{"id":41,"date":"2022-03-19T06:52:00","date_gmt":"2022-03-19T06:52:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=41"},"modified":"2022-03-19T06:52:00","modified_gmt":"2022-03-19T06:52:00","slug":"lagu-sabarthan-2-taman-bunga-temu-mesra","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=41","title":{"rendered":"Lagu Sabarthan #2: Taman Bunga Temu Mesra"},"content":{"rendered":"<p><b>&nbsp;<\/b><a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhLR2y8FYqWqsVgDRWsBtsw-vu6ybrxgahWZIo9S_judKY7T9Zo4h1QTpYMtw8mP-BuwQQNXBPgM98kgd9s1bhet2ezIxCRd8NnZx20ozbwsOPOdtDsepqACfipDLMAr9T-MyV1kZi5ozs7JUzpDRU9Kc0HHKfrg1AlCiUIezPWam5pXCsVuyBAyAut2A\/s1080\/%23VOLUME%202.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em; text-align: center; text-indent: 36pt;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"1080\" data-original-width=\"1080\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhLR2y8FYqWqsVgDRWsBtsw-vu6ybrxgahWZIo9S_judKY7T9Zo4h1QTpYMtw8mP-BuwQQNXBPgM98kgd9s1bhet2ezIxCRd8NnZx20ozbwsOPOdtDsepqACfipDLMAr9T-MyV1kZi5ozs7JUzpDRU9Kc0HHKfrg1AlCiUIezPWam5pXCsVuyBAyAut2A\/s16000\/%23VOLUME%202.png\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><\/p>\n<p style=\"-webkit-text-stroke-width: 0px; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-size: medium; font-style: normal; font-variant-caps: normal; font-variant-ligatures: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: justify; text-decoration-color: initial; text-decoration-style: initial; text-decoration-thickness: initial; text-indent: 36pt; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\">\n<\/p>\n<p style=\"-webkit-text-stroke-width: 0px; color: black; font-size: medium; font-style: normal; font-variant-caps: normal; font-variant-ligatures: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-decoration-color: initial; text-decoration-style: initial; text-decoration-thickness: initial; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"><b><span style=\"font-family: times;\">Penulis: Auriel Aldina Cahyono<\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"-webkit-text-stroke-width: 0px; color: black; font-size: medium; font-style: normal; font-variant-caps: normal; font-variant-ligatures: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-decoration-color: initial; text-decoration-style: initial; text-decoration-thickness: initial; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"><b><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><span style=\"font-size: x-large;\">A<\/span>ku membuat teman-temanku heran dengan menghabiskan waktu lebih banyak bersama perempuan asing yang belum lama ini kukenal. Biasanya kalau malam aku bakal menyempatkan waktu ke kafe pamanku di sudut kota Leiden dan bermain band bersama mereka. Tapi belakangan ini aku jarang berkunjung karena ingin menemani Lagu.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cyang mana sih Napoleon itu,\u201d Achilles bercelatuk waktu kami makan di kafetaria. Mereka menyoraki aku pengkhianat begitu aku datang dan duduk di meja mereka. Giliran gebetanku enggak ada, baru mencari mereka.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cyang pendek banget terus rambutnya panjang sampai sini,\u201d Percival menepuk-nepuk pinggangnya.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cmemang cantik banget ya?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cmenurut aku sih enggak. Memang selera Sabarthan saja yang perlu dipertanyakan.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Aku mengabaikan mereka. Melempar kentang goreng ke muka Achilles sebelum dia bicara lebih banyak soal aku dan Lagu.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Di bulan kedua pertemanan kami, aku mengajak Lagu ke tempat yang lebih jauh. Bukan lagi di wilayah Leiden, tapi ke sebuah desa bernama Lisse. Mereka menjuluki Lisse desa bunga. Ada tempat bernama&nbsp;<i>De Zwarte Tulp Museum<\/i>&nbsp;di sana. Lagu benar-benar senang. Aku menggenggam tangannya karena takut dia akan hilang. Sesuai dugaanku, Lagu segera menarik aku ke Museum Tulip Hitam. Museum ini merupakan tempat yang tepat bagi orang yang suka bunga seperti Lagu. Mereka menyimpan koleksi bersejarah dalam perjalanan perkembangan bunga-bunga di Belanda. Yang paling banyak dibahas bunga Tulip tentunya. Bunga kebanggaan kami. Aku sibuk mengamati bunga-bunga yang diawetkan di dalam botol kaca berisi cairan kimia ketika aku menyadari Lagu tidak ada disampingiku. Saat kucari-cari, aku menemukan Lagu berdiri di depan pintu besar yang terbuka dan diterpa cahaya berwarna kuning. Tadinya kukira itu cahaya matahari yang dibiaskan oleh tirai kuning, tapi ketika aku sampai di sana, di hadapan kami membentang lorong panjang yang terbuat dari bunga-bunga&nbsp;<i>goudenregen.<\/i>&nbsp;Spesies bunga kuning yang cabang dan bunganya agak mirip&nbsp;<i>wisteria<\/i>. Sehingga di beberapa tempat seperti di museum ini, mereka bisa ditata sedemikian rupa membentuk lorong atau langit-langit yang dihujani bunga.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Lagu termangu di sana. Wajahnya menorehkan rasa tidak percaya, tapi juga kesedihan. Ada sendu di matanya waktu dia berjalan ke lorong bunga kuning itu dan meraih sekuntum yang gugur ke tanah.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201c<i>goudenregen<\/i>,\u201d kataku. Dia menoleh. \u201cini namanya bunga&nbsp;<i>goudenregen.\u201d<o:p><\/o:p><\/i><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><i>\u201cthe golden rain tree,\u201d<\/i>&nbsp;Lagu mengucapkannya dengan fasih. \u201cdi Inggris mereka disebut begitu.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201ckamu tahu banyak soal bunga ya.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cenggak juga, aku Cuma mempelajari yang aku suka.\u201d Lagu berjalan di depanku. Tidak menunggu aku karena sepertinya dia tau aku bakal mengikuti.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201ckamu suka bunga ini? Ibuku enggak suka,\u201d aku mengusak-usak hidung. Mengingat wajah berkerut Ibuku tiap kali melihat pohon&nbsp;<i>goudenregen<\/i>&nbsp;di halaman rumah adiknya. \u201cmungkin karena yang di rumah bibiku enggak ditata serapi ini. Mama suka bilang&nbsp;<i>goudenregen<\/i>&nbsp;jelek. Menanam bunga di taman kok yang doanya enggak baik, itu katanya.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cbunga hujan emas punya makna ganda. Makanya, kalo ada orang yang mengerti bahasa bunga tapi&nbsp;<i>pengen<\/i>&nbsp;membingungkan orang lain, mereka biasanya mengirim bunga ini sebagai hadiah.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cmemang artinya apa?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Lagu berhenti melangkah. Dia berbalik, mematri pandangannya padaku. Sorot matanya tidak bisa kubaca walau di bibirnya terukir senyum lembut.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201c<i>they\u2019re poisonous flowers that stand for pensive beauty&#8230; and forsaken.\u201d<\/i><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Lagu memberi jeda dalam jawabannya. Aku menyadari sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Dia kembali melangkah sebelum aku sempat bertanya lagi. Masih mengamati bunga-bunga cantik yang bergelantungan mirip hujan yang airnya berwarna emas.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201capa mereka punya nama lain?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cmm. Pohon rantai emas.&nbsp;<i>The golden chain tree, cytise, goldregen.\u201d<o:p><\/o:p><\/i><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201c<i>beside that?\u201d<o:p><\/o:p><\/i><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201claburnum,\u201d Lagu menjawab tanpa menoleh. Tangannya bertautan di belakang punggung. Bertemu helai rambutnya yang jatuh dan bergoyang setiap kali dia melangkah. Dia tidak berbalik lagi bahkan sampai kami tiba di ujung lorong. Seakan dia tidak mau aku melihat bagaimana wajah yang dia pasang meski suaranya terdengar ceria.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><i><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><i><span style=\"font-family: times;\">They\u2019re poisonous flowers that stand for pensive beauty and&nbsp;&nbsp;forsaken.<o:p><\/o:p><\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Lagu masih tertawa dan tersenyum dalam sisa perjalanan kami di Lisse. Dia tertidur di pundakku. Meninggalkan aku merenungkan Lagu dan bunga Laburnum. Lagu dan Laburnum itu kombinasi nama yang aneh buat orang Indonesia. Walaupun orang Indonesia secara umum punya kecenderungan pemberian nama yang sudah dari sanonya aneh dan tanpa aturan, tapi tetap saja, Lagu Laburnum itu ada di level eksentrik yang enggak bisa aku cerna.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Lagu enggak protes waktu aku menggenggam tangannya sepanjang perjalanan kami ke asrama tempat Lagu menetap selama di Belanda. Di depan asrama, kami bertatapan. Ada banyak yang&nbsp;<i>pengen<\/i>&nbsp;aku tanyai ke Lagu. Kenapa kamu tahu banyak soal bunga? Kenapa bunga hujan emas membuat kamu sedih? Kenapa penjelasan kamu enggak masuk akal? Kenapa kamu harus seemosional itu hanya karena bunga? Apa itu karena nama? Atau hanya karena kamu itu kelewat sentimental saja?<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Lagu menunggu. Dia tahu aku ingin mengatakan sesuatu dan diam di sebelahku. Menunggu aku punya keberanian untuk mengutarakan isi kepalaku. Tapi aku menggeleng. Merendah dan mencium lembut kening Lagu yang menegang dalam genggamanku.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201c<i>goedenacht.\u201d<\/i><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p align=\"center\" style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p align=\"center\" style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-family: times;\">&#8230;<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201ckamu habis ditolak ya?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Aku mendelik. Achilles segera bersimpuh, membuat gestur memohon ampun.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">&nbsp;Percival tergelak, \u201ctumben berpikiran buat datang. Apa aku harus bilang&nbsp;<i>long time no see<\/i>? Kita baru mau mencari vokalis baru loh. Vokalis band ini sibuk mengejar-ngejar perempuan sampai manggung saja di&nbsp;<i>skip.<\/i>\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201ctolong loh, baru juga dua bulan.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cbaru dua bulan pantatmu. Dua bulan itu aku yang cuma bisa main drum memojok enggak bisa manggung. Percy main piano sendiri kayak orang sinting. Bubar saja bubar. Vokalis kita sudah dapat pacar.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cmentang-mentang kita manggung di kafe pamanmu. Ya, udalah, kalau kita bubar kamu masih bisa kerja jadi pelayan di sini. Biarkan aku dan Achilles menikmati pengangguran.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201ckalian semua teman-teman enggak berguna.\u201d Aku menyalakan&nbsp;<i>mic<\/i>&nbsp;dan menghadap pengunjung kafe. Mengambil ancang-ancang untuk bernyanyi sembari menunggu ketukan&nbsp;<i>stik<\/i>&nbsp;drum Achilles. Dia bisa aja mencari kerja sampingan&nbsp;<i>nge-drum<\/i>&nbsp;buat band lain selama aku enggak ada tapi memilih&nbsp;<i>mojok<\/i>&nbsp;kayak orang enggak punya hidup. Itu pilihannya.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Stik drum diketuk, piano berdenting, gitar kupetik.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Kafe bernama&nbsp;<i>Tot Straks<\/i>&nbsp;milik pamanku ini buka sampai tengah malam. Kami sudah bernyanyi di sini sejak band kami terbentuk di SMA. Aku, Achilles dan Percival. Tiga serangkai tolol \u2015kata Mama\u2015 yang hobi membuat orang tua kami sakit kepala dengan kenakalan kami. Ketololan kami ternyata bisa diobati setelah kami mengenal dunia musik. Kami jadi punya penghasilan sendiri, jajaran perempuan yang menunggu untuk dipacari dan pelampiasan emosi.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Sebenarnya, di antara kami bertiga, cuma aku yang masih baru di dunia musik. Aku bermain gitar karena dorongan dari Percival dan Achilles. Katanya aku sampah. Paling sampah di antara kami bertiga. Sebagai tiga serangkai seharusnya kami punya bakat yang sama. Aku menukas kalau kami punya bakat serupa di bidang olahraga \u2015bahkan kalo sudah ngomong olahraga, aku lebih jago dari mereka\u2015 tapi mereka enggak mau dengar dan merecoki aku terus soal belajar gitar. Karena telingaku pengang, aku menurut. Aku belajar gitar di bawah cercaan dan hinaan teman-temanku yang brengsek tapi&nbsp;<i>loyal<\/i>&nbsp;dan bermanfaat. Setelah itu aku mengejutkan semua orang dan diriku sendiri dengan nyanyianku.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201ckamu ternyata enggak begitu sampah.\u201d Achilles menyeka air mata&nbsp;<i>ghaib<\/i>nya. Pura-pura terharu.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cCuma kalian yang menyebut aku sampah.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cenggak. Mama kamu juga.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cMamaku itu setan\u2015\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cTANTE-TANTE! ARTHAN BARU AJA MANGGIL TANTE SETAN!\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cKALIAN EMANG TEMAN-TEMEN BRENGSEK!\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cAKU NGGAK NGOMONG APA-APA DARI TADI HEH!\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Mereka brengsek. Tapi mereka sahabatku. Jadi setelah bernyanyi sampai mulutku rasanya sudah mulai berbusa, kami duduk di meja pojok dekat jendela. Tempat kesukaan kami yang diberi tanda untuk staf oleh pamanku.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201caku habis mengajak Lagu jalan-jalan ke Lisse.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cBukannya dia Napoleon?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cPanggilannya Lagu \u2015jangan coba-coba diucap in! Kalau kalian yang mengucap nama dia jadi kedengaran aneh.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cNapoleon,\u201d Achilles menatapku dengan mata berbinar. Aku memandang Achilles jijik.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201c\u2015terserah. Kemarin aku mengajak Lagu ke Lisse soalnya dia suka bunga. Terus di sana kita melihat bunga&nbsp;<i>goudenregen. Goudenregen<\/i>&nbsp;itu artinya sama kayak nama belakang Lagu, terus dia jadi sedih.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201c&#8230;.nama belakang pacar kamu&nbsp;<i>goudenregen<\/i>?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cnama belakangnya Laburnum, tapi kalo disini kita nyebut tanaman itu&nbsp;<i>goudenregen \u2015<\/i>terus aku sama dia belum pacaran.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Achilles terbatuk, \u201cuhu-uhuku. Belum.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Percival membuat suara&nbsp;<i>ah.<\/i>&nbsp;sambil mangut-mangut, \u201cyang jadi masalah apa?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cdia kelihatan rumit pas kita ngomong in bunga itu. Aku pikir mungkin ada kaitannya sama nama dia,\u201d aku menggidikkan bahu. \u201cenggak tahu. Aku juga bingung. Dia tahu banyak soal bunga, jadi mungkin bunga ada arti pentingnya buat dia. Atau dia memang Cuma suka bunga dan artinya saja? Aku bingung!\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201csantai. Banyak perempuan di dunia ini yang mau sama kamu. Kalau enggak ada Napoleon Bonaparte nanti kita cari Daendles.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Aku mengambil ancang-ancang untuk melempar gelas. Achilles meringkuk.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cmenurutku harusnya itu bukan sesuatu yang harus kamu pikiri sih,\u201d Percival yang&nbsp;<i>tumben<\/i>&nbsp;sedang waras bercelatuk. \u201crespon dia emang kedengaran agak dramatis buat aku. Tapi bukan yang&#8230; sampai harus bikin kamu&nbsp;<i>overthingking<\/i>. Ya mungkin itu ada kaitannya sama nama dia, tapi ya kan sudah itu saja? Enggak mempengaruhi eksistensi atau identitas dia sebagai individu. Kecuali kalau kamu mau aku ingatkan,\u201d Percival menyesap&nbsp;<i>americano<\/i>nya yang pahit kemudian menatap aku lamat-lamat, \u201ckamu lagi mengejar mahasiswa pertukaran pelajar yang enggak bakal ada di Belanda empat bulan lagi.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201caku blasteran Indonesia-Belanda. Di Indonesia aku punya rumah.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201ckamu mau mengejar dia sampai ke Indonesia?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201ckenapa enggak?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Percival tertawa mencemooh, \u201cmemang dia mau kamu kejar? Maksudku, enggak semua perempuan suka perjuangan laki-laki yang kayak gitu. Banyak yang malah menganggap perbuatan yang sudah ada di kepala kamu itu mendramatisi. Paham dulu orangnya kayak mana. Jangan sekonyong-konyong tiba-tiba bilang mau mengejar dia sampai Indonesia. Kalau ternyata di Indonesia dia sudah punya pacar?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201cdia masih&nbsp;<i>single<\/i>. Dia perempuan baik. Mending dicoba dulu baru menyerah.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">\u201caku enggak peduli perempuan mana yang kamu kejar selama kamu realistis,\u201dPercival mengeluarkan rokok, memantik batang tembakau itu lalu menyesapnya dalam-dalam. Ia menghembuskan asap rokok ke wajahku, \u201caku malas liat kamu kacau gara-gara wanita.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Perkataan Percival bukan tanpa alasan. Aku pernah pacaran waktu SMA. Dia perempuan tercantik di sekolahku tapi enggak yang terbaik. Dia selingkuh dengan laki-laki dari sekolah lain. Yang membuat Percival dan Achilles khawatir soal hubunganku dengan perempuan adalah sekalinya aku suka sama orang, mereka bakal aku perjuangkan mati-matian. Aku ini suka perempuan lembut. Mereka yang kelihatan seperti bunga yang rapuh. Yang membuat aku&nbsp;<i>pengen<\/i>&nbsp;melindungi mereka dan menjauhkan mereka dari mara bahaya. Maria, mantanku waktu SMA itu perempuan yang seperti itu. Dia bukannya menipuku dengan paras dan perangainya yang halus, akunya saja yang kebanyakan bermimpi bisa punya kisah cinta seindah novel. Ekspektasiku hancur, aku disakiti dan aku terluka.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Mamaku bukan perempuan lembut. Beliau keras, sama kerasnya dengan Papaku. Bukan berarti Mama bukan Mama yang baik. Mama punya kekurangan dan kelebihan. Salah satu kekurangannya adalah temperamen tinggi dan lidah asal kecap yang memberiku pengalaman traumatis semasa kecil. Aku baru bisa terbiasa dan mampu menghadapi lisan penuh kritik Mama waktu SMA kelas tiga. Pun Mama juga mulai reda dan menyadari kesalahannya. Itu butuh proses yang lama. Lama dan menyakitkan. Waktu Mama dan Papa sering memarahi aku soal apa pun dan mengkritik segala sesuatu tentang diriku, pelarianku adalah novel.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Novel-novel romansa itu genre kesukaanku. Aku suka membayangkan hidup di masa depan bersama keluarga kecilku yang sederhana tapi bahagia. Aku ingin menjadi Ayah yang bijak dan punya pasangan yang bisa menjadi pendukung dengan hati dan perangai mereka yang lembut. Mereka yang bertutur kata halus pada anak-anak. Tidak seperti Ibuku yang sedikit-sedikit marah. Mama bukannya jahat. Mama dibesarkan begitu. Mama Cuma tahu apa yang diajari orang tuanya. Mama tidak salah. Tapi Mama yang tidak bisa disalahkan itu juga yang menyakitiku. Ketidaktahuan Mama memberi aku luka. Dan keinginanku untuk hidup lebih baik juga melukaiku.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Aku tidak bicara lagi. Merenungkan kata-kata Percival.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Sesampainya di rumah, aku merasakan&nbsp;<i>deja vu<\/i>&nbsp;waktu berbaring di tempat tidurku. Dua bulan yang lalu aku melakukan hal yang sama. Bukan merenungkan perkataan Percival tapi merenungkan aroma manis dan lembut Lagu. Setelah aku bilang padanya aku suka parfumnya yang manis dan lembut sebelum ganti parfum melati, dia tertawa pelan dan berkata kalau itu aroma bunga&nbsp;<i>cherryblossom.<\/i>&nbsp;Aromanya manis dan lembut. Seperti tipikal perempuan yang kerap menarik perhatianku.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\">Bunga&nbsp;<i>cherryblossom<\/i>, bunga merah jambu itu kecil dan rapuh. Halus dan lembut. Seperti Lagu. Mungkin itu yang membuat aku tertarik padanya sejak awal. Aku merasa, dia membutuhkan seseorang untuk dijadikan pegangan tapi tidak punya dan tidak berani meminta.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><span style=\"text-indent: 36pt;\">Aku ingin tahu kenapa dia sedih. Memikirkan aku menyukainya tapi aku bahkan tidak tahu arti namanya membuat harga diriku sebagai laki-laki terasa diinjak-injak.<\/span><span style=\"text-indent: 36pt;\">Aku mengusak wajahku frustrasi. Dosis novel romansa yang kubaca sepertinya harus dikurangi.<\/span><\/span><\/p>\n<div><span style=\"text-indent: 36pt;\"><span style=\"font-family: times;\"><br \/><\/span><\/span><\/div>\n<p><b><span style=\"font-family: times;\">Pengulas: Safrida Santriyani<\/span><\/b><\/p>\n<p><b><span style=\"font-family: times;\">Editor: Fajar Wahyu S.<\/span><\/b><\/p>\n<p><b><span style=\"font-family: times;\">Publikasi: Tim Sanskerta Online 2022<\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt;\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Penulis: Auriel Aldina Cahyono Aku membuat teman-temanku heran dengan menghabiskan waktu lebih banyak bersama perempuan asing yang belum lama ini kukenal. Biasanya kalau malam aku bakal menyempatkan waktu ke kafe pamanku di sudut kota Leiden dan bermain band bersama mereka. Tapi belakangan ini aku jarang berkunjung karena ingin menemani Lagu. \u201cyang mana sih Napoleon itu,\u201d Achilles bercelatuk waktu kami makan di kafetaria. Mereka menyoraki aku pengkhianat begitu aku datang dan duduk di meja mereka. Giliran gebetanku enggak ada, baru mencari mereka. \u201cyang pendek banget terus rambutnya panjang sampai sini,\u201d Percival menepuk-nepuk pinggangnya. \u201cmemang cantik banget ya?\u201d \u201cmenurut aku sih enggak. Memang selera Sabarthan saja yang perlu dipertanyakan.\u201d Aku mengabaikan mereka. Melempar kentang goreng ke muka Achilles sebelum dia bicara lebih banyak soal aku dan Lagu. Di bulan kedua pertemanan kami, aku mengajak Lagu ke tempat yang lebih jauh. Bukan lagi di wilayah Leiden, tapi ke sebuah desa bernama Lisse. Mereka menjuluki Lisse desa bunga. Ada tempat bernama&nbsp;De Zwarte Tulp Museum&nbsp;di sana. Lagu benar-benar senang. Aku menggenggam tangannya karena takut dia akan hilang. Sesuai dugaanku, Lagu segera menarik aku ke Museum Tulip Hitam. Museum ini merupakan tempat yang tepat bagi orang yang suka bunga seperti Lagu. Mereka menyimpan koleksi bersejarah dalam perjalanan perkembangan bunga-bunga di Belanda. Yang paling banyak dibahas bunga Tulip tentunya. Bunga kebanggaan kami. Aku sibuk mengamati bunga-bunga yang diawetkan di dalam botol kaca berisi cairan kimia ketika aku menyadari Lagu tidak ada disampingiku. Saat kucari-cari, aku menemukan Lagu berdiri di depan pintu besar yang terbuka dan diterpa cahaya berwarna kuning. Tadinya kukira itu cahaya matahari yang dibiaskan oleh tirai kuning, tapi ketika aku sampai di sana, di hadapan kami membentang lorong panjang yang terbuat dari bunga-bunga&nbsp;goudenregen.&nbsp;Spesies bunga kuning yang cabang dan bunganya agak mirip&nbsp;wisteria. Sehingga di beberapa tempat seperti di museum ini, mereka bisa ditata sedemikian rupa membentuk lorong atau langit-langit yang dihujani bunga. Lagu termangu di sana. Wajahnya menorehkan rasa tidak percaya, tapi juga kesedihan. Ada sendu di matanya waktu dia berjalan ke lorong bunga kuning itu dan meraih sekuntum yang gugur ke tanah. \u201cgoudenregen,\u201d kataku. Dia menoleh. \u201cini namanya bunga&nbsp;goudenregen.\u201d \u201cthe golden rain tree,\u201d&nbsp;Lagu mengucapkannya dengan fasih. \u201cdi Inggris mereka disebut begitu. \u201ckamu tahu banyak soal bunga ya.\u201d \u201cenggak juga, aku Cuma mempelajari yang aku suka.\u201d Lagu berjalan di depanku. Tidak menunggu aku karena sepertinya dia tau aku bakal mengikuti. \u201ckamu suka bunga ini? Ibuku enggak suka,\u201d aku mengusak-usak hidung. Mengingat wajah berkerut Ibuku tiap kali melihat pohon&nbsp;goudenregen&nbsp;di halaman rumah adiknya. \u201cmungkin karena yang di rumah bibiku enggak ditata serapi ini. Mama suka bilang&nbsp;goudenregen&nbsp;jelek. Menanam bunga di taman kok yang doanya enggak baik, itu katanya.\u201d \u201cbunga hujan emas punya makna ganda. Makanya, kalo ada orang yang mengerti bahasa bunga tapi&nbsp;pengen&nbsp;membingungkan orang lain, mereka biasanya mengirim bunga ini sebagai hadiah.\u201d \u201cmemang artinya apa?\u201d Lagu berhenti melangkah. Dia berbalik, mematri pandangannya padaku. Sorot matanya tidak bisa kubaca walau di bibirnya terukir senyum lembut. \u201cthey\u2019re poisonous flowers that stand for pensive beauty&#8230; and forsaken.\u201d Lagu memberi jeda dalam jawabannya. Aku menyadari sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Dia kembali melangkah sebelum aku sempat bertanya lagi. Masih mengamati bunga-bunga cantik yang bergelantungan mirip hujan yang airnya berwarna emas. \u201capa mereka punya nama lain?\u201d \u201cmm. Pohon rantai emas.&nbsp;The golden chain tree, cytise, goldregen.\u201d \u201cbeside that?\u201d \u201claburnum,\u201d Lagu menjawab tanpa menoleh. Tangannya bertautan di belakang punggung. Bertemu helai rambutnya yang jatuh dan bergoyang setiap kali dia melangkah. Dia tidak berbalik lagi bahkan sampai kami tiba di ujung lorong. Seakan dia tidak mau aku melihat bagaimana wajah yang dia pasang meski suaranya terdengar ceria. They\u2019re poisonous flowers that stand for pensive beauty and&nbsp;&nbsp;forsaken. Lagu masih tertawa dan tersenyum dalam sisa perjalanan kami di Lisse. Dia tertidur di pundakku. Meninggalkan aku merenungkan Lagu dan bunga Laburnum. Lagu dan Laburnum itu kombinasi nama yang aneh buat orang Indonesia. Walaupun orang Indonesia secara umum punya kecenderungan pemberian nama yang sudah dari sanonya aneh dan tanpa aturan, tapi tetap saja, Lagu Laburnum itu ada di level eksentrik yang enggak bisa aku cerna. Lagu enggak protes waktu aku menggenggam tangannya sepanjang perjalanan kami ke asrama tempat Lagu menetap selama di Belanda. Di depan asrama, kami bertatapan. Ada banyak yang&nbsp;pengen&nbsp;aku tanyai ke Lagu. Kenapa kamu tahu banyak soal bunga? Kenapa bunga hujan emas membuat kamu sedih? Kenapa penjelasan kamu enggak masuk akal? Kenapa kamu harus seemosional itu hanya karena bunga? Apa itu karena nama? Atau hanya karena kamu itu kelewat sentimental saja? Lagu menunggu. Dia tahu aku ingin mengatakan sesuatu dan diam di sebelahku. Menunggu aku punya keberanian untuk mengutarakan isi kepalaku. Tapi aku menggeleng. Merendah dan mencium lembut kening Lagu yang menegang dalam genggamanku. \u201cgoedenacht.\u201d &#8230; \u201ckamu habis ditolak ya?\u201d Aku mendelik. Achilles segera bersimpuh, membuat gestur memohon ampun. &nbsp;Percival tergelak, \u201ctumben berpikiran buat datang. Apa aku harus bilang&nbsp;long time no see? Kita baru mau mencari vokalis baru loh. Vokalis band ini sibuk mengejar-ngejar perempuan sampai manggung saja di&nbsp;skip.\u201d \u201ctolong loh, baru juga dua bulan.\u201d \u201cbaru dua bulan pantatmu. Dua bulan itu aku yang cuma bisa main drum memojok enggak bisa manggung. Percy main piano sendiri kayak orang sinting. Bubar saja bubar. Vokalis kita sudah dapat pacar.\u201d \u201cmentang-mentang kita manggung di kafe pamanmu. Ya, udalah, kalau kita bubar kamu masih bisa kerja jadi pelayan di sini. Biarkan aku dan Achilles menikmati pengangguran.\u201d \u201ckalian semua teman-teman enggak berguna.\u201d Aku menyalakan&nbsp;mic&nbsp;dan menghadap pengunjung kafe. Mengambil ancang-ancang untuk bernyanyi sembari menunggu ketukan&nbsp;stik&nbsp;drum Achilles. Dia bisa aja mencari kerja sampingan&nbsp;nge-drum&nbsp;buat band lain selama aku enggak ada tapi memilih&nbsp;mojok&nbsp;kayak orang enggak punya hidup. Itu pilihannya. Stik drum diketuk, piano berdenting, gitar kupetik. Kafe bernama&nbsp;Tot Straks&nbsp;milik pamanku ini buka sampai tengah malam. Kami sudah bernyanyi di sini sejak band kami terbentuk di SMA. Aku, Achilles dan Percival. Tiga serangkai tolol \u2015kata Mama\u2015 yang hobi membuat orang tua kami sakit kepala dengan kenakalan kami. Ketololan kami ternyata bisa diobati setelah kami mengenal dunia musik. Kami jadi punya penghasilan sendiri, jajaran perempuan yang menunggu untuk dipacari dan pelampiasan emosi. Sebenarnya, di antara kami bertiga, cuma aku yang masih baru di dunia musik. Aku bermain gitar karena dorongan dari Percival dan Achilles. Katanya aku sampah. Paling sampah di antara kami bertiga. Sebagai tiga serangkai seharusnya kami punya bakat yang sama. Aku menukas kalau kami punya bakat serupa di bidang olahraga \u2015bahkan kalo sudah ngomong olahraga, aku lebih jago dari mereka\u2015 tapi mereka enggak mau dengar dan merecoki aku terus soal belajar gitar. Karena telingaku pengang, aku menurut. Aku belajar gitar di bawah cercaan dan hinaan teman-temanku yang brengsek tapi&nbsp;loyal&nbsp;dan bermanfaat. Setelah itu aku mengejutkan semua orang dan diriku sendiri dengan nyanyianku. \u201ckamu ternyata enggak begitu sampah.\u201d Achilles menyeka air mata&nbsp;ghaibnya. Pura-pura terharu. \u201cCuma kalian yang menyebut aku sampah.\u201d \u201cenggak. Mama kamu juga.\u201d \u201cMamaku itu setan\u2015\u201d \u201cTANTE-TANTE! ARTHAN BARU AJA MANGGIL TANTE SETAN!\u201d \u201cKALIAN EMANG TEMAN-TEMEN BRENGSEK!\u201d \u201cAKU NGGAK NGOMONG APA-APA DARI TADI HEH!\u201d Mereka brengsek. Tapi mereka sahabatku. Jadi setelah bernyanyi sampai mulutku rasanya sudah mulai berbusa, kami duduk di meja pojok dekat jendela. Tempat kesukaan kami yang diberi tanda untuk staf oleh pamanku. \u201caku habis mengajak Lagu jalan-jalan ke Lisse.\u201d \u201cBukannya dia Napoleon?\u201d \u201cPanggilannya Lagu \u2015jangan coba-coba diucap in! Kalau kalian yang mengucap nama dia jadi kedengaran aneh.\u201d \u201cNapoleon,\u201d Achilles menatapku dengan mata berbinar. Aku memandang Achilles jijik. \u201c\u2015terserah. Kemarin aku mengajak Lagu ke Lisse soalnya dia suka bunga. Terus di sana kita melihat bunga&nbsp;goudenregen. Goudenregen&nbsp;itu artinya sama kayak nama belakang Lagu, terus dia jadi sedih.\u201d \u201c&#8230;.nama belakang pacar kamu&nbsp;goudenregen?\u201d \u201cnama belakangnya Laburnum, tapi kalo disini kita nyebut tanaman itu&nbsp;goudenregen \u2015terus aku sama dia belum pacaran.\u201d Achilles terbatuk, \u201cuhu-uhuku. Belum.\u201d Percival membuat suara&nbsp;ah.&nbsp;sambil mangut-mangut, \u201cyang jadi masalah apa?\u201d \u201cdia kelihatan rumit pas kita ngomong in bunga itu. Aku pikir mungkin ada kaitannya sama nama dia,\u201d aku menggidikkan bahu. \u201cenggak tahu. Aku juga bingung. Dia tahu banyak soal bunga, jadi mungkin bunga ada arti pentingnya buat dia. Atau dia memang Cuma suka bunga dan artinya saja? Aku bingung!\u201d \u201csantai. Banyak perempuan di dunia ini yang mau sama kamu. Kalau enggak ada Napoleon Bonaparte nanti kita cari Daendles.\u201d Aku mengambil ancang-ancang untuk melempar gelas. Achilles meringkuk. \u201cmenurutku harusnya itu bukan sesuatu yang harus kamu pikiri sih,\u201d Percival yang&nbsp;tumben&nbsp;sedang waras bercelatuk. \u201crespon dia emang kedengaran agak dramatis buat aku. Tapi bukan yang&#8230; sampai harus bikin kamu&nbsp;overthingking. Ya mungkin itu ada kaitannya sama nama dia, tapi ya kan sudah itu saja? Enggak mempengaruhi eksistensi atau identitas dia sebagai individu. Kecuali kalau kamu mau aku ingatkan,\u201d Percival menyesap&nbsp;americanonya yang pahit kemudian menatap aku lamat-lamat, \u201ckamu lagi mengejar mahasiswa pertukaran pelajar yang enggak bakal ada di Belanda empat bulan lagi.\u201d \u201caku blasteran Indonesia-Belanda. Di Indonesia aku punya rumah.\u201d \u201ckamu mau mengejar dia sampai ke Indonesia?\u201d \u201ckenapa enggak?\u201d Percival tertawa mencemooh, \u201cmemang dia mau kamu kejar? Maksudku, enggak semua perempuan suka perjuangan laki-laki yang kayak gitu. Banyak yang malah menganggap perbuatan yang sudah ada di kepala kamu itu mendramatisi. Paham dulu orangnya kayak mana. Jangan sekonyong-konyong tiba-tiba bilang mau mengejar dia sampai Indonesia. Kalau ternyata di Indonesia dia sudah punya pacar?\u201d \u201cdia masih&nbsp;single. Dia perempuan baik. Mending dicoba dulu baru menyerah.\u201d \u201caku enggak peduli perempuan mana yang kamu kejar selama kamu realistis,\u201dPercival mengeluarkan rokok, memantik batang tembakau itu lalu menyesapnya dalam-dalam. Ia menghembuskan asap rokok ke wajahku, \u201caku malas liat kamu kacau gara-gara wanita.\u201d Perkataan Percival bukan tanpa alasan. Aku pernah pacaran waktu SMA. Dia perempuan tercantik di sekolahku tapi enggak yang terbaik. Dia selingkuh dengan laki-laki dari sekolah lain. Yang membuat Percival dan Achilles khawatir soal hubunganku dengan perempuan adalah sekalinya aku suka sama orang, mereka bakal aku perjuangkan mati-matian. Aku ini suka perempuan lembut. Mereka yang kelihatan seperti bunga yang rapuh. Yang membuat aku&nbsp;pengen&nbsp;melindungi mereka dan menjauhkan mereka dari mara bahaya. Maria, mantanku waktu SMA itu perempuan yang seperti itu. Dia bukannya menipuku dengan paras dan perangainya yang halus, akunya saja yang kebanyakan bermimpi bisa punya kisah cinta seindah novel. Ekspektasiku hancur, aku disakiti dan aku terluka. Mamaku bukan perempuan lembut. Beliau keras, sama kerasnya dengan Papaku. Bukan berarti Mama bukan Mama yang baik. Mama punya kekurangan dan kelebihan. Salah satu kekurangannya adalah temperamen tinggi dan lidah asal kecap yang memberiku pengalaman traumatis semasa kecil. Aku baru bisa terbiasa dan mampu menghadapi lisan penuh kritik Mama waktu SMA kelas tiga. Pun Mama juga mulai reda dan menyadari kesalahannya. Itu butuh proses yang lama. Lama dan menyakitkan. Waktu Mama dan Papa sering memarahi aku soal apa pun dan mengkritik segala sesuatu tentang diriku, pelarianku adalah novel. Novel-novel romansa itu genre kesukaanku. Aku suka membayangkan hidup di masa depan bersama keluarga kecilku yang sederhana tapi bahagia. Aku ingin menjadi Ayah yang bijak dan punya pasangan yang bisa menjadi pendukung dengan hati dan perangai mereka yang lembut. Mereka yang bertutur kata halus pada anak-anak. Tidak seperti Ibuku yang sedikit-sedikit marah. Mama bukannya jahat. Mama dibesarkan begitu. Mama Cuma tahu apa yang diajari orang tuanya. Mama tidak salah. Tapi Mama yang tidak bisa disalahkan itu juga yang menyakitiku. Ketidaktahuan Mama memberi aku luka. Dan keinginanku untuk hidup lebih baik juga melukaiku. Aku tidak bicara lagi. Merenungkan kata-kata Percival. Sesampainya di rumah, aku merasakan&nbsp;deja vu&nbsp;waktu berbaring di tempat tidurku. Dua bulan yang lalu aku melakukan hal yang sama. Bukan merenungkan perkataan Percival tapi merenungkan aroma manis dan lembut Lagu. Setelah aku bilang padanya aku suka parfumnya yang manis dan lembut sebelum ganti parfum melati, dia tertawa pelan dan berkata kalau itu aroma bunga&nbsp;cherryblossom.&nbsp;Aromanya manis dan lembut. Seperti tipikal perempuan yang kerap menarik perhatianku. Bunga&nbsp;cherryblossom, bunga merah jambu itu kecil dan rapuh. Halus dan lembut. Seperti Lagu. Mungkin itu yang membuat aku tertarik padanya sejak awal. Aku merasa, dia membutuhkan seseorang untuk dijadikan pegangan tapi tidak punya dan tidak berani meminta. Aku ingin tahu kenapa dia sedih. Memikirkan aku menyukainya tapi aku bahkan tidak tahu arti namanya membuat harga diriku sebagai laki-laki terasa diinjak-injak.Aku mengusak wajahku frustrasi. Dosis novel romansa yang kubaca sepertinya harus dikurangi. Pengulas: Safrida Santriyani Editor: Fajar Wahyu S. Publikasi: Tim Sanskerta Online 2022<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,8],"tags":[],"class_list":["post-41","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kiriman-pembaca","category-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/41","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=41"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/41\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=41"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=41"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=41"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}