{"id":8,"date":"2024-09-14T01:00:00","date_gmt":"2024-09-14T01:00:00","guid":{"rendered":""},"modified":"2025-03-15T10:14:14","modified_gmt":"2025-03-15T10:14:14","slug":"kemunculan-sinar-merah-di-nganjuk-pasca-kudatuli-tahun-1996","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=8","title":{"rendered":"KEMUNCULAN SINAR MERAH DI NGANJUK PASCA KUDATULI TAHUN 1996"},"content":{"rendered":"<h4 style=\"text-align: left;\"><\/h4>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\">\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><span><a name='more'><\/a><\/span><a href=\"https:\/\/sanskertaonline.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Gambar1.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"483\" data-original-width=\"653\" height=\"376\" src=\"https:\/\/sanskertaonline.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Gambar1-300x222.png\" title=\"(Koleksi Twitter Petrus Hariyanto, 1 Februari 2024)\" width=\"640\" \/><\/a><\/div>\n<p align=\"center\" style=\"line-height: 150%; text-align: center;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: CG Times;\"><span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p align=\"center\" style=\"line-height: 150%; text-align: center;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: CG Times;\"><i>(Koleksi Twitter Petrus Hariyanto, 1 Februari 2024<\/i><\/span><\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;\"><i>)<\/i><\/span><\/p>\n<\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: georgia;\"><br \/><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Sinar<br \/>\nmerah adalah julukan bagi Partai Rakyat Demokratik. Partai Rakyat Demokratik<br \/>\n(PRD) lahir dari hasil Kongres Luar Biasa Persatuan Rakyat Demokratik tanggal<br \/>\n15 April 1996 di Sleman, Yogyakarta. Ketua Umum PRD terpilih saat itu adalah<br \/>\nBudiman Sutjatmiko, seorang aktivis mahasiswa yang lantang menentang Orde Baru.<br \/>\n<i>Majalah Pembebasan No.1\/Oktober 1996 <\/i>dengan judul artikel \u201cPRD Memang<br \/>\nKiri\u201d menyatakan bahwa asas PRD bukan Pancasila karena sadar itu adalah<br \/>\nideologi negara yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Miftahuddin dalam bukunya<br \/>\n<i>Radikalisasi Pemuda: PRD Melawan Tirani<\/i> menyatakan bahwa PRD menyusun<br \/>\nasas yang lebih spesifik, namun masih turunan dari Pancasila, yaitu sosial<br \/>\ndemokrasi kerakyatan. PRD memiliki tujuan untuk&nbsp;<br \/>\nmewujudkan masyarakat adil dan makmur tanpa penindasan, baik manusia<br \/>\natas manusia maupun penindasan bangsa antar bangsa. <o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">PRD sejak awal kehadirannya telah membuat resah Orde<br \/>\nBaru. PRD memiliki musuh utama, yaitu sistem Orde Baru yang dinilai menyimpang,<br \/>\nseperti yang diberitakan oleh <i>Majalah Pembebasan No.III\/Januari 1997 <\/i>dengan<br \/>\njudul artikel \u201cMerebut Demokrasi Sejati\u201d bahwa seluruh permasalahan masyarakat<br \/>\nterjadi karena sistem politik yang tidak demokratis dan berakar dari paket lima<br \/>\nUU Politik 1985 dan diberlakukannya Dwi Fungsi ABRI sebagai basis legitimasi<br \/>\nrezim. <o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-family: georgia;\"><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Majalah Pembebasan No.I\/Oktober 1996 <\/span><\/i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">dengan judul berita \u201cPRD dan Gerakan Komunis\u201d<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/>\nmenyatakan bahwa pemikiran dan aktivitas utama PRD memang terlihat lebih<br \/>\nprodemokrasi karena terinspirasi dari Sarekat Islam dan Tan Malaka. <\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Agenda utama PRD adalah menyebarluaskan gagasan dan<br \/>\nprogram perjuangan PRD, membangun persatuan nasional, memperluas struktur<br \/>\norganisasi dan melakukan kaderisasi dengan pendidikan ideologi, politik, dan<br \/>\norganisasi. Vicky Verry Angga dalam tesisnya di Universitas Diponegoro tahun<br \/>\n2019 <i>Pendobrak yang Terlupakan: Pergerakan Partai Rakyat Demokratik pada<br \/>\nAkhir Orde Baru sampai Awal Reformasi. 1994-2004<\/i> menyaebutkan bahwa PRD mengorganisir<br \/>\nrakyat dari pabrik, desa, kampung kota, perkebunan maupun kampus untuk<br \/>\nmembentuk front demokrasi menentang Pemerintahan Orde Baru. Pada lingkup global,<br \/>\nPRD mengutus duta-duta untuk bicara di berbagai forum pada tingkat global<br \/>\nmaupun regional. <o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Peter Kasenda dalam bukunya <i>Peristiwa 27 Juli 1996:<br \/>\nTitik Balik Perlawanan Rakyat<\/i> menyebutkan bahwa Pemerintah Orde Baru secara<br \/>\nsepihak menuduh PRD sebagai dalang atas Kudatuli 27 Juli 1996. <i>Majalah<br \/>\nPembebasan No.1\/Oktober 1996<\/i> dengan judul artikel \u201cKambing Hitam, Fitnah,<br \/>\nTeror\u201d juga memberitakan hal itu, bahkan pemerintah saat itu membuat opini<br \/>\nbahwa PRD adalah PKI yang hidup lagi melalui media-media massanya. Anggapan PRD<br \/>\nadalah PKI gaya baru dapat terjadi karena basis PRD yang memang merangkul buruh<br \/>\ntani, mahasiswa, serta mempunyai banyak <i>underbow <\/i>yang identik dengan<br \/>\nPKI. Istilah-istilah yang dipakai PRD konon katanya juga mirip PKI yang<br \/>\nseharusnya wajar dipakai oleh golongan demokrat-radikal, seperti Bung Karno<br \/>\n\u201cDibawah Bendera Revolusi\u201d yang memakai istilah-istilah \u201cprogresif\u201d,<br \/>\n\u201ckapitalis\u201d, \u201cborjuis\u201d, \u201crevolusioner\u201d, dan sebagainya.<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>Rakyat juga dibuat benci terhadap PRD dan<br \/>\norganisasi lain yang berpandangan demokratis. Pasca kejadian itu, PRD mulai<br \/>\ndilarang oleh pemerintah tanggal 30 Oktober 1996. Tetapi pimpinan PRD<br \/>\nmengeluarkan intruksi dalam penjara kepada seluruh kadernya untuk terus<br \/>\nbergerak meskipun dalam kondisi represif karena status PRD dan ormas-ormasnya<br \/>\ndinyatakan ilegal.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Perjuangan PRD dalam mengedukasi massa di pedesaan<br \/>\nNganjuk memang terjadi pasca peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996. <a name=\"_Hlk166353903\">Media <i>Jawa Pos<\/i> dengan judul berita \u201cAktivis PRD<br \/>\nJatim Diciduk Saat KKN\u201d memberitakan tentang adanya aktivis PRD yang ditangkap saat<br \/>\nKKN di Desa Tawang, Kecamatan Gondang, Nganjuk oleh tim pelacak dari ABRI<br \/>\nTingkat I maupun kabupaten pada 13 Agustus 1996<\/a>. Aktivis PRD tersebut<br \/>\nmenurut ABRI bernama Wahyu Wiyanarko, <span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span>mahasiswa berusia 24 tahun asal Jalan Gatot<br \/>\nSubroto, Kabupaten Jombang. Wahyu terindikasi telah melakukan penanaman<br \/>\nideologi dan pengaruhnya (pencerdasan masyarakat) di lingkungan setempat, yaitu<br \/>\nlingkungan Desa Tawang, Kecamatan Gondang, Nganjuk.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-family: georgia;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">HS<br \/>\n(nama samaran), seorang pemuda dari Desa Campur, Kecamatan Gondang, Nganjuk<br \/>\njuga mengaku pernah didatangi rumahnya oleh Koramil Kecamatan Gondang. <\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Peristiwa itu terjadi pada tahun 1997 pasca kerusuhan<br \/>\ndi Jakarta, yaitu Kudatuli 27 Juli 1996. Menurut HS dalam wawancara tanggal 4<br \/>\nSeptember 2023, seseorang yang paling dicari oleh aparat saat itu adalah<br \/>\nmahasiswa-mahasiswa yang telah di <i>drop out <\/i>dari kampus. Para mahasiswa <i>drop-out<br \/>\n<\/i>dari kampus dalam pandangan aparat berkemungkinan besar bergabung dalam PRD<br \/>\nuntuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah. HS juga menambahkan bahwa penyisiran<br \/>\naparat yang bertujuan menangkap aktivis PRD di Nganjuk sangat banyak, bahkan<br \/>\nhampir seluruh kecamatan yang ada.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Program edukasi massa di pedesaan Nganjuk merupakan<br \/>\nstrategi pengerahan massa dalam jumlah besar bertujuan untuk membentuk front perjuangan<br \/>\nmelawan Orde Baru. <i>Majalah Pembebasan No.III\/Januari 1997 <\/i>dengan judul<br \/>\nartikel \u201cFront yang Dapat Menggerakkan Massa\u201d menyatakan bahwa telah tiba<br \/>\nwaktunya bagi kaum demokrasi menyatukan perjuangannya dalam satu wadah front<br \/>\nperjuangan. Sebuah perjuangan untuk melawan beragam penindasan. Penyatuan<br \/>\nseluruh kelompok yang prodemokrasi harus segera diwujudkan karena berjuang secara<br \/>\nsendiri-sendiri dinilai kurang efektif. Perjuangan sendiri-sendiri juga sering membuat<br \/>\ngesekan antar sesamanya, sehingga melemahkan kelompok prodemokrasi itu sendiri.<br \/>\nProgram perjuangan bersama juga mustahil dapat mendesak Orde Baru jika<br \/>\ndiperjuangkan oleh satu atau dua organisasi. Berdasarkan alasan tersebut maka front<br \/>\nperjuangan adalah prioritas PRD. <i>Majalah Pembebasan No.III\/Januari 1997 <\/i>dengan<br \/>\njudul artikel \u201cMerebut Demokrasi Sejati\u201d menyatakan bahwa Peristiwa 27 Juli<br \/>\nmerupakan suatu refleksi dan angin segar bagi PRD karena massa rakyat yang<br \/>\nselama ini tertindas ternyata masih memiliki kekuatan besar untuk melawan. PRD<br \/>\nmerasa tidak berhasil memimpin dan mengorganisir massa tersebut. Peristiwa itu<br \/>\nmenjadi cerminan bagi PRD untuk membentuk dan mengarahkan berbagai massa<br \/>\nprodemokrasi untuk meniadakan penindasan, termasuk pion-pion Orde Baru di<br \/>\ndesa-desa.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-family: georgia;\"><a name=\"_Hlk166353965\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Sepak terjang PRD<br \/>\ndi Nganjuk ternyata masih berlanjut. <i>Harian Analisa <\/i>dengan judul berita<br \/>\n\u201cDitemukan, Selebaran Ajak Boikot Pemilu dari PRD\u201d (21\/5\/1997) memberitakan<br \/>\ntelah ditemukannya selebaran kertas yang berisi ajakan untuk memboikot Pemilu<br \/>\n1997 dari PRD pada 18 Mei 1997. <\/span><\/a><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Selebaran itu dilaporkan ke Sospol Nganjuk oleh pemuda yang bernama<br \/>\nIrawan dan Tono saat bermain gitar setelah menerima selebaran dari pria bernama<br \/>\nTjandra Adi Purnama. Selebaran itu ditandatangani oleh Mirah Mahardika di<br \/>\nJakarta tanggal 25 Maret 1997. Isinya adalah ajakan boikot Pemilu 1997,<br \/>\nmembentuk koalisi demokratik kerakyatan, dan mengangkat presiden baru. Menurut<br \/>\nselebaran itu, pemilu telah direkayasa sedemikian rupa sehingga tidak dapat<br \/>\ndigunakan sebagai alat penyampai aspirasi rakyat.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">PRD<br \/>\nmenganggap Pemilu 1997 adalah alat untuk membohongi rakyat karena seolah-olah<br \/>\nrakyat dapat menyalurkan aspirasinya, seolah-olah pula dipilih oleh orang-orang<br \/>\nyang mewakili rakyat, dan seolah-olah pemerintah itu berdasar atas suara<br \/>\nrakyat. PRD memboikot Pemilu 1997 dengan alasan tidak disertakannya PDI yang<br \/>\nsebenarnya sebagai OPP dan malah menyertakan PDI \u201cKerbau\u201d Soerjadi. PRD juga<br \/>\nmenganggap bahwa PDI \u201cKerbau\u201d adalah alat penguasa untuk menidas rakyat. Pemilu<br \/>\nsejati menurut PRD adalah pemilu yang menyertakan PDI asli sebagai OPP,<br \/>\npencabutan lima UU Politik, dan pencabutan Dwi Fungsi ABRI. Rezim akan dengan<br \/>\nmudahnya menyelewengkan Pemilu 1997 jika lima UU Politik dan Dwi Fungsi ABRI<br \/>\ntidak dicabut. Pernyataan tersebut tercantum dalam <i>Majalah Pembebasan<br \/>\nNo.IV\/Februari 1997 <\/i>dengan judul artikel \u201cBoikot Pemilu sampai Ada<br \/>\nDemokrasi di Indonesia\u201d.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Setelah<br \/>\nsekian lama, akhirnya gerakan sosial yang menuntut diadakannya reformasi<br \/>\nterjadi tahun 1998. Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya karena<br \/>\nsudah lama kehilangan legitimasi dan nilai prestise dirinya. Gerakan reformasi<br \/>\ntidak hanya bergulir di kota-kota besar, namun juga menyebar ke berbagai<br \/>\ndaerah. Fenomena itu disebut sebagai \u201ctransisi reformasi\u201d. Nur Sayyid dalam<br \/>\nbukunya <i>Gerakan Sosial: Pemberdayaan Masyarakat Sipil<\/i> menyebutkan bahwa<br \/>\ntransisi reformasi adalah bentuk kebangkitan rakyat pedesaan setelah sekian<br \/>\nlama hidup dalam kondisi tertekan. <o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span><span style=\"font-family: georgia;\">PRD<br \/>\nlagi-lagi memberikan doktrin penyemangat bagi para aktivis reformasi, termasuk<br \/>\ndi pedesaan. Doktrin tersebut disebutkan dalam <i>Majalah Pembebasan<br \/>\nNo.8\/Th.III\/1-15 September 1998 <\/i>dengan judul artikel \u201cRadikalisme Masuk<br \/>\nDesa\u201d yang berbunyi \u201cAksi massa adalah kunci! Jangan pernah berhenti melakukan<br \/>\naksi-massa. Ingat, para pendukung Soeharto masih bercongkol di DPR\/MPR, seluruh<br \/>\njajaran ABRI, departemen-departemen, pemerintahan-pemerintahan daerah sampai<br \/>\nkelurahan-kelurahan. Tuntaskan reformasi dengan aksi-aksi massa!\u201d Aksi gerakan<br \/>\nreformasi di pedesaan Nganjuk memang terjadi pada Juni-Juli 1998. Wahyu Mada<br \/>\nKuncoro Sakti dalam skripsinya di Universitas Diponegoro tahun 2024 dengan<br \/>\njudul <i>Reformasi Desa: Pelengseran Pejabat Desa di Nganjuk 1998 Studi Kasus<br \/>\ndi Desa Kedondong, Desa Campur, dan Desa Kedungsoko <\/i>menyebutkan bahwa<i> <\/i>dari<br \/>\nseluruh desa yang ada di Nganjuk, tidak kurang dari 115 desa yang bergejolak.<br \/>\nPenyebabnya sangat beragam, seperti: penyalahgunaan kekuasaan, tindak \u201cKKN\u201d,<br \/>\nsifat otoriter pejabat desa, permasalahan pribadi, dan sebagainya.<br \/>\nPenyalahgunaan kekuasaan dan tindak \u201cKKN\u201d sangat berhubungan erat dengan<br \/>\nkekuasaan pusat Orde Baru. Saat itu desa mengikuti aturan-aturan yang berlaku<br \/>\ndari pemerintah pusat dan disesuaikan dengan kondisi-kondisi setiap desa. Desa<br \/>\nmenjadi objek kepentingan pusat daripada kepentingan masyarakat itu sendiri.<\/span><span style=\"font-family: arial;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: arial;\"><br \/><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: arial;\">Penulis: Wahyu<br \/>\nMada Kuncoro Sakti, (seorang mahasiswa S1 Sejarah Universitas Diponegoro 2020)<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><span style=\"font-family: arial;\">Editor: Danadyaksa<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: left;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; font-size: 12pt; text-align: justify;\">Sumber:<\/span><\/p>\n<div style=\"line-height: 24px; text-align: left;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: Garamond; font-size: 12pt; line-height: 24px;\">Demokrasi sebagai pijakan memasuki masyarakat modern menjadi mewah buat kita rakyat Indonesia (Kemunduran Rejim Soeharto,&nbsp;<i>Majalah Pembebasan<\/i>,<i>&nbsp;No.III\/Januari 1997,&nbsp;<\/i>hlm. 9).<\/span><\/div>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 24px; text-align: justify;\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":1,"featured_media":218,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,3],"tags":[],"class_list":["post-8","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kiriman-pembaca","category-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":219,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8\/revisions\/219"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/218"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}