{"id":65,"date":"2020-10-04T11:18:00","date_gmt":"2020-10-04T11:18:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=65"},"modified":"2020-10-04T11:18:00","modified_gmt":"2020-10-04T11:18:00","slug":"cinta-membawa-asa-bagi-penikmatnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=65","title":{"rendered":"Cinta Membawa Asa Bagi Penikmatnya"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;Cerpenis: Alhidayath Parinduri<\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhsVilnFE0G227D8pqdHbDUhbswLWhr-2z48g362zUo6ff-XSeBugIGU-kIbo8IpzHUzMjzv2nG10BDRDUk4WIiSIxMxeQdptYOIHJEKNzk8oP2kd_73x1tw75q0YEKhk1531UGGikZCkzq\/s745\/Dayath.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"489\" data-original-width=\"745\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhsVilnFE0G227D8pqdHbDUhbswLWhr-2z48g362zUo6ff-XSeBugIGU-kIbo8IpzHUzMjzv2nG10BDRDUk4WIiSIxMxeQdptYOIHJEKNzk8oP2kd_73x1tw75q0YEKhk1531UGGikZCkzq\/s320\/Dayath.jpg\" width=\"320\" \/><\/a><\/div>\n<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\"><\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\">\u201cCinta itu seperti angin<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\">kau tidak bisa melihatnya<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\">namun kau bisa merasakannya\u201d Nicholas<br \/>\nSparks<\/span><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\">Namaku Andi Sandoro, usiaku 19 tahun.<br \/>\nSesuai dengan usiaku saat ini aku sedang&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\">menempuh pendidikan di salah satu<br \/>\nperguruan tinggi negeri di Indonesia. Di masa depan aku&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">memiliki impian untuk menjadi Presiden<br \/>\nRepublik Indonesia dan membawa negara Indonesia&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">menjadi negara adikuasa. Untuk<br \/>\nmewujudkan impian itu bukanlah semudah membalikkan&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">telapak tangan.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Apalagi di zaman<br \/>\nsekarang, remaja sepertiku dihadapkan dengan ujian&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">percintaan, berpacaran, dan pergaulan<br \/>\nremaja lainnya. Oleh karena itu aku dituntut harus&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">tetap fokus pada tujuan yang ingin<br \/>\ndiwujudkan. Tetapi, bukan hidup namanya jika tidak&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">pernah diuji. Aku mengalami perasaan<br \/>\ncinta yang mampu menggoyahkan pendirianku&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">tentang hakikat cinta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Saat itu aku duduk di kelas XI Sekolah Menengah Atas,<br \/>\nsuatu ketika saat jam istirahat bersama teman&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">aku bermain bola. Aku bermain sebagai<br \/>\npenjaga gawang, suatu ketika tim lawan menendang&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">bola ke arah gawangku namun tidak<br \/>\ntepat sasaran dan bola mengarah ke sebuah kelas.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Ketika&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">ingin mengambil bola tersebut tidak<br \/>\nsengaja aku melihat seorang wanita keluar dari kelas&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">tersebut untuk membuang sampah di<br \/>\nsengaja atau tidak dia menatap ku dengan senyuman.&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">Kemudian ku lihat kelas itu dan<br \/>\nternyata dia adik kelas ku karena papan yang tertera di depan&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">kelas itu adalah kelas X. Namun,<br \/>\nkarena saat itu sedang bermain aku tak menghiraukan dan&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">segera kembali ke lapangan untuk<br \/>\nmelanjutkan permainan.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Bel masuk berbunyi kami&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">bergegas masuk kelas untuk melanjutkan<br \/>\npelajaran. Tibalah saatnya untuk kami pulang aku&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">bersama teman-teman masih berkumpul<br \/>\ndan ngobrol sembari menunggu angkutan umum.&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">Bak kata pepatah \u201c<i>pucuk dicinta ulan<br \/>\npun tiba<\/i>\u201d dari luar pagar sekolah ku melihat&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">seorang wanita berjalan keluar dan<br \/>\nwanita itu adalah orang yang menatapku dengan&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">senyuman ketika aku mengambil bola<br \/>\ntadi.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Aku pun kembali teringat dengan peristiwa jam&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">istirahat tadi tanpa sadar hal itu<br \/>\nmembuat ku senyum-senyum sendiri sampai pada akhirnya&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">angkutan umum datang dan teman-teman<br \/>\nmenyadarkanku dari lamunan. Sesampai di rumah&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">aku kembali mengingat kejadian<br \/>\ntersebut dan membuatku ingin mencari tahu siapa sosok&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">wanita itu. Namun, karena prinsip dan<br \/>\nfokusku untuk masa depan akhirnya aku urungkan hal&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">itu dan ku jalani hari-hari seperti<br \/>\nbiasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Hari berganti hari rasanya aku tidak<br \/>\nbisa menolak keinginan hati untuk mencari tahu&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">sosok wanita itu. Ketika libur<br \/>\nsemester tiba aku menikmatinya dengan bersantai sambil&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">memainkan media sosial. Lagi dan lagi<br \/>\nentah mengapa momentum itu selalu datang tepat&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">waktu ku lihat foto wanita itu di<br \/>\nmedia sosial, (sambil bergumam dalam hati) \u201c<i>kesempatan&nbsp;<\/i><\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><i>tidak datang dua kali, jadi jangan<br \/>\nlewatkan kesempatan itu<\/i>\u201d.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Langsung saja aku buka dan&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">penglihatanku tidak salah itu adalah<br \/>\nmedia sosialnya. Dia bernama Putri. Setelah itu ku&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">beranikan diri untuk sekedar mengirim<br \/>\npesan singkat tanda perkenalan. Dia membalas&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">pesanku dan terjadi balas membalas<br \/>\npesan sampai pada akhirnya ku coba meminta id <i>line<\/i>-nya&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">lalu dia memberikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Sejak saat itu aku dan dia mulai<br \/>\nakrab, sering <i>chatting<\/i>-an, dan saling tukar pendapa&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">tentang kehidupan. Aku merasakan ada<br \/>\nsuatu yang berbeda ketika melihatnya di sekolah&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">maupun saat <i>chatting-<\/i>an. Apakah ini<br \/>\nyang dinamakan cinta? Entahlah aku tidak bisa&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">menggambarkannya namun bisa dirasakan.<br \/>\nKian hari kehidupan yang ku jalani terasa indah&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">dan bermakna. Aku merasakan indahnya<br \/>\nberjuang untuk menggapai masa depan dan juga&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">indahnya perasaan jatuh cinta kepada<br \/>\nseorang wanita, walaupun sebenarnya aku telah&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">menghianati prinsipku sendiri yang<br \/>\njelas perasaan itu menjadi penyemangat dalam menjalani&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Perasaan kepadanya masihku simpan<br \/>\nsampai suatu ketika aku tidak mampu lagi&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">menyembunyikan itu dan ku coba untuk<br \/>\nmengutarakan. Saat itu malam sedang hujan, aku&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">mengirim pesan kepadanya, ternyata dia<br \/>\nbaru saja pulang dari kediaman saudaranya karena&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">ada pesta pernikahan kakak sepupunya.<br \/>\nSetelah membuka dengan sedikit basa-basi, ku&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">beranikan diri untuk mengutarakan<br \/>\nperasaan kepadanya melalui pesan.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">\u201cJ<i>adi gini, sebenarnya abang suka dan<br \/>\ncinta sama putri sejak pertama kali kita kenal, tapi&nbsp;<\/i><\/span><i><span style=\"font-size: 12pt;\">awal abang tahu Putri saat main bola<br \/>\ndan waktu itu lawan nendang bola ke arah gawang&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">abang, terus bolanya melesat ke arah<br \/>\nkelas putri pas mau ambil bola abang lihat Putri dan P<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">utri juga lihat sambil senyum gitu.<br \/>\nYa sejak itu sih langsung ada hal lain yang abang&nbsp;<\/span><\/i><span style=\"font-size: 12pt;\"><i>rasakan<\/i>.\u201d Pesanku kepadanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;\">\u201c<i>Ohh gitu, jadi itu yang mau abang<br \/>\nbilang ke Putri<\/i>.\u201d Balasnya.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">\u201c<i>Hehehe, iya Put. itu yang mau abang<br \/>\nbilang, tapi putri jangan berpikir kalau abang mau ajak&nbsp;<\/i><\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><i>putri pacaran. Abang sih cuma mau<br \/>\nutarakan apa yang udah lama abang rasakan<\/i>&#8220;. Balasku&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">\u201c<i>Iya bang, gapapa kok namanya juga<br \/>\nperasaan jadi wajar-wajar sih, tapi saat ini putri gak bisa&nbsp;<\/i><\/span><i><span style=\"font-size: 12pt;\">kasih jawaban apa-apa. Ini aja masih<br \/>\nkaget gitu baca pesan abang. Ya yang penting sekarang&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">Putri sudah tahu perasaan abang.<br \/>\nOkedeh bang, berhubung putri capek jadi mau tidur duluan&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">ya.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"> Assalamua\u2019laikum<\/span><\/i><span style=\"font-size: 12pt;\"><i> bang<\/i>.\u201d Balasnya<br \/>\nkembali<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Sejak saat itu kami semakin dekat, ya<br \/>\nbisa dikatak sudah seperti orang yang&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">berpacaran. Suatu ketika, aku mencoba<br \/>\nuntuk menanyakan respon dia terkait perasaan ku&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">dengannya dia menjawab \u201c<i>Ya, putri<br \/>\nmasih belum bisa jawab sekarang, semoga apa yang&nbsp;<\/i><\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><i>abang harapkan dari jawaban putri akan<br \/>\nindah pada waktunya.<\/i>\u201d Jawaban tersebut semakin&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">membuat rasa penasaran dengan dia<br \/>\nsemakin bertambah, namun aku masih tetap berpikir aku&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">tidak boleh larut dengan perasaan ini<br \/>\nmasa depan lebih penting dari perasaan yang belum&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">pasti ini.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Jadi, saat ini harapanku<br \/>\nhanya satu, yaitu belajar dan menimba diri untuk&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">mewujudkan impianku menjadi Presiden<br \/>\nRepublik Indonesia.&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">Suatu hari, entah mengapa tiba-tiba<br \/>\ndia tidak mau berkomunikasi denganku. Aku coba&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">menghubungi namun tidak dibalas. Aku<br \/>\nberusaha menyelidiki apa yang menyebabkan dia&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">seperti itu. Ku tanya kepada<br \/>\nsahabatnya, namun tidak menjawab apa-apa.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Sampai akhirnya&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">pernah aku lihat dia sedang tertawa<br \/>\nbahagia dengan pria lain dan seketika aku menduga&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">bahwa ini adalah penyebabnya. Sejak<br \/>\nmengetahui hal tersebut aku terus menghubunginya,&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">namun dia tidak membalas apapun pesan<br \/>\nyang ku kirim. Karena kejadian itu aku sempat&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">bingung, tetapi aku berpikir<br \/>\nyasudahlah jika memang begini jalannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Sampai saat ini, aku belum mengetahui<br \/>\njawaban apa yang akan dikatakan oleh wanita&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">itu kepadaku, walaupun kita tidak<br \/>\nsaling berkomunikasi lagi. Aku ucapkan terima kasih&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">untukmu yang telah mewarnai hari-hari<br \/>\nku dalam mewujudkan masa depan dan menjadikan&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">ku terlatih menghadapi cobaan dalam<br \/>\nkehidupan.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\">Besar harapanku jawaban itu sesuai dengan&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">apa yang pernah dituliskannya kepadaku<br \/>\nmelalui pesan singkat, yaitu sesuai harapanku dan&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">akan indah pada waktunya. Saat ini aku<br \/>\nhanya bisa menyerahkan segalanya kepada Tuhan.&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">Jika, kita ditakdirkan hidup bersama<br \/>\nmaka suatu saat kita akan kembali bertemu. Namun, jika&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">sebaliknya maka aku doakan semoga kau<br \/>\nmendapatkan orang terbaik.<\/span><\/p>\n<p><span><\/p>\n<div style=\"text-align: center;\"><span>&nbsp;<\/span><span>*END*<\/span><\/div>\n<p><\/span><\/p>\n<p><span><br \/><\/span><\/p>\n<p><span><b><i>*Cerita ini berdasarkan pengalaman dari Penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, alur cerita, dan tempat adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.<\/i><\/b><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp;Cerpenis: Alhidayath Parinduri \u201cCinta itu seperti angin kau tidak bisa melihatnya namun kau bisa merasakannya\u201d Nicholas Sparks Namaku Andi Sandoro, usiaku 19 tahun. Sesuai dengan usiaku saat ini aku sedang&nbsp;menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia. Di masa depan aku&nbsp;memiliki impian untuk menjadi Presiden Republik Indonesia dan membawa negara Indonesia&nbsp;menjadi negara adikuasa. Untuk mewujudkan impian itu bukanlah semudah membalikkan&nbsp;telapak tangan.&nbsp; Apalagi di zaman sekarang, remaja sepertiku dihadapkan dengan ujian&nbsp;percintaan, berpacaran, dan pergaulan remaja lainnya. Oleh karena itu aku dituntut harus&nbsp;tetap fokus pada tujuan yang ingin diwujudkan. Tetapi, bukan hidup namanya jika tidak&nbsp;pernah diuji. Aku mengalami perasaan cinta yang mampu menggoyahkan pendirianku&nbsp;tentang hakikat cinta. Saat itu aku duduk di kelas XI Sekolah Menengah Atas, suatu ketika saat jam istirahat bersama teman&nbsp;aku bermain bola. Aku bermain sebagai penjaga gawang, suatu ketika tim lawan menendang&nbsp;bola ke arah gawangku namun tidak tepat sasaran dan bola mengarah ke sebuah kelas.&nbsp; Ketika&nbsp;ingin mengambil bola tersebut tidak sengaja aku melihat seorang wanita keluar dari kelas&nbsp;tersebut untuk membuang sampah di sengaja atau tidak dia menatap ku dengan senyuman.&nbsp;Kemudian ku lihat kelas itu dan ternyata dia adik kelas ku karena papan yang tertera di depan&nbsp;kelas itu adalah kelas X. Namun, karena saat itu sedang bermain aku tak menghiraukan dan&nbsp;segera kembali ke lapangan untuk melanjutkan permainan.&nbsp; Bel masuk berbunyi kami&nbsp;bergegas masuk kelas untuk melanjutkan pelajaran. Tibalah saatnya untuk kami pulang aku&nbsp;bersama teman-teman masih berkumpul dan ngobrol sembari menunggu angkutan umum.&nbsp;Bak kata pepatah \u201cpucuk dicinta ulan pun tiba\u201d dari luar pagar sekolah ku melihat&nbsp;seorang wanita berjalan keluar dan wanita itu adalah orang yang menatapku dengan&nbsp;senyuman ketika aku mengambil bola tadi.&nbsp; Aku pun kembali teringat dengan peristiwa jam&nbsp;istirahat tadi tanpa sadar hal itu membuat ku senyum-senyum sendiri sampai pada akhirnya&nbsp;angkutan umum datang dan teman-teman menyadarkanku dari lamunan. Sesampai di rumah&nbsp;aku kembali mengingat kejadian tersebut dan membuatku ingin mencari tahu siapa sosok&nbsp;wanita itu. Namun, karena prinsip dan fokusku untuk masa depan akhirnya aku urungkan hal&nbsp;itu dan ku jalani hari-hari seperti biasanya. Hari berganti hari rasanya aku tidak bisa menolak keinginan hati untuk mencari tahu&nbsp;sosok wanita itu. Ketika libur semester tiba aku menikmatinya dengan bersantai sambil&nbsp;memainkan media sosial. Lagi dan lagi entah mengapa momentum itu selalu datang tepat&nbsp;waktu ku lihat foto wanita itu di media sosial, (sambil bergumam dalam hati) \u201ckesempatan&nbsp;tidak datang dua kali, jadi jangan lewatkan kesempatan itu\u201d.&nbsp; Langsung saja aku buka dan&nbsp;penglihatanku tidak salah itu adalah media sosialnya. Dia bernama Putri. Setelah itu ku&nbsp;beranikan diri untuk sekedar mengirim pesan singkat tanda perkenalan. Dia membalas&nbsp;pesanku dan terjadi balas membalas pesan sampai pada akhirnya ku coba meminta id line-nya&nbsp;lalu dia memberikan. Sejak saat itu aku dan dia mulai akrab, sering chatting-an, dan saling tukar pendapa&nbsp;tentang kehidupan. Aku merasakan ada suatu yang berbeda ketika melihatnya di sekolah&nbsp;maupun saat chatting-an. Apakah ini yang dinamakan cinta? Entahlah aku tidak bisa&nbsp;menggambarkannya namun bisa dirasakan. Kian hari kehidupan yang ku jalani terasa indah&nbsp;dan bermakna. Aku merasakan indahnya berjuang untuk menggapai masa depan dan juga&nbsp;indahnya perasaan jatuh cinta kepada seorang wanita, walaupun sebenarnya aku telah&nbsp;menghianati prinsipku sendiri yang jelas perasaan itu menjadi penyemangat dalam menjalani&nbsp;kehidupan. Perasaan kepadanya masihku simpan sampai suatu ketika aku tidak mampu lagi&nbsp;menyembunyikan itu dan ku coba untuk mengutarakan. Saat itu malam sedang hujan, aku&nbsp;mengirim pesan kepadanya, ternyata dia baru saja pulang dari kediaman saudaranya karena&nbsp;ada pesta pernikahan kakak sepupunya. Setelah membuka dengan sedikit basa-basi, ku&nbsp;beranikan diri untuk mengutarakan perasaan kepadanya melalui pesan.&nbsp; \u201cJadi gini, sebenarnya abang suka dan cinta sama putri sejak pertama kali kita kenal, tapi&nbsp;awal abang tahu Putri saat main bola dan waktu itu lawan nendang bola ke arah gawang&nbsp;abang, terus bolanya melesat ke arah kelas putri pas mau ambil bola abang lihat Putri dan Putri juga lihat sambil senyum gitu. Ya sejak itu sih langsung ada hal lain yang abang&nbsp;rasakan.\u201d Pesanku kepadanya. \u201cOhh gitu, jadi itu yang mau abang bilang ke Putri.\u201d Balasnya.&nbsp; \u201cHehehe, iya Put. itu yang mau abang bilang, tapi putri jangan berpikir kalau abang mau ajak&nbsp;putri pacaran. Abang sih cuma mau utarakan apa yang udah lama abang rasakan&#8220;. Balasku&nbsp;lagi. \u201cIya bang, gapapa kok namanya juga perasaan jadi wajar-wajar sih, tapi saat ini putri gak bisa&nbsp;kasih jawaban apa-apa. Ini aja masih kaget gitu baca pesan abang. Ya yang penting sekarang&nbsp;Putri sudah tahu perasaan abang. Okedeh bang, berhubung putri capek jadi mau tidur duluan&nbsp;ya. Assalamua\u2019laikum bang.\u201d Balasnya kembali Sejak saat itu kami semakin dekat, ya bisa dikatak sudah seperti orang yang&nbsp;berpacaran. Suatu ketika, aku mencoba untuk menanyakan respon dia terkait perasaan ku&nbsp;dengannya dia menjawab \u201cYa, putri masih belum bisa jawab sekarang, semoga apa yang&nbsp;abang harapkan dari jawaban putri akan indah pada waktunya.\u201d Jawaban tersebut semakin&nbsp;membuat rasa penasaran dengan dia semakin bertambah, namun aku masih tetap berpikir aku&nbsp;tidak boleh larut dengan perasaan ini masa depan lebih penting dari perasaan yang belum&nbsp;pasti ini.&nbsp; Jadi, saat ini harapanku hanya satu, yaitu belajar dan menimba diri untuk&nbsp;mewujudkan impianku menjadi Presiden Republik Indonesia.&nbsp;Suatu hari, entah mengapa tiba-tiba dia tidak mau berkomunikasi denganku. Aku coba&nbsp;menghubungi namun tidak dibalas. Aku berusaha menyelidiki apa yang menyebabkan dia&nbsp;seperti itu. Ku tanya kepada sahabatnya, namun tidak menjawab apa-apa.&nbsp; Sampai akhirnya&nbsp;pernah aku lihat dia sedang tertawa bahagia dengan pria lain dan seketika aku menduga&nbsp;bahwa ini adalah penyebabnya. Sejak mengetahui hal tersebut aku terus menghubunginya,&nbsp;namun dia tidak membalas apapun pesan yang ku kirim. Karena kejadian itu aku sempat&nbsp;bingung, tetapi aku berpikir yasudahlah jika memang begini jalannya. Sampai saat ini, aku belum mengetahui jawaban apa yang akan dikatakan oleh wanita&nbsp;itu kepadaku, walaupun kita tidak saling berkomunikasi lagi. Aku ucapkan terima kasih&nbsp;untukmu yang telah mewarnai hari-hari ku dalam mewujudkan masa depan dan menjadikan&nbsp;ku terlatih menghadapi cobaan dalam kehidupan.&nbsp; Besar harapanku jawaban itu sesuai dengan&nbsp;apa yang pernah dituliskannya kepadaku melalui pesan singkat, yaitu sesuai harapanku dan&nbsp;akan indah pada waktunya. Saat ini aku hanya bisa menyerahkan segalanya kepada Tuhan.&nbsp;Jika, kita ditakdirkan hidup bersama maka suatu saat kita akan kembali bertemu. Namun, jika&nbsp;sebaliknya maka aku doakan semoga kau mendapatkan orang terbaik. &nbsp;*END* *Cerita ini berdasarkan pengalaman dari Penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, alur cerita, dan tempat adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-65","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/65","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=65"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/65\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=65"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=65"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=65"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}