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; height: auto; line-height: inherit; margin: 0cm; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline; width: auto;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><span style=\"border: 0px; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><b style=\"border: 0px; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><span style=\"border: 1pt none windowtext; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: 19.5px; margin: 0px; padding: 0cm; vertical-align: baseline;\">Tim Penyusun:&nbsp;<\/span><\/b><span style=\"border: 0px; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: 19.5px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><\/span><\/span><span style=\"background-color: transparent; text-align: center;\">Milhatu Fitriyah, Maytri Zahra Saraswati, Ratna Riyana, Clara Aprillita Krismurti<\/span><b style=\"background-color: transparent; text-align: center;\">,&nbsp;<\/b><span style=\"background-color: transparent; text-align: center;\">Arif I. Ismail, Khaerul Waro\u2019, Haidar Putra Pratama, Fakhrozi Satria Rosadi, Yoga Hanindyatama, Renaldi Fadliansyah.<\/span><\/span><\/div>\n<div align=\"center\" style=\"line-height: 24px; text-align: center;\">\n<span style=\"line-height: 24px;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"background-color: white; border: 0px; color: #444444; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; height: auto; line-height: inherit; margin: 0cm; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline; width: auto;\">\n<span style=\"border: 0px; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><span style=\"border: 0px; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><b style=\"border: 0px; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><span style=\"border: 0px; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: 19.5px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">Editor: Donny Agustio<\/span><\/b><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"background: white; border: 0px; color: #444444; font-stretch: inherit; line-height: 24px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"border: 0px; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><span style=\"border: 0px; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><i style=\"border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><span style=\"border: 1pt none windowtext; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: 19.5px; margin: 0px; padding: 0cm; vertical-align: baseline;\">*Tulisan ini merupakan bagian dari serangkaian acara Ekspedisi 2019<\/span><\/i><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 24px;\">\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masjid Gedhe Mataram merupakan masjid tertua di Yogyakarta, yang dibangun oleh Sultan Agung pada tahun 1640 M. Pembangunan masjid dilakukan secara bergotong royong dengan masyarakat sekitar yang umumnya masih memeluk agama Hindu dan Buddha. Masjid Gedhe Mataram sendiri berada di kompleks pemakaman raja-raja Mataram yang beralamatkan di Dusun Sayangan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Pada bagian depan kompleks masjid, terdapat sebuah prasasti berbentuk bujur sangkar yang di atasnya terdapat lambang Kasunanan Surakarta Agung. Ihwal tersebut menunjukan keterlibatan Kasunanan Surakarta pada tahap kedua pembangunan Masjid Gedhe Mataram, yang dalam hal ini Paku Buwono X. Perbedaan bangunan yang didirikan oleh Sultan Agung dan Paku Buwono X adalah pada tiang masjid yang dibangun oleh Sultan Agung berasal dari kayu, sedangkan Paku Buwono X memakai besi. Secara keseluruhan, bangunan masjid yang berbentuk limasan terbagi menjadi dua bagian, yaitu inti dan serambi. Ulasan Bagian Bangsal Masjid Gedhe Mataram Kotagede Di balik seketeng adalah halaman masjid. Dari halaman masjid ke arah lurus dan kanan, terdapat bangunan masjid. Kemudian, jikalau menuju ke arah kiri, terdapat kompleks makam dan sendang\/kolam. Pada halaman masjid ini berdiri dua buah bangunan Bangsal Pacaosan, yang ada di sebelah kanan dan kiri halaman. Bangunan Pacaosan berdenah segi empat. Tinggi lantai 20 cm dari level tanah halaman. Bangsal ini merupakan bangunan terbuka, tanpa dinding dengan atap berbentuk limasan. Atap disangga oleh kolom kayu berjumlah enam buah. Pada bagian halaman masjid, juga berdiri bangunan tugu yang berfungsi sebagai tempat jam\/penunjuk waktu salat. Pada puncak tugu, dihiasi dengan hiasan berbentuk kupluk\/peci raja. Hal ini menunjukkan bahwa bangunan masjid adalah bangunan milik kerajaan. Pada bagian ini, budaya Jawa sangat melekat pada tata ruang. Dimulai dari ruang luar yang menyerupai alun-alun dengan pohon beringinnya, bangunan Pacaosan sebagai bangunan perantara atau tempat menunggu untuk berkegiatan di Masjid. Menurut tata ruang Jawa, bangunan Pacaosan digunakan sebagai tempat tunggu, sebelum masuk ke ruang raja. Ulasan Bagian Gapura Masjid Gedhe Mataram Kotagede Tata ruang masjid terbagi atas ruang luar dan ruang dalam. Tata ruang luar terdiri dari pagar pembatas. Pagar pembatas adalah dinding yang mirip dengan dinding bangunan candi Hindu (Uwarna, 1987). Pada bagian dalam dinding terdapat jagang\/kolam keliling. Jagang mengelilingi kompleks masjid dan juga ada di sekeliling emper bangunan masjid. Makna jagang di sekeliling dinding pagar ialah sebagai benteng keamanan (Setyowati, 2007). Akan tetapi, untuk jagang di sekeliling bangunan masjid digunakan sebagai sarana membersihkan kaki sebelum masuk ke masjid. Dinding pagar keliling memiliki tiga buah gapura sebagai pintu masuk. Gapura-gapura ini berbentuk paduraksa, semacam gapura pada candi. Persis di bagian depan gapura, akan ditemui sebuah tembok berbentuk huruf \u201cL\u201d. Pada tembok tersebut, juga terpahat beberapa gambar yang merupakan lambang kerajaan. Bentuk paduraksa dan huruf \u201cL\u201d tersebut merupakan bentuk toleransi Sultan Agung pada warga Hindu dan Buddha yang ikut bergotong royong membangun masjid Ulasan Bagian Pagar Bata Masjid Gedhe Mataram Kotagede Selain pada sisi dalam masjid, keunikan arsitektur Masjid Gedhe Mataram juga terdapat pada sisi halaman luar masjid alias area pekarangan. Pada sisi kiri halaman, akan ditemui pagar tinggi yang terbuat dari batu bata besar. Pagar tersebut merupakan pagar utama yang dibangun pada masa Sultan Agung dan merupakan bangunan asli dari Masjid Gedhe Mataram. Konon, perlekatan dari batu bata ini menggunakan gula aren. Pagar ini dihiasi batuan marmer yang berukir aksara jawa dan menjadi ciri khas lain dari Masjid Gedhe Mataram. Kemudian pada sisi kanan halaman, terdapat pagar dengan ukuran batu bata lebih kecil dan warna yang lebih pucat. Pagar tersebut merupakan hasil pembangunan kedua oleh&nbsp;Pakubuwono X. Pagar dengan batu bata kecil ini lebih mendominasi keseluruhan bagian pagar, yang diakhiri dengan pintu gerbang cantik&nbsp;berarsitekturkan Jawa kuno, paduraksa. Sebuah konsep arsitektur khas budaya Hindu. Ulasan Bagian Saka\/Tiang Masjid Gedhe Mataram Kotagede Saka merupakan sebutan untuk tiang penyangga dari Masjid Gedhe Mataram. Saka sendiri berfungsi sebagai penyangga bangunan serambi masjid dengan atap limasan. Sambungan antara atap tajug lambang gantung dengan atap limasan pada serambi menggunakan talang dari plat besi berbentuk cekung setengah bola. Teknik talang dengan material besi tersebut merupakan teknologi dari pertukangan Cina. Teknik terebut juga digunakan pada bangunan Kuil Sam Go Kong di Semarang. Kolom pada bangunan serambi disebut Soko Pengarep dan Soko Penanggap. Semua saka ditopang oleh pondasi umpak dari batu alam hitam tanpa ornamen. Bagian atas Soko Pengarep ditutup dengan papan yang penuh dengan ornamen kaligrafi. Tiang atau saka pada Masjid Gedhe Mataram dikenal dengan istilah \u201csaka guru\u201d. Istilah tersebut diambil dari bahasa Sanskerta, yang mana \u201csaka\u201d berarti tiang dan \u201cguru\u201d berarti utama. Jadi, saka guru merupakan tiang penyangga utama dari Masjid Gedhe Mataram. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saka guru merupakan bagian dari unsur Jawa. Ulasan Bagian Kolam Masjid Gedhe Mataram Kotagede Pada area Masjid Gedhe Mataram, terdapat sebuah jagang atau kolam yang berbentuk menyerupai parit dan mengelilingi masjid. Pada awalnya, jagang tersebut terhubung dengan sendang yang berada di sebelah selatan masjid. Namun, terkait dengan masalah perairan di area masjid, maka jalan air yang menghubungkan kolam dengan sendang diputus sehingga jagang berdiri sendiri mengelilingi masjid. Jagang juga pada awalnya digunakan sebagai media berwudu, membersihkan kotoran sebelum memasuki masjid. Jagang mengandung filosofi bahwa sebelum memasuki masjid, hendaknya seseorang menghilangkan sifat angkaranya terlebih dahulu. Lamun seiring dengan berjalannya waktu, atas dasar pemutakhiran masjid, dibangunlah tempat wudu dengan keran menggantikan fungsi bersuci dari jagang. Kini, jagang yang mengelilingi Masjid Gedhe Mataram hanya berfungi untuk mendinginkan masjid. Ulasan bagian Atap Masjid Gedhe Mataram Kotagede Ihwal lain yang menarik dari Masjid Gedhe Mataram ialah terdapat sebuah mustaka di puncak atap masjid. Mustaka tersebut tidak berornamenkan bulan sabit\/lafaz Allah pada umumnya, melainkan sebuah gada berukuran besar yang berornamenkan daun mimbar.&nbsp;Pada bagian atap masjid, terdiri dari dua tingkat. Atap masjid Gedhe Mataram Kotagede terbuat dari kayu dan ditutup menggunakan genteng. Pada bagian atas atap tersebut berbentuk segitiga dengan sudutnya yang runcing. Kemudian, bagian bawah atap tersebut seperti segitiga yang terpotong bagian atasnya saja. Pada bagian puncak tersebut diberi mahkota yang disebut dengan \u201cpataka\u201d. Ulasan Bagian Mimbar dan Beduk Masjid Gedhe Mataram Kotagede Masjid Gedhe Mataram memiliki beduk yang berukuran diameter 85 cm. Beduk sebagai penanda waktu salat ini merupakan hadiah yang diberikan oleh Nyai Pinggit dari Desa Dondong, Kulon Progo. Untuk mengenang jasa Nyai Pinggit, keturunannya diperbolehkan menempati wilayah di sekitar area masjid. Daerah tersebut diberi nama Dondongan. Mereka juga menjadi abdi dalem yang bertugas mengurusi masjid. Masjid Gedhe Mataram juga mempunyai mimbar khotbah di dalamnya. Mimbar tersebut terletak di sebelah utara mihrab. Menurut catatan sejarah, mimbar tersebut merupakan pemberian dari Kesultanan Palembang Darussalam kepada Kesultanan Mataram pada masa Sultan Agung. &nbsp;&nbsp; Daftar Pustaka: Mengungkap kisah masjid agung kotagedhe. https:\/\/www.idntimes.com&nbsp; https:\/\/seminar.iplbi.or.id\/akulturasi-budaya-pada-bangunan-masjid-gedhe-mataram-yogyakarta\/ https:\/\/visitingjogja.com\/12706\/masjid-mataram-kotagede\/ https:\/\/www.yogyes.com\/id\/yogyakarta-tourism-object\/pilgrimage-sites\/masjid-kotagede\/ Nanda Silvia. Makna Dan Fungsi Arsitektur Masjid Gedhe Mataram Kota Gedhe Yogyakarta, Skripsi FUPI UIN Sunan Kalijaga. 2017.&nbsp;http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/29787\/2\/13520023_BAB I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf Apriyanto. Akulturasi Budaya Dalam Arsitektur Masjid Gedhe Mataram Kota Gede, Skripsi FAIB UIN Sunan Kalijaga, 2015. http:\/\/digilib.uinsuka.ac.id\/15503\/1\/BAB%20I%2C%20V%2C%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf Gagoek Hardiman. Akulturasi Budaya pada Bangunan Masjid Gedhe Mataram Yogyakarta, Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 1, A 011-018. Program Doktoral Arsitektur dan Perencanaan Kota, Fakultas Teknik, https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/769768\/warisan-toleransi-di-masjid-gedhe Kompas.com. (2010, 13 Agustus). Mengheningkan Cipta bagi Semua Makhluk. https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2010\/08\/13\/12562021\/ Setiawan Agus&nbsp;&nbsp;Prasetya. 2017. Tugas Akhir Perancangan Buku Infografis Kompleks Masjid Gedhe Mataram Kotagede. ISI Yogyakarta . Tim Penyusun:&nbsp;Milhatu Fitriyah, Maytri Zahra Saraswati, Ratna Riyana, Clara Aprillita Krismurti,&nbsp;Arif I. Ismail, Khaerul Waro\u2019, Haidar Putra Pratama, Fakhrozi Satria Rosadi, Yoga Hanindyatama, Renaldi Fadliansyah. Editor: Donny Agustio *Tulisan ini merupakan bagian dari serangkaian acara Ekspedisi 2019<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-84","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=84"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=84"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=84"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=84"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}