{"id":7,"date":"2024-11-28T05:00:00","date_gmt":"2024-11-28T05:00:00","guid":{"rendered":""},"modified":"2025-03-15T10:14:12","modified_gmt":"2025-03-15T10:14:12","slug":"olympe-de-gouges-singa-betina-revolusi-prancis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=7","title":{"rendered":"OLYMPE DE GOUGES: SINGA BETINA REVOLUSI PRANCIS"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p align=\"center\" style=\"line-height: normal; text-align: center;\"><!--[if gte vml 1]><o:wrapblock><v:shapetype coordsize=\"21600,21600\" o:spt=\"75\" o:preferrelative=\"t\"\n  path=\"m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe\" filled=\"f\" stroked=\"f\">\n  <v:stroke joinstyle=\"miter\"\/>\n  <v:formulas>\n   <v:f eqn=\"if lineDrawn pixelLineWidth 0\"\/>\n   <v:f eqn=\"sum @0 1 0\"\/>\n   <v:f eqn=\"sum 0 0 @1\"\/>\n   <v:f eqn=\"prod @2 1 2\"\/>\n   <v:f eqn=\"prod @3 21600 pixelWidth\"\/>\n   <v:f eqn=\"prod @3 21600 pixelHeight\"\/>\n   <v:f eqn=\"sum @0 0 1\"\/>\n   <v:f eqn=\"prod @6 1 2\"\/>\n   <v:f eqn=\"prod @7 21600 pixelWidth\"\/>\n   <v:f eqn=\"sum @8 21600 0\"\/>\n   <v:f eqn=\"prod @7 21600 pixelHeight\"\/>\n   <v:f eqn=\"sum @10 21600 0\"\/>\n  <\/v:formulas>\n  <v:path o:extrusionok=\"f\" gradientshapeok=\"t\" o:connecttype=\"rect\"\/>\n  <o:lock v:ext=\"edit\" aspectratio=\"t\"\/>\n <\/v:shapetype><v:shape id=\"Picture_x0020_1\" o:sp type=\"#_x0000_t75\"\n  style='position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:51.75pt;\n  margin-top:24.75pt;width:353.35pt;height:180.4pt;z-index:-251658240;\n  visibility:visible;mso-wrap-style:square;mso-wrap-distance-left:9pt;\n  mso-wrap-distance-top:0;mso-wrap-distance-right:9pt;\n  mso-wrap-distance-bottom:0;mso-position-horizontal:absolute;\n  mso-position-horizontal-relative:text;mso-position-vertical:absolute;\n  mso-position-vertical-relative:text'>\n  <w:wrap type=\"topAndBottom\"\/>\n <\/v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><span style=\"mso-ignore: vglayout;\"><\/p>\n<table cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\">\n<tbody>\n<tr>\n<td height=\"0\" width=\"119\"><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><\/td>\n<td><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p> <\/span><span><\/span><\/p>\n<p><a name='more'><\/a><\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><\/div>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/sanskertaonline.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/prancis.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"180\" data-original-width=\"353\" height=\"252\" src=\"https:\/\/sanskertaonline.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/prancis-300x153.png\" width=\"590\" \/><\/a><\/div>\n<\/p>\n<p style=\"line-height: normal; text-align: center; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 10.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\"><span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<i>&nbsp;(Koleksi:<\/i><\/span><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 10pt; text-indent: 36pt;\">&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 10pt; text-indent: 36pt;\">https:\/\/sluggerotoole.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Olympe-de-Gouges.webp)<\/span><\/i><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: normal; text-align: center; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 10.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\"><i><span><\/span><\/i><\/span><\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"line-height: normal; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: georgia;\"><span style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\">&nbsp;<\/span><span style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Olympe de Gouges lahir dengan nama asli Marie Gouze<br \/>\npada 7 Mei 1748 di kota Montauban, sebuah kota kecil yang terletak di wilayah<br \/>\nbarat daya Prancis. Ia berasal dari keluarga dengan latar belakang sosial<br \/>\nekonomi yang sederhana dan berada di kelas menengah bawah. Ayahnya, Pierre<br \/>\nGouze, adalah seorang pedagang daging di Montauban, yang pada masa itu dikenal<br \/>\nsebagai pusat perdagangan dan aktivitas ekonomi. Sementara itu, ibunya, Anne<br \/>\nOlympe Moisset, memerankan peran tradisional perempuan pada waktu itu sebagai<br \/>\nseorang ibu rumah tangga.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; line-height: 115%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Beberapa kalangan berpendapat bahwa Marie adalah anak<br \/>\nluar nikah dari Jean-Jacques Lefranc, Marquis de Pompignan, seorang bangsawan<br \/>\nyang juga dikenal sebagai penulis ternama pada masanya. Pandangan ini<br \/>\ndidasarkan pada gaya hidup Marie serta minatnya yang mendalam terhadap<br \/>\nperkembangan intelektual, yang dianggap lebih mencerminkan ciri-ciri kelas<br \/>\naristokrat daripada kelas pekerja tempat ia dilahirkan.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Olympe de Gouges menerima pendidikan yang terbatas dan<br \/>\ntidak formal, karena pada masa itu, akses terhadap pendidikan formal umumnya<br \/>\nterbatas pada laki-laki dan individu dari kalangan bangsawan. Meskipun<br \/>\ndemikian, Olympe mengembangkan kemampuan membaca dan menulis melalui bimbingan<br \/>\ninformal dan pembelajaran mandiri. Pengetahuan serta wawasan intelektualnya<br \/>\nberkembang pesat dalam bidang sastra, politik, dan filsafat, yang diperolehnya<br \/>\ndengan mempelajari karya-karya tokoh terkenal seperti Jean-Jacques Rousseau dan<br \/>\nVoltaire, serta melalui interaksi dengan berbagai intelektual setelah ia pindah<br \/>\nke Paris.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Pada usia 16 tahun, ia bertemu dengan Louis-Yves Aubry<br \/>\ndi kota kelahirannya, yang kemudian menjadi calon suaminya. Louis, seorang pria<br \/>\nterhormat dengan latar belakang keluarga yang kaya, bekerja sebagai pemilik<br \/>\nrestoran sekaligus pejabat lokal. Olympe menikah dengan Louis pada tahun 1765,<br \/>\nsaat ia berusia 16 tahun. Beberapa bulan setelah pernikahan mereka, Marie hamil<br \/>\ndan melahirkan seorang putra yang diberi nama Pierre. Namun, kebahagiaan mereka<br \/>\ntidak berlangsung lama, karena Louis meninggal dunia akibat penyakit pernapasan<br \/>\nyang pada waktu itu banyak diderita oleh masyarakat Montauban dan sulit untuk<br \/>\ndiobati.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Setelah kepergian suaminya, Olympe de Gouges menjadi<br \/>\nseorang janda muda dengan seorang anak, yang mengubah arah kehidupannya secara<br \/>\nsignifikan. Ia mengambil langkah yang dianggap radikal pada zamannya, yaitu<br \/>\nmemutuskan untuk tidak menikah lagi, karena pernikahannya dengan Louis tidak<br \/>\ndidasarkan pada cinta, melainkan lebih pada faktor ekonomi yang memaksanya<br \/>\nuntuk menikah. Keputusan ini dipandang radikal, mengingat pada masa itu seorang<br \/>\njanda muda umumnya diharapkan untuk menikah kembali guna memperoleh dukungan<br \/>\nfinansial dan mempertahankan status sosial. Olympe kemudian memilih untuk<br \/>\npindah ke Paris, yang pada saat itu merupakan pusat seni, kebudayaan, dan<br \/>\nintelektual di Prancis. Ia meyakini bahwa dengan hidup di tengah para seniman,<br \/>\nintelektual, dan filsuf pencerahan, ia akan dapat mewujudkan impiannya untuk<br \/>\nmenjadi seorang penulis dan aktivis.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Setibanya di Paris pada tahun 1770, Marie memutuskan<br \/>\nuntuk mengadopsi nama baru, Olympe de Gouges, dengan tujuan untuk memberikan<br \/>\nkesan bahwa ia berasal dari keluarga bangsawan. Penggantian identitas ini<br \/>\nmerupakan langkah strategis untuk merealisasikan ambisinya untuk tampil<br \/>\nmandiri, berpengaruh, dan menonjol dalam dunia yang sangat patriarkal. Olympe<br \/>\nmemulai karier menulisnya dengan menciptakan karya-karya yang mengangkat<br \/>\nisu-isu sosial dan politik. Salah satu karyanya yang paling terkenal dan<br \/>\nditerima oleh masyarakat Prancis pada saat itu adalah *<i>L&#8217;Esclavage des noirs<\/i><br \/>\n(Perbudakan Orang Kulit Hitam), sebuah drama yang mengkritik sistem perbudakan<br \/>\ndan menyerukan kesetaraan hak dalam berbagai aspek kehidupan sosial dan<br \/>\nmasyarakat.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Selain itu, salah satu karya terkenal Olympe de Gouges<br \/>\njuga mengangkat isu-isu mengenai hak-hak perempuan. Bagi Olympe, perempuan<br \/>\nbukanlah sekadar pendukung laki-laki dalam struktur masyarakat, melainkan<br \/>\nindividu yang mandiri dengan hak yang setara dalam bidang politik dan ekonomi.<br \/>\nMeskipun demikian, banyak karya Olympe yang tidak diterima oleh teater-teater<br \/>\nbesar seperti Com\u00e9die-Fran\u00e7aise, karena dianggap terlalu radikal dan<br \/>\nbertentangan dengan hukum yang berlaku pada masa itu. Namun, hal ini tidak menyurutkan<br \/>\nsemangatnya untuk terus mengkritik ketidakadilan sosial. Ia memanfaatkan<br \/>\nberbagai media lain, seperti pamflet, esai, dan surat terbuka, untuk mendukung<br \/>\npesan yang terkandung dalam drama-drama yang telah ia ciptakan.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Gagasan mengenai kebebasan, kesetaraan, dan<br \/>\nrasionalitas yang diperjuangkan oleh filsuf-filsuf abad Pencerahan, seperti<br \/>\nJean-Jacques Rousseau dan Voltaire, sangat memengaruhi Olympe dalam penciptaan<br \/>\nkaryanya. Ia sangat mengagumi pemikiran-pemikiran mereka yang menantang<br \/>\nkekuasaan absolut dan menekankan hak-hak manusia serta keadilan sosial. Namun,<br \/>\nOlympe menyadari adanya kelemahan dalam teori-teori tersebut, khususnya terkait<br \/>\ndengan pengabaian terhadap hak-hak perempuan. Sebagai contoh, baik Rousseau maupun<br \/>\nVoltaire, meskipun mengemukakan gagasan-gagasan progresif tentang hak-hak<br \/>\nmanusia, keduanya cenderung memperlakukan perempuan sebagai sekadar pendukung<br \/>\nlaki-laki dalam kehidupan sosial. Voltaire, bahkan jarang sekali membahas isu<br \/>\ngender dalam karya-karyanya.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Marie de Gouges secara tegas menentang<br \/>\npandangan-pandangan yang dikemukakan oleh para tokoh tersebut, dengan<br \/>\nmenekankan bahwa prinsip-prinsip kesetaraan dan kebebasan harus diterapkan<br \/>\nsecara universal dan inklusif. Ia berargumen bahwa jika perempuan dikecualikan<br \/>\ndari prinsip-prinsip tersebut, maka hal itu akan menciptakan ketidakadilan baru<br \/>\nyang bertentangan dengan tujuan utama dari Revolusi Prancis.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Setelah menerbitkan karyanya yang berjudul<br \/>\n*D\u00e9claration des Droits de la Femme et de la Citoyenne* (Deklarasi Hak-Hak<br \/>\nPerempuan dan Warga Negara Perempuan) pada tahun 1791, ia terus menyuarakan<br \/>\nperjuangan untuk keadilan dan kesetaraan, meskipun pada waktu itu Prancis<br \/>\nsedang dilanda kekacauan pasca-Revolusi Industri. Posisi politiknya menjadi<br \/>\nkontroversial karena ia tidak ragu untuk mengkritik siapa pun yang dianggapnya<br \/>\nmelanggar prinsip-prinsip keadilan. Secara khusus, ia menentang kelompok<br \/>\nJacobin yang dipimpin oleh Robespierre, yang melakukan tindakan kekerasan<br \/>\npolitik dan eksekusi massal sepanjang periode Teror.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Pada tahun 1793, Marie de Gouges dianggap sebagai<br \/>\npengkhianat terhadap Revolusi Prancis dan ditangkap oleh pihak berwenang dengan<br \/>\ntuduhan terkait karya-karyanya yang mengkritik secara tajam Robespierre serta<br \/>\nkebijakan keamanan publik yang dianggapnya menyalahgunakan kekuasaan.<br \/>\nPemerintahan Jacobin menganggap Marie sebagai ancaman serius bagi rezim yang<br \/>\nsedang berkuasa dan kemudian menggunakan pengadilan sebagai alat untuk<br \/>\nmenanggulangi aktivitas politiknya. Selama proses peradilan, ia tidak diberikan<br \/>\nkesempatan untuk membela diri, mengingat sistem peradilan yang diterapkan oleh<br \/>\npemerintahan Jacobin bersifat otoriter dan menindas siapa pun yang tengah<br \/>\ndiadili.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: left; text-indent: 36pt;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Marie dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati<br \/>\ndengan guillotine. Ia dieksekusi di sebuah tempat yang dikenal sebagai Place de<br \/>\nla R\u00e9volution di Paris (sekarang disebut Place de la Concorde), yang sering<br \/>\ndigunakan oleh pemerintahan Jacobin untuk mengeksekusi musuh-musuh politiknya.<br \/>\nMeskipun kematian sudah di ambang mata, Marie tetap teguh pada prinsip-prinsip<br \/>\nkeadilan, kebebasan, dan kesetaraan, dan menolak untuk mengingkari<br \/>\nkeyakinannya. Sebelum dieksekusi, ia mengungkapkan kalimat terakhirnya kepada pemerintah<br \/>\nJacobin: \u201cLes enfants de la patrie vengeront ma mort\u201d (Anak-anak tanah air akan<br \/>\nmembalas kematianku).<span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: justify;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><o:p><span style=\"font-family: georgia;\">&nbsp;<\/span><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: justify;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: georgia;\"><span style=\"mso-tab-count: 2;\">Penulis&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<\/span>: <span style=\"mso-tab-count: 1;\">&nbsp;<\/span>Aditya<br \/>\nRamadan<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 115%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Editor&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;:&nbsp; Danadyaksa,&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><span style=\"font-family: georgia;\">Vicky Sa&#8217;adah<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: normal; text-align: justify;\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;(Koleksi:&nbsp;https:\/\/sluggerotoole.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Olympe-de-Gouges.webp)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":216,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,5,3,4],"tags":[],"class_list":["post-7","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kiriman-pembaca","category-sanskerta","category-sejarah","category-tokoh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":217,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7\/revisions\/217"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/216"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}