{"id":62,"date":"2020-10-07T12:53:00","date_gmt":"2020-10-07T12:53:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=62"},"modified":"2020-10-07T12:53:00","modified_gmt":"2020-10-07T12:53:00","slug":"bagaimana-malaka-bisa-menjadi-pusat-perdagangan-utama-di-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=62","title":{"rendered":"Bagaimana Malaka Bisa Menjadi Pusat Perdagangan Utama di Nusantara?"},"content":{"rendered":"<p>Penulis: Muhammad Lazuardi Krisantya<\/p>\n<p>Editor: Muhammad Fachrul Rabul<\/p>\n<table align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\">\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi60whMyJhPz-7YjczUPyV0FKtYjbMxuzoSm7_C874hawpTD66_xxp6aOvIBLfaUsuuEnNk1bQqpHV-bN55uVGePxCqqFpK9MHubYpDV_qf0JeosqgsCxoh1CSgOYBRmHm7JqVyUBE1JKYg\/s1280\/WhatsApp+Image+2020-10-06+at+12.44.03.jpeg\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"731\" data-original-width=\"1280\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi60whMyJhPz-7YjczUPyV0FKtYjbMxuzoSm7_C874hawpTD66_xxp6aOvIBLfaUsuuEnNk1bQqpHV-bN55uVGePxCqqFpK9MHubYpDV_qf0JeosqgsCxoh1CSgOYBRmHm7JqVyUBE1JKYg\/s320\/WhatsApp+Image+2020-10-06+at+12.44.03.jpeg\" width=\"320\" \/><\/a><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\">Hang Tuah, Laksamana kerajaan Melaka yang melegenda di Tanah Melayu.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Antara abad ke-15 dan abad ke-16, Kesultanan Malaka<br \/>\natau Melaka di Semenanjung Melayu merupakan salah satu negara paling<br \/>\nberpengaruh di Asia Tenggara. Hal ini tak lepas dari status yang berhasil<br \/>\ndisandang oleh ibukotanya, Bandar Malaka, yang oleh orang Eropa dijuluki<br \/>\nsebagai \u201cVenesia dari Timur\u201d. Bandar Malaka adalah pusat perdagangan utama di<br \/>\nNusantara dan salah satu yang terpenting di seluruh Asia sepanjang<br \/>\neksistensinya sebagai ibukota Kesultanan Malaka. Mengapa dan bagaimanakah<br \/>\nsejarahnya?<\/span><\/p>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Malaka didirikan oleh Parameswara, seorang bangsawan<br \/>\nMelayu yang telah melanglangbuana sebagai penguasa di Palembang dan Singapura. Pada<br \/>\nawalnya, Malaka hanyalah sebuah kampung nelayan kecil milik suku Orang Laut yang<br \/>\nterletak di pesisir selatan Semenanjung Melayu. Antara tahun 1398 dan 1402,<br \/>\nParameswara tiba di tempat ini setelah ia terusir dari kerajaannya di Pulau<br \/>\nTemasek atau Singapura yang runtuh akibat serangan-serangan militer dari Majapahit<br \/>\ndan Ayutthaya, kekuatan-kekuatan regional utama di Asia Tenggara saat itu.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Epos Dinasti Malaka, <\/span><i style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Sejarah Melayu <\/i><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">atau <\/span><i style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Sulalatus<br \/>\nSalatin<\/i><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"> menyatakan bahwa Parameswara tiba di Malaka setelah beberapa kali<br \/>\nberpindah tempat dalam pelariannya dari Singapura. Ia akhirnya memutuskan untuk<br \/>\nmenetap di sana, setelah melihat suatu interaksi antara anjing-anjing pemburu<br \/>\nmilik pengawalnya dan seekor kancil liar yang melewati mereka. Si kancil dapat<br \/>\nmemperdaya dan menceburkan anjing-anjing itu ke sungai, \u201cmengalahkan\u201d mereka. Peristiwa<br \/>\nini mengilhaminya untuk tinggal dan mengembangkan permukiman di tempat itu. Permukiman<br \/>\nini dinamakannya Malaka, merujuk kepada nama pohon yang menaungi dirinya saat<br \/>\nia menyaksikan peristiwa tadi. Permukiman ini kemudian disatukan dengan kampung<br \/>\nnelayan Orang Laut di daerah itu, di mana penduduknya bersedia mengabdi kepada<br \/>\nParameswara.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Pendirian Malaka diperkirakan terjadi pada tahun<br \/>\n1402. Berbekal status dan pengalaman sebelumnya sebagai seorang bangsawan<br \/>\nMelayu dan raja Singapura, Parameswara mengangkat dirinya sebagai Raja Malaka.<br \/>\nSebuah kerajaan baru pun telah lahir. Parameswara berkeinginan agar kerajaannya<br \/>\nini mampu meraih kesuksesan dan kekayaan yang sama dengan Kerajaan Singapura<br \/>\nyang dahulu dipimpin olehnya. Pertama-tama, ia harus mengamankan diri dari<br \/>\nambisi imperium-imperium besar yang mengelilinginya, Majapahit dan Ayutthaya.<br \/>\nBeruntunglah ia karena pada tahun 1405, Kekaisaran Ming Cina \u2013 negara terkuat<br \/>\ndi Asia dan salah satu yang terkuat di dunia saat itu \u2013 tengah mengadakan<br \/>\nekspedisi \u2018Armada Harta Karun\u2019-nya untuk menjamin keamanan jaringan perdagangan<br \/>\ninternasional di Samudera Hindia dan Pasifik Barat. Armada ini dipimpin oleh<br \/>\nlaksamana laut Cina Muslim yang terkenal itu, Cheng Ho.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Malaka adalah salah satu tempat yang dikunjungi oleh<br \/>\narmada Cheng Ho dalam ekspedisi pertamanya pada tahun 1405. Sebelumnya, Cina<br \/>\nsudah pernah mengirim misi perutusan pimpinan Yin Ching ke Malaka pada tahun<br \/>\n1403. Yin Ching melaporkan bahwa saat itu Malaka masih merupakan sebuah negara<br \/>\nkecil yang tidak penting. Ia juga menyatakan bahwa Kerajaan Malaka adalah negara<br \/>\nbawahan dari Kerajaan Siam atau Ayutthaya, di mana ia diwajibkan mengirim upeti<br \/>\ntahunan berupa 40 tahil emas. Ini menunjukkan bahwa pada masa awal berdirinya,<br \/>\nMalaka belum mempunyai kekuatan dan pengaruh yang cukup untuk melawan salah<br \/>\nsatu imperium tetangganya, sehingga terpaksa menjadi vasalnya.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Kedatangan armada Cheng Ho dimanfaatkan dengan baik<br \/>\noleh Parameswara, di mana ia segera menawarkan Malaka untuk menjadi \u201cnegara<br \/>\nnaungan\u201d dari Kekaisaran Ming. Hal ini dilakukannya agar apabila salah satu<br \/>\nkerajaan tetangganya datang menyerang, mereka harus berpikir dua kali karena<br \/>\nMalaka telah mendapat perlindungan dari Cina. Selain itu, hubungan dengan Cina<br \/>\njuga mampu meningkatkan wibawanya, karena Kekaisaran Cina merupakan sebuah<br \/>\nnegara besar yang oleh penduduk Asia Timur dan Asia Tenggara saat itu dipandang<br \/>\nsebagai \u201cpusat dunia\u201d. Setelah resmi mendapatkan status sebagai negara naungan,<br \/>\nParameswara \u2013 dengan menumpang armada Cheng Ho pada tahun 1411 \u2013 mengadakan<br \/>\nkunjungan ke Nanjing (ibukota Kekaisaran Ming saat itu) untuk menghadap Kaisar Cina,<br \/>\nYongle. Parameswara didampingi oleh keluarga dan pengikutnya yang berjumlah 540<br \/>\norang, dan diterima dengan baik oleh Kaisar Yongle.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Meskipun secara resmi Malaka berstatus sebagai<br \/>\nnegara naungan Cina, namun dalam prakteknya ia adalah negara yang berdaulat. Kekaisaran<br \/>\nMing tidak menempatkan suatu garnisun militer di Malaka dan negara naungan<br \/>\nlainnya, melainkan hanya mendirikan <\/span><i style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">guan-chang<\/i><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"> atau gudang penyimpanan<br \/>\nbarang-barang dagang. Gudang-gudang ini dikelola oleh sejumlah pejabat Cina<br \/>\nyang dilantik oleh Laksamana Cheng Ho sebagai perwakilan resmi Kekaisaran Ming.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Keberuntungan rupanya masih berpihak kepada<br \/>\nParameswara. Pada tahun 1404, Kerajaan Majapahit di Jawa, yang kala itu membawahi<br \/>\nbanyak negara di Nusantara, terjebak di tengah perang saudara yang destruktif. Perang<br \/>\nini, yang dinamakan Paregreg, berlangsung selama kurang lebih dua tahun<br \/>\n(1404-1406) dan menghancurkan kekuatan angkatan laut Majapahit yang pada abad<br \/>\nke-14 telah dapat \u201cmengamankan\u201d sebagian besar Asia Tenggara Kepulauan dari<br \/>\ndominasi Kekaisaran Yuan Mongol di utara dan menyatukan wilayah itu ke dalam<br \/>\nsatu mandala besar yang berpusat di Pulau Jawa. Perang Paregreg dimanfaatkan<br \/>\noleh sejumlah vasal Majapahit di luar Jawa untuk melepaskan diri. Mereka merasa<br \/>\nbahwa tak ada gunanya lagi untuk bernaung di bawahnya. Serupa dengan Malaka,<br \/>\nmereka menawarkan diri kepada Armada Harta Karun Cheng Ho yang tengah berkunjung<br \/>\nuntuk diakui sebagai naungan Kekaisaran Ming. Di antara negara-negara ini<br \/>\nadalah Brunei di Kalimantan dan Aru di Sumatera, yang berkat intervensi Ming<br \/>\nberhasil lepas dari Majapahit pada tahun 1408.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Kerajaan Malaka di bawah Parameswara juga<br \/>\nmemanfaatkan melemahnya pengaruh Majapahit untuk melancarkan perluasan<br \/>\nkekuasaan. Ia menaklukkan sebagian besar wilayah Johor (Ujong Tanah, Batu<br \/>\nPahat, Muar, Pagoh, Segamat) dan Selangor (Kelang, Linggi). Ia juga berhasil<br \/>\nmerebut kembali Singapura. Majapahit tak mampu melakukan apa-apa untuk membalas<br \/>\nhal ini, karena selain kekuatannya belum pulih akibat Perang Paregreg, ia juga<br \/>\nmengetahui bahwa Malaka telah mendapat perlindungan dari Cina.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Sebaliknya, muncul reaksi berbeda dari tetangga<br \/>\nMalaka di utara. Kerajaan Ayutthaya justru menanggapi ekspansi Malaka dengan<br \/>\nmenyerangnya. Ia melihat Malaka sebagai vasal yang memberontak. Antara tahun<br \/>\n1409 dan 1456, Ayutthaya diketahui berkali-kali menyerang Malaka, baik dalam<br \/>\nwujud ekspedisi militer ataupun serangan penjarahan. Ini menimbulkan amarah<br \/>\nKaisar Cina, yang pada tahun 1431 mengirimkan surat bernada ancaman kepada Raja<br \/>\nSiam, Samphraya atau Borommarachathirat II untuk menghentikan permusuhannya<br \/>\ndengan Malaka. Intervensi Cina berhasil meredakan permusuhan Ayutthaya-Malaka<br \/>\nsecara berangsur-angsur, yang kemudian berubah menjadi hubungan perdagangan<br \/>\nyang baik. Perdamaian ini menunjukkan besarnya wibawa Kekaisaran Ming Cina sebagai<br \/>\nnegara terkuat dan paling berpengaruh di Asia pada abad ke-15.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Awal perkembangan Malaka sebagai pusat perdagangan<br \/>\ninternasional dimulai sekitar tahun 1409-1414. Tome Pires dalam <\/span><i style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Suma<br \/>\nOriental<\/i><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"> mencatat bahwa kala itu Raja Malaka menghubungi Raja Jawa<br \/>\n(Majapahit) dan mengutarakan keinginannya untuk mengembangkan pelabuhan Malaka.<br \/>\nParameswara menyatakan bahwa untuk mencapai hal itu, ia harus menarik<br \/>\norang-orang Jawa yang merupakan kaum dagang paling dominan di Nusantara pada<br \/>\nabad ke-15. Saat itu, pedagang-pedagang Jawa lebih suka singgah di pelabuhan<br \/>\nPasai di Sumatera, yang merupakan pusat perdagangan utama di Selat Malaka sejak<br \/>\nakhir abad ke-13. Raja Jawa, Wikramawardhana mengabulkan keinginannya. Namun,<br \/>\nia menyatakan bahwa Parameswara harus turut meminta izin kepada Raja Pasai. Sejak<br \/>\nlama, pedagang Jawa telah mendapat perlakuan istimewa dari Kerajaan Samudera Pasai<br \/>\nyang tidak memberlakukan pungutan pajak kepada mereka. Samudera Pasai sendiri<br \/>\nkala itu tengah menikmati puncak kejayaannya, di bawah pimpinan Sri Ratu<br \/>\nNahrasyah.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Parameswara menuruti permintaan Wikramawardhana. Ia<br \/>\nmenghubungi Ratu Nahrasyah dan menyampaikan maksudnya. Sang Ratu bersedia<br \/>\nmengabulkan keinginannya itu dengan satu syarat, yakni agar Parameswara mau<br \/>\nmemeluk Islam terlebih dahulu. Raja Malaka itu setuju, dan ia pun menjadi<br \/>\nseorang Muslim. Ia menikahi seorang putri dari Pasai untuk mempererat<br \/>\nhubungannya dengan kerajaan itu, kemudian mengganti nama gelarnya menjadi<br \/>\n\u201cSultan Iskandar Syah\u201d. Sebagian besar penduduk Malaka mengikuti jejak rajanya,<br \/>\ndi mana mereka berbondong-bondong memeluk Islam dengan sukarela. Fenomena ini<br \/>\nnantinya menjadi tren di banyak kerajaan Nusantara ketika Islam semakin<br \/>\nberkembang pesat dalam abad-abad berikutnya.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Keberhasilan diplomasi yang dilakukan oleh<br \/>\nParameswara ini berbuah keberuntungan ganda kepadanya. Selain berhasil menggaet<br \/>\npara pedagang Jawa ke pelabuhan Malaka, status barunya sebagai seorang raja<br \/>\nMuslim juga berhasil menarik pedagang-pedagang Muslim dari India, Persia, dan<br \/>\nArab. Ekspedisi Dinasti Ming yang masih terus berlangsung hingga tahun 1433<br \/>\njuga ikut memberikan sumbangan. Orang-orang Cina berdatangan dan mulai menetap di<br \/>\nMalaka, khususnya orang Hui Muslim yang membentuk sebagian kru Armada Harta<br \/>\nKarun Cheng Ho. Parameswara berhasil menggapai impiannya untuk menjadikan<br \/>\nMalaka sebagai pusat perdagangan yang sukses seperti Singapura sebelumnya,<br \/>\nbahkan kini jauh melampauinya. Malaka pun berangsur-angsur berkembang menjadi<br \/>\npusat perdagangan utama di Nusantara, dan salah satu titik terpenting dalam<br \/>\njaringan perdagangan internasional Samudera Hindia.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Perubahan Malaka menjadi negara Islam dan<br \/>\nperkembangannya sebagai pusat perdagangan internasional, tak dapat dilepaskan<br \/>\ndari keberhasilan diplomasi Parameswara dalam berhubungan dengan<br \/>\nkerajaan-kerajaan besar di sekitarnya, terutama Samudera Pasai, Majapahit, dan<br \/>\nMing. Raja-raja Malaka berikutnya melanjutkan kebijakan Parameswara. Raja<br \/>\nterbesarnya, Sultan Mansur Syah (1456-1477), mempererat hubungan diplomatiknya<br \/>\ndengan ketiga kerajaan besar itu, yang telah ikut berkontribusi dalam<br \/>\nperkembangan Malaka menjadi pelabuhan dagang utama di Nusantara.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Sultan Mansur Syah menikahi seorang putri Cina<br \/>\nbernama Hang Li Po atau Hang Liu, yang oleh naskah-naskah Melayu disebutkan<br \/>\nsebagai putri dari Kaisar Cina, meskipun lebih mungkin jika ia merupakan putri<br \/>\ndari pejabat yang kedudukannya lebih rendah, barangkali syahbandar dari salah<br \/>\nsatu kota pelabuhan di Cina Selatan, atau kapten kapal yang mempunyai hubungan<br \/>\nbaik dengan Sultan Malaka.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Pada tahun 1459, Sultan Mansur Syah melawat ke Istana<br \/>\nMajapahit di Jawa Timur untuk melamar Raden Galuh Cendera Kirana, seorang putri<br \/>\ndari Raja Majapahit saat itu, Girisawardhana atau Brawijaya III. Lawatan ini<br \/>\ndisambut dengan meriah oleh Majapahit, menunjukkan eratnya hubungan kedua<br \/>\nnegara itu. Raja Majapahit bersedia menikahkan putrinya dengan Sultan Mansur<br \/>\nSyah. Sebagai hadiah atas pernikahan itu, Raja Majapahit bahkan bersedia<br \/>\nmenyerahkan kekuasaannya atas Keritang (Indragiri), Jambi, dan Tungkal di<br \/>\nSumatera serta Siantan di Kepulauan Riau kepada Malaka.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Pada tahun 1468, Malaka mengintervensi sebuah<br \/>\nperebutan tahta di Samudera Pasai. Sultan Mansur Syah mendukung Sultan Zainal<br \/>\nAbidin III yang tersingkir dari tahtanya, dan membantu merebutnya kembali<br \/>\ndengan mengirimkan armada laut Malaka pimpinan Bendahara Tun Perak. Sempat<br \/>\nterjadi ketegangan hubungan setelah penobatan Sultan Zainal Abidin III, di mana<br \/>\nia menolak tawaran Tun Perak yang menginginkan agar Samudera Pasai menjadi<br \/>\nvasal Malaka. Namun, hubungan kedua negara segera membaik dan terus dipererat<br \/>\nlagi, khususnya di bidang keagamaan dan kesusastraan. Dari Samudera Pasai-lah,<br \/>\nMalaka mengadopsi huruf Jawi (Arab Melayu) yang kemudian menjadi standar<br \/>\npenulisan resmi di Dunia Melayu seiring dengan semakin berkembangnya Islam di<br \/>\nkawasan ini.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Masa pemerintahan Sultan Mansur Syah seringkali<br \/>\ndianggap sebagai puncak kejayaan Kesultanan Malaka. Di bawah kekuasaannya,<br \/>\nMalaka melancarkan perluasan wilayah ke Sumatera dan Malaya, baik melalui cara<br \/>\ndamai maupun peperangan. Ia menaklukkan negeri-negeri di Sumatera seperti<br \/>\nRokan, Siak, dan Kampar dengan ekspedisi militer. Raja-rajanya diislamkan dan \u201cdilebur\u201d<br \/>\nke dalam Dinasti Malaka melalui ikatan perkawinan. Ekspansi ke Malaya juga<br \/>\ndilakukan dengan cara serupa, di mana Malaka berhasil menaklukkan Pahang dan<br \/>\nTerengganu. Sementara Indragiri, Jambi, dan Tungkal \u2013 seperti telah disinggung<br \/>\nsebelumnya \u2013 berhasil didapatkan dengan cara damai melalui hubungan pernikahan<br \/>\ndengan Majapahit.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Pada masa kekuasaan Sultan Mansur Syah pula, hidup<br \/>\nHang Tuah, seorang tokoh dalam sejarah Melayu yang sangat dihormati oleh banyak<br \/>\norang Malaysia dan Indonesia modern. Ia menjabat sebagai laksamana dan utusan<br \/>\nresmi Kesultanan Malaka yang telah melanglangbuana ke banyak negara asing. Ia<br \/>\nmerupakan salah seorang pengiring Sultan Mansur Syah dalam lawatannya ke<br \/>\nMajapahit.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Dengan menahkodai kapal ghali kebesaran Malaka, <\/span><i style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Mendam<br \/>\nBerahi<\/i><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">, Hang Tuah telah melakukan lawatan diplomatik ke berbagai negara,<br \/>\ndari Kerajaan Ryukyu di Jepang, Majapahit, Ayutthaya, hingga Kemaharajaan Wijayanagara<br \/>\ndi India. <\/span><i style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Hikayat Hang Tuah <\/i><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">bahkan menyatakan bahwa ia pernah pula<br \/>\nberkunjung ke Mesir (Kesultanan Mamluk) dan Rum (Kesultanan Turki Utsmani),<br \/>\npusat-pusat peradaban Islam di Timur Tengah, di mana ia menyempatkan diri untuk<br \/>\nsinggah di Mekkah dan Madinah, kota-kota paling suci bagi umat Islam.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Berkat kemampuannya sebagai diplomat ulung inilah, Hang<br \/>\nTuah berhasil mempererat dan memperluas hubungan diplomatik Malaka dengan<br \/>\nbanyak kerajaan berpengaruh di sepanjang jalur perdagangan Samudera Hindia dan<br \/>\nPasifik Barat. Dampaknya, Bandar Malaka menjadi semakin ramai. Bertambah banyaklah<br \/>\nbangsa asing yang berdagang di kota itu. Orang Tagalog dari Kerajaan Tondo di Pulau<br \/>\nLuzon hingga orang Somali dari Kesultanan Ajuran di Tanduk Afrika, semuanya<br \/>\nmemiliki pos dagang dan permukiman khusus yang ditata dengan sedemikian rupa dan<br \/>\ndijamin keamanannya oleh pemerintah Kesultanan Malaka.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Pada tahun 1500, populasi total Bandar Malaka<br \/>\ndiperkirakan telah mencapai 100.000 orang. Setiap hari, kota pelabuhan ini<br \/>\ndikunjungi oleh 2000 kapal yang datang dari berbagai arah. Mereka<br \/>\nmemperdagangkan beragam produk, terutama rempah-rempah, teh, serta<br \/>\nbarang-barang keramik dan tekstil. Ketika orang Portugis tiba untuk pertama<br \/>\nkalinya di Malaka pada tahun 1509, mereka menyaksikan sebuah kota yang besar<br \/>\ndan megah dengan masyarakat kosmopolitan yang saling berinteraksi dalam 80<br \/>\nbahasa. Wajar apabila Portugis kemudian mengincar Malaka sebagai sebuah titik<br \/>\npenting yang harus dikuasai untuk memperluas dominasi mereka dalam jaringan<br \/>\nperdagangan Samudera Hindia.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: inherit; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;\">Jadi, bagaimana Malaka bisa menjadi pusat<br \/>\nperdagangan utama di Nusantara? Kemampuan diplomasi yang mumpuni dan sedikit<br \/>\nkeberuntungan, itulah jawabannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/p>\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><b><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Referensi<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Ahmad,<br \/>\nA. Samad (1979). <i>Sulalatus Salatin: Sejarah Melayu<\/i>. Kuala Lumpur: Dewan<br \/>\nBahasa dan Pustaka.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Cortesao,<br \/>\nArmando. (2016). <i>Suma Oriental Karya Tome Pires: Perjalanan dari Laut Merah<br \/>\nke Cina &amp; Buku Francisco Rodrigues<\/i>. Yogyakarta: Ombak.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Groeneveldt,<br \/>\nW.P. (2018). <i>Nusantara dalam Catatan Tionghoa<\/i>. Depok: Komunitas Bambu.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Osman,<br \/>\nZulkifli, dkk. (2015). <i>Bahasa Melayu dalam Konteks Budaya<\/i>. Tanjong<br \/>\nMalim: Penerbit UPSI.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Salleh,<br \/>\nMuhammad Haji. (2013). <i>Hikayat Hang Tuah<\/i>. Jakarta: Ufuk Publishing House.<o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 115%;\"><span style=\"font-family: inherit;\">Tan<br \/>\nTa Sen. (2010). <i>Cheng Ho: Penyebar Islam dari China ke Nusantara<\/i>.<br \/>\nJakarta: Kompas.<\/span><span style=\"font-family: Times New Roman, serif;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/span><\/p>\n<p><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Muhammad Lazuardi Krisantya Editor: Muhammad Fachrul Rabul Hang Tuah, Laksamana kerajaan Melaka yang melegenda di Tanah Melayu. Antara abad ke-15 dan abad ke-16, Kesultanan Malaka atau Melaka di Semenanjung Melayu merupakan salah satu negara paling berpengaruh di Asia Tenggara. Hal ini tak lepas dari status yang berhasil disandang oleh ibukotanya, Bandar Malaka, yang oleh orang Eropa dijuluki sebagai \u201cVenesia dari Timur\u201d. Bandar Malaka adalah pusat perdagangan utama di Nusantara dan salah satu yang terpenting di seluruh Asia sepanjang eksistensinya sebagai ibukota Kesultanan Malaka. Mengapa dan bagaimanakah sejarahnya? Malaka didirikan oleh Parameswara, seorang bangsawan Melayu yang telah melanglangbuana sebagai penguasa di Palembang dan Singapura. Pada awalnya, Malaka hanyalah sebuah kampung nelayan kecil milik suku Orang Laut yang terletak di pesisir selatan Semenanjung Melayu. Antara tahun 1398 dan 1402, Parameswara tiba di tempat ini setelah ia terusir dari kerajaannya di Pulau Temasek atau Singapura yang runtuh akibat serangan-serangan militer dari Majapahit dan Ayutthaya, kekuatan-kekuatan regional utama di Asia Tenggara saat itu. Epos Dinasti Malaka, Sejarah Melayu atau Sulalatus Salatin menyatakan bahwa Parameswara tiba di Malaka setelah beberapa kali berpindah tempat dalam pelariannya dari Singapura. Ia akhirnya memutuskan untuk menetap di sana, setelah melihat suatu interaksi antara anjing-anjing pemburu milik pengawalnya dan seekor kancil liar yang melewati mereka. Si kancil dapat memperdaya dan menceburkan anjing-anjing itu ke sungai, \u201cmengalahkan\u201d mereka. Peristiwa ini mengilhaminya untuk tinggal dan mengembangkan permukiman di tempat itu. Permukiman ini dinamakannya Malaka, merujuk kepada nama pohon yang menaungi dirinya saat ia menyaksikan peristiwa tadi. Permukiman ini kemudian disatukan dengan kampung nelayan Orang Laut di daerah itu, di mana penduduknya bersedia mengabdi kepada Parameswara. Pendirian Malaka diperkirakan terjadi pada tahun 1402. Berbekal status dan pengalaman sebelumnya sebagai seorang bangsawan Melayu dan raja Singapura, Parameswara mengangkat dirinya sebagai Raja Malaka. Sebuah kerajaan baru pun telah lahir. Parameswara berkeinginan agar kerajaannya ini mampu meraih kesuksesan dan kekayaan yang sama dengan Kerajaan Singapura yang dahulu dipimpin olehnya. Pertama-tama, ia harus mengamankan diri dari ambisi imperium-imperium besar yang mengelilinginya, Majapahit dan Ayutthaya. Beruntunglah ia karena pada tahun 1405, Kekaisaran Ming Cina \u2013 negara terkuat di Asia dan salah satu yang terkuat di dunia saat itu \u2013 tengah mengadakan ekspedisi \u2018Armada Harta Karun\u2019-nya untuk menjamin keamanan jaringan perdagangan internasional di Samudera Hindia dan Pasifik Barat. Armada ini dipimpin oleh laksamana laut Cina Muslim yang terkenal itu, Cheng Ho. Malaka adalah salah satu tempat yang dikunjungi oleh armada Cheng Ho dalam ekspedisi pertamanya pada tahun 1405. Sebelumnya, Cina sudah pernah mengirim misi perutusan pimpinan Yin Ching ke Malaka pada tahun 1403. Yin Ching melaporkan bahwa saat itu Malaka masih merupakan sebuah negara kecil yang tidak penting. Ia juga menyatakan bahwa Kerajaan Malaka adalah negara bawahan dari Kerajaan Siam atau Ayutthaya, di mana ia diwajibkan mengirim upeti tahunan berupa 40 tahil emas. Ini menunjukkan bahwa pada masa awal berdirinya, Malaka belum mempunyai kekuatan dan pengaruh yang cukup untuk melawan salah satu imperium tetangganya, sehingga terpaksa menjadi vasalnya. Kedatangan armada Cheng Ho dimanfaatkan dengan baik oleh Parameswara, di mana ia segera menawarkan Malaka untuk menjadi \u201cnegara naungan\u201d dari Kekaisaran Ming. Hal ini dilakukannya agar apabila salah satu kerajaan tetangganya datang menyerang, mereka harus berpikir dua kali karena Malaka telah mendapat perlindungan dari Cina. Selain itu, hubungan dengan Cina juga mampu meningkatkan wibawanya, karena Kekaisaran Cina merupakan sebuah negara besar yang oleh penduduk Asia Timur dan Asia Tenggara saat itu dipandang sebagai \u201cpusat dunia\u201d. Setelah resmi mendapatkan status sebagai negara naungan, Parameswara \u2013 dengan menumpang armada Cheng Ho pada tahun 1411 \u2013 mengadakan kunjungan ke Nanjing (ibukota Kekaisaran Ming saat itu) untuk menghadap Kaisar Cina, Yongle. Parameswara didampingi oleh keluarga dan pengikutnya yang berjumlah 540 orang, dan diterima dengan baik oleh Kaisar Yongle. Meskipun secara resmi Malaka berstatus sebagai negara naungan Cina, namun dalam prakteknya ia adalah negara yang berdaulat. Kekaisaran Ming tidak menempatkan suatu garnisun militer di Malaka dan negara naungan lainnya, melainkan hanya mendirikan guan-chang atau gudang penyimpanan barang-barang dagang. Gudang-gudang ini dikelola oleh sejumlah pejabat Cina yang dilantik oleh Laksamana Cheng Ho sebagai perwakilan resmi Kekaisaran Ming. Keberuntungan rupanya masih berpihak kepada Parameswara. Pada tahun 1404, Kerajaan Majapahit di Jawa, yang kala itu membawahi banyak negara di Nusantara, terjebak di tengah perang saudara yang destruktif. Perang ini, yang dinamakan Paregreg, berlangsung selama kurang lebih dua tahun (1404-1406) dan menghancurkan kekuatan angkatan laut Majapahit yang pada abad ke-14 telah dapat \u201cmengamankan\u201d sebagian besar Asia Tenggara Kepulauan dari dominasi Kekaisaran Yuan Mongol di utara dan menyatukan wilayah itu ke dalam satu mandala besar yang berpusat di Pulau Jawa. Perang Paregreg dimanfaatkan oleh sejumlah vasal Majapahit di luar Jawa untuk melepaskan diri. Mereka merasa bahwa tak ada gunanya lagi untuk bernaung di bawahnya. Serupa dengan Malaka, mereka menawarkan diri kepada Armada Harta Karun Cheng Ho yang tengah berkunjung untuk diakui sebagai naungan Kekaisaran Ming. Di antara negara-negara ini adalah Brunei di Kalimantan dan Aru di Sumatera, yang berkat intervensi Ming berhasil lepas dari Majapahit pada tahun 1408. Kerajaan Malaka di bawah Parameswara juga memanfaatkan melemahnya pengaruh Majapahit untuk melancarkan perluasan kekuasaan. Ia menaklukkan sebagian besar wilayah Johor (Ujong Tanah, Batu Pahat, Muar, Pagoh, Segamat) dan Selangor (Kelang, Linggi). Ia juga berhasil merebut kembali Singapura. Majapahit tak mampu melakukan apa-apa untuk membalas hal ini, karena selain kekuatannya belum pulih akibat Perang Paregreg, ia juga mengetahui bahwa Malaka telah mendapat perlindungan dari Cina. Sebaliknya, muncul reaksi berbeda dari tetangga Malaka di utara. Kerajaan Ayutthaya justru menanggapi ekspansi Malaka dengan menyerangnya. Ia melihat Malaka sebagai vasal yang memberontak. Antara tahun 1409 dan 1456, Ayutthaya diketahui berkali-kali menyerang Malaka, baik dalam wujud ekspedisi militer ataupun serangan penjarahan. Ini menimbulkan amarah Kaisar Cina, yang pada tahun 1431 mengirimkan surat bernada ancaman kepada Raja Siam, Samphraya atau Borommarachathirat II untuk menghentikan permusuhannya dengan Malaka. Intervensi Cina berhasil meredakan permusuhan Ayutthaya-Malaka secara berangsur-angsur, yang kemudian berubah menjadi hubungan perdagangan yang baik. Perdamaian ini menunjukkan besarnya wibawa Kekaisaran Ming Cina sebagai negara terkuat dan paling berpengaruh di Asia pada abad ke-15. Awal perkembangan Malaka sebagai pusat perdagangan internasional dimulai sekitar tahun 1409-1414. Tome Pires dalam Suma Oriental mencatat bahwa kala itu Raja Malaka menghubungi Raja Jawa (Majapahit) dan mengutarakan keinginannya untuk mengembangkan pelabuhan Malaka. Parameswara menyatakan bahwa untuk mencapai hal itu, ia harus menarik orang-orang Jawa yang merupakan kaum dagang paling dominan di Nusantara pada abad ke-15. Saat itu, pedagang-pedagang Jawa lebih suka singgah di pelabuhan Pasai di Sumatera, yang merupakan pusat perdagangan utama di Selat Malaka sejak akhir abad ke-13. Raja Jawa, Wikramawardhana mengabulkan keinginannya. Namun, ia menyatakan bahwa Parameswara harus turut meminta izin kepada Raja Pasai. Sejak lama, pedagang Jawa telah mendapat perlakuan istimewa dari Kerajaan Samudera Pasai yang tidak memberlakukan pungutan pajak kepada mereka. Samudera Pasai sendiri kala itu tengah menikmati puncak kejayaannya, di bawah pimpinan Sri Ratu Nahrasyah. Parameswara menuruti permintaan Wikramawardhana. Ia menghubungi Ratu Nahrasyah dan menyampaikan maksudnya. Sang Ratu bersedia mengabulkan keinginannya itu dengan satu syarat, yakni agar Parameswara mau memeluk Islam terlebih dahulu. Raja Malaka itu setuju, dan ia pun menjadi seorang Muslim. Ia menikahi seorang putri dari Pasai untuk mempererat hubungannya dengan kerajaan itu, kemudian mengganti nama gelarnya menjadi \u201cSultan Iskandar Syah\u201d. Sebagian besar penduduk Malaka mengikuti jejak rajanya, di mana mereka berbondong-bondong memeluk Islam dengan sukarela. Fenomena ini nantinya menjadi tren di banyak kerajaan Nusantara ketika Islam semakin berkembang pesat dalam abad-abad berikutnya. Keberhasilan diplomasi yang dilakukan oleh Parameswara ini berbuah keberuntungan ganda kepadanya. Selain berhasil menggaet para pedagang Jawa ke pelabuhan Malaka, status barunya sebagai seorang raja Muslim juga berhasil menarik pedagang-pedagang Muslim dari India, Persia, dan Arab. Ekspedisi Dinasti Ming yang masih terus berlangsung hingga tahun 1433 juga ikut memberikan sumbangan. Orang-orang Cina berdatangan dan mulai menetap di Malaka, khususnya orang Hui Muslim yang membentuk sebagian kru Armada Harta Karun Cheng Ho. Parameswara berhasil menggapai impiannya untuk menjadikan Malaka sebagai pusat perdagangan yang sukses seperti Singapura sebelumnya, bahkan kini jauh melampauinya. Malaka pun berangsur-angsur berkembang menjadi pusat perdagangan utama di Nusantara, dan salah satu titik terpenting dalam jaringan perdagangan internasional Samudera Hindia. Perubahan Malaka menjadi negara Islam dan perkembangannya sebagai pusat perdagangan internasional, tak dapat dilepaskan dari keberhasilan diplomasi Parameswara dalam berhubungan dengan kerajaan-kerajaan besar di sekitarnya, terutama Samudera Pasai, Majapahit, dan Ming. Raja-raja Malaka berikutnya melanjutkan kebijakan Parameswara. Raja terbesarnya, Sultan Mansur Syah (1456-1477), mempererat hubungan diplomatiknya dengan ketiga kerajaan besar itu, yang telah ikut berkontribusi dalam perkembangan Malaka menjadi pelabuhan dagang utama di Nusantara. Sultan Mansur Syah menikahi seorang putri Cina bernama Hang Li Po atau Hang Liu, yang oleh naskah-naskah Melayu disebutkan sebagai putri dari Kaisar Cina, meskipun lebih mungkin jika ia merupakan putri dari pejabat yang kedudukannya lebih rendah, barangkali syahbandar dari salah satu kota pelabuhan di Cina Selatan, atau kapten kapal yang mempunyai hubungan baik dengan Sultan Malaka. Pada tahun 1459, Sultan Mansur Syah melawat ke Istana Majapahit di Jawa Timur untuk melamar Raden Galuh Cendera Kirana, seorang putri dari Raja Majapahit saat itu, Girisawardhana atau Brawijaya III. Lawatan ini disambut dengan meriah oleh Majapahit, menunjukkan eratnya hubungan kedua negara itu. Raja Majapahit bersedia menikahkan putrinya dengan Sultan Mansur Syah. Sebagai hadiah atas pernikahan itu, Raja Majapahit bahkan bersedia menyerahkan kekuasaannya atas Keritang (Indragiri), Jambi, dan Tungkal di Sumatera serta Siantan di Kepulauan Riau kepada Malaka. Pada tahun 1468, Malaka mengintervensi sebuah perebutan tahta di Samudera Pasai. Sultan Mansur Syah mendukung Sultan Zainal Abidin III yang tersingkir dari tahtanya, dan membantu merebutnya kembali dengan mengirimkan armada laut Malaka pimpinan Bendahara Tun Perak. Sempat terjadi ketegangan hubungan setelah penobatan Sultan Zainal Abidin III, di mana ia menolak tawaran Tun Perak yang menginginkan agar Samudera Pasai menjadi vasal Malaka. Namun, hubungan kedua negara segera membaik dan terus dipererat lagi, khususnya di bidang keagamaan dan kesusastraan. Dari Samudera Pasai-lah, Malaka mengadopsi huruf Jawi (Arab Melayu) yang kemudian menjadi standar penulisan resmi di Dunia Melayu seiring dengan semakin berkembangnya Islam di kawasan ini. Masa pemerintahan Sultan Mansur Syah seringkali dianggap sebagai puncak kejayaan Kesultanan Malaka. Di bawah kekuasaannya, Malaka melancarkan perluasan wilayah ke Sumatera dan Malaya, baik melalui cara damai maupun peperangan. Ia menaklukkan negeri-negeri di Sumatera seperti Rokan, Siak, dan Kampar dengan ekspedisi militer. Raja-rajanya diislamkan dan \u201cdilebur\u201d ke dalam Dinasti Malaka melalui ikatan perkawinan. Ekspansi ke Malaya juga dilakukan dengan cara serupa, di mana Malaka berhasil menaklukkan Pahang dan Terengganu. Sementara Indragiri, Jambi, dan Tungkal \u2013 seperti telah disinggung sebelumnya \u2013 berhasil didapatkan dengan cara damai melalui hubungan pernikahan dengan Majapahit. Pada masa kekuasaan Sultan Mansur Syah pula, hidup Hang Tuah, seorang tokoh dalam sejarah Melayu yang sangat dihormati oleh banyak orang Malaysia dan Indonesia modern. Ia menjabat sebagai laksamana dan utusan resmi Kesultanan Malaka yang telah melanglangbuana ke banyak negara asing. Ia merupakan salah seorang pengiring Sultan Mansur Syah dalam lawatannya ke Majapahit. Dengan menahkodai kapal ghali kebesaran Malaka, Mendam Berahi, Hang Tuah telah melakukan lawatan diplomatik ke berbagai negara, dari Kerajaan Ryukyu di Jepang, Majapahit, Ayutthaya, hingga Kemaharajaan Wijayanagara di India. Hikayat Hang Tuah bahkan menyatakan bahwa ia pernah pula berkunjung ke Mesir (Kesultanan Mamluk) dan Rum (Kesultanan Turki Utsmani), pusat-pusat peradaban Islam di Timur Tengah, di mana ia menyempatkan diri untuk singgah di Mekkah dan Madinah, kota-kota paling suci bagi umat Islam. Berkat kemampuannya sebagai diplomat ulung inilah, Hang Tuah berhasil mempererat dan memperluas hubungan diplomatik Malaka dengan banyak kerajaan berpengaruh di sepanjang jalur perdagangan Samudera Hindia dan Pasifik Barat. Dampaknya, Bandar Malaka menjadi semakin ramai. Bertambah banyaklah bangsa asing yang berdagang di kota itu. Orang Tagalog dari Kerajaan Tondo di Pulau Luzon hingga orang Somali dari Kesultanan Ajuran di Tanduk Afrika, semuanya memiliki pos dagang dan permukiman khusus yang ditata dengan sedemikian rupa dan dijamin keamanannya oleh pemerintah Kesultanan Malaka. Pada tahun 1500, populasi total Bandar Malaka diperkirakan telah mencapai 100.000 orang. Setiap hari, kota pelabuhan ini dikunjungi oleh 2000 kapal yang datang dari berbagai arah. Mereka memperdagangkan beragam produk, terutama rempah-rempah, teh, serta barang-barang keramik dan tekstil. Ketika orang Portugis tiba untuk pertama kalinya di Malaka pada tahun 1509, mereka menyaksikan sebuah kota yang besar dan megah dengan masyarakat kosmopolitan yang saling berinteraksi dalam 80 bahasa. Wajar apabila Portugis kemudian mengincar Malaka sebagai sebuah titik penting yang harus dikuasai untuk memperluas dominasi mereka dalam jaringan perdagangan Samudera Hindia. Jadi, bagaimana Malaka bisa menjadi pusat perdagangan utama di Nusantara?&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,3],"tags":[],"class_list":["post-62","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini","category-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/62","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=62"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/62\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=62"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=62"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=62"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}