{"id":38,"date":"2022-05-08T13:56:00","date_gmt":"2022-05-08T13:56:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=38"},"modified":"2022-05-08T13:56:00","modified_gmt":"2022-05-08T13:56:00","slug":"laporan-diskusi-dan-bedah-buku-perempuan-dalam-historiografi-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=38","title":{"rendered":"Laporan Diskusi dan Bedah Buku Perempuan Dalam Historiografi Indonesia"},"content":{"rendered":"<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; line-height: 107%;\"><\/span><\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhktDBytbAZbonPDZpcNrXYQsgxvxlrS4oYxXOcWorZRY21Ki-VToL1033906Z-vPZVQ_Dzcu8GeP-FARpgGxckeGD4W582eMxNAzb3h8S3-LSiAJaulrRtJPiO9I-tcyM4E3VNYjmlV_tMqto-et2ZuY6ctbICeM2WAuxn5AtZRk_ef9dfSasfx77Hsg\/s1024\/WhatsApp%20Image%202022-04-22%20at%2009.05.12.jpeg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"1024\" data-original-width=\"768\" height=\"320\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhktDBytbAZbonPDZpcNrXYQsgxvxlrS4oYxXOcWorZRY21Ki-VToL1033906Z-vPZVQ_Dzcu8GeP-FARpgGxckeGD4W582eMxNAzb3h8S3-LSiAJaulrRtJPiO9I-tcyM4E3VNYjmlV_tMqto-et2ZuY6ctbICeM2WAuxn5AtZRk_ef9dfSasfx77Hsg\/s320\/WhatsApp%20Image%202022-04-22%20at%2009.05.12.jpeg\" width=\"240\" \/><\/a><\/div>\n<p><span style=\"font-size: large;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; line-height: 107%;\"><span style=\"font-size: large;\"><br \/><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; line-height: 107%;\"><span style=\"font-size: large;\">P<\/span><\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">enulisan sejarah<br \/>\nperempuan di Indonesia masih jarang mendapatkan perhatian. Buku-buku yang<br \/>\nsecara khusus membahas mengenai perempuan menggunakan penelitian yang mendalam<br \/>\npun masih sangat jarang ditemukan. Apabila terdapat karya sejarah yang membahas<br \/>\nperempuan, mayoritas merupakan penulisan yang menggunakan model biografi atau<br \/>\nhanya berpusat kepada kaum elite saja.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Oleh karena itu, buku<br \/>\nPerempuan dalam Historiografi Indonesia hadir sebagai suatu karya sejarah yang<br \/>\nsecara khusus membahas mengenai perempuan melalui perspektif kritis serta<br \/>\nmenggunakan penelitian yang mendalam. Penulisan sejarah yang bertemakan<br \/>\nperempuan memang jarang menarik perhatian, hal ini dikarenakan adanya kultur<br \/>\nmasyarakat yang cenderung masih patriarki. Padahal, ada banyak pelajaran yang<br \/>\ndapat diambil dari kisah para perempuan dalam garis sejarah Indonesia, kisah<br \/>\nmereka pada masa penjajahan misalnya, di mana harkat dan martabat mereka sebagai<br \/>\nseorang perempuan terkesan tidak ada harganya di mata laki-laki, dan di mana<br \/>\nperempuan sering kali hanya dianggap sebagai alat pemuas nafsu belaka. Kisah<br \/>\nperempuan dalam rangkaian sejarah Indonesia sebenarnya sangat menarik untuk<br \/>\ndibahas, bagaimana para perempuan berjuang melawan ketidakadilan yang dirasakan<br \/>\ndengan cara melawan ataupun diam, dan bagaimana harkat dan martabat perempuan<br \/>\nperlahan mulai diangkat pada masa kemerdekaan. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Dalam kajian sejarah<br \/>\nIndonesia, tokoh perempuan yang sering ditampilkan umumnya adalah perempuan<br \/>\nyang termasuk ke dalam kelompok elite atau bangsawan yang sering kali ditulis<br \/>\ndengan landasan kekaguman. Pada masa sebelum kemerdekaan, para penulis Belanda<br \/>\nmenggolongkan perempuan Indonesia ke dalam dua kelompok, yakni mereka yang melakukan<br \/>\nperlawanan dengan memberontak, memusuhi dan melawan penjajahan Belanda seperti<br \/>\nCut Nyak Dien, Nyi Ageng Serang, Christina Martha Tiahahu yang pada akhirnya<br \/>\ndianggap sebagai pemberontak bagi pemerintahan Belanda, kemudian yang kedua<br \/>\nadalah kelompok perempuan yang dianggap membuahkan ide dan pikiran, terutama<br \/>\ndalam pendidikan bagi kaum perempuan, sebagai contoh Kartini, Dewi Sartika, dan<br \/>\nMaria Walanda Maramis yang mendapatkan sambutan hangat oleh Belanda dan buah<br \/>\npemikirannya dianggap sebagai suatu keberhasilan bagi proses pembaratan dalam<br \/>\nperspektif Belanda. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Pola penulisan sejarah<br \/>\nperempuan di Indonesia yang telah ada selama ini masih terbatas pada konteks<br \/>\nperjuangan melawan penjajahan Belanda, perjuangan politik, dan perjuangan untuk<br \/>\nmengembangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Padahal ada peran perempuan yang<br \/>\ntidak kalah penting, yakni bagaimana perempuan di wilayah domestik. Seperti<br \/>\nbagaimana mereka berperan dalam lingkungan keluarga, mempertahankan<br \/>\nkeluarganya, dan merawat suami yang hingga kini masih belum dilirik oleh kajian<br \/>\nsejarah di Indonesia. Hal ini dapat dikaitkan dengan pernyataan \u201cDi balik<br \/>\nlaki-laki hebat ada perempuan yang hebat\u201d, di mana para tokoh-tokoh besar<br \/>\nsejarah Indonesia keberhasilannya tidak pernah lepas dari peranan para perempuan<br \/>\ndalam hidup mereka. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Kajian penelitian yang<br \/>\nmengangkat tema perempuan lebih sering ditemukan dalam disiplin ilmu sosiologi<br \/>\ndan antropologi. Sejarawan lebih banyak bergantung pada ilmu-ilmu tersebut<br \/>\nuntuk menjelaskan kondisi perempuan di Indonesia. Ketika melakukan kajian<br \/>\npenelitian seputar sejarah perempuan, rawan terjadi kesalahan karena banyak<br \/>\npeneliti sejarah yang terjebak dalam pendekatan ilmu sosial lain, sehingga<br \/>\nmenghilangkan perspektif historisnya. Untuk menghindari kesalahan dalam<br \/>\npenelitian dapat dilakukan dengan cara menentukan objek penelitian yang jelas,<br \/>\nsebagai contoh perempuan dalam perang sebagai objek penelitian. Dapat diketahui<br \/>\nbahwa kisah perempuan dalam perang bukanlah suatu kisah yang menyenangkan,<br \/>\ndalam perang, perempuan sering kali mengalami kekerasan baik secara fisik,<br \/>\nseksual maupun mental. Di sinilah peran peneliti menjadi sangat penting,<br \/>\nbagaimana caranya peneliti mampu meyakinkan narasumber untuk \u2018bersuara\u2019 tanpa<br \/>\nharus membuka luka lama maupun meromantis konflik yang ada. Bagaimana peneliti<br \/>\nmeyakinkan narasumber bahwa kajian penelitian ini akan memberi manfaat bagi<br \/>\nperkembangan manusia di masa depan. Dalam melakukan kajian sejarah, metode<br \/>\npengambilan data juga merupakan suatu hal yang sangat penting, ungkapan <i>no<br \/>\ndocument no history<\/i> kini sudah mulai digeser, karena sumber sejarah tidak<br \/>\nselalu berwujud dokumen, oral history atau cerita lisan juga termasuk sumber<br \/>\nsejarah yang dapat digunakan. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Perkembangan penulisan<br \/>\nsejarah perempuan di Indonesia apabila dibandingkan dengan sejarah sosial<br \/>\nlainnya memang cenderung lebih lambat, karena kurangnya perhatian dari para<br \/>\nsejarawan terhadap topik-topik sejarah lain yang menyangkut perempuan,<br \/>\nkebanyakan sejarawan hanya mengangkat tema politik dan lebih sering melirik<br \/>\ntema-tema berbau patriarki sehingga mengesampingkan perempuan. Dominasi budaya<br \/>\npatriarki inilah yang menjadi tali belenggu bagi perkembangan sejarah perempuan<br \/>\ndi Indonesia. Selanjutnya, adanya kekeliruan perspektif para peneliti ketika<br \/>\nmengkaji topik \u2018perempuan\u2019 yang justru lebih terpengaruh oleh disiplin ilmu<br \/>\nsosial lain dan meninggalkan esensi historisnya. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Apabila dilihat dari<br \/>\nbanyaknya karya-karya sejarah yang sudah dihasilkan oleh para sejarawan<br \/>\nIndonesia, memang sangat jarang disinggung \u2018perempuan\u2019 di dalamnya, sebagai<br \/>\ncontoh, dalam buku cetak pegangan siswa untuk para pelajar, di buku PSBB<br \/>\nmisalnya, peranan perempuan pada masa revolusi dan pasca revolusi hilang. Dalam<br \/>\nbuku KTSP 2006 dan Kurikulum 2013, nama perempuan tidak disebutkan sama sekali.<br \/>\nBerdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahkan dalam proses pembelajaran<br \/>\nnasional sekalipun, historiografi perempuan tidak memiliki ruang. Padahal untuk<br \/>\nmembangun mental generasi muda yang tidak patriarki harus dibangun dari<br \/>\ndasarnya, dan pendidikan formal adalah salah satu medianya.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><i><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Laporan wartawan Sanskerta<br \/>\nuntuk diskusi dari divisi Penelitian dan Pengembangan (Bedah Buku 2022) bersama<br \/>\nReni Nuryanti, S.Pd., MA. Dan <span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span>Dr. (Candidate)<br \/>\nRhoma Aria Dwi Yuliantri pada 23 April 2022<o:p><\/o:p><\/span><\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><i><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Reporter dan penulis:<br \/>\nAulia Yuantika Pramodya, dkk<o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\">Editor: Fajar Wahyu<br \/>\nSejati<o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><i><span style=\"background: white; border: none windowtext 1.0pt; color: #444444; font-family: &quot;inherit&quot;,serif; mso-border-alt: none windowtext 0cm; padding: 0cm;\">*Tulisan ini merupakan bagian&nbsp; dalam peran<br \/>\nSanskertaonline untuk menjadi wadah pers dari kegiatan Himpunan Mahasiswa Ilmu<br \/>\nSejarah 2022 Kabinet Wirasena<\/span><\/i><\/b><b><span style=\"background: white; border: none windowtext 1.0pt; color: #444444; font-family: &quot;times&quot;,serif; mso-border-alt: none windowtext 0cm; padding: 0cm;\">.<\/span><\/b><b><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/p>\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulisan sejarah perempuan di Indonesia masih jarang mendapatkan perhatian. Buku-buku yang secara khusus membahas mengenai perempuan menggunakan penelitian yang mendalam pun masih sangat jarang ditemukan. Apabila terdapat karya sejarah yang membahas perempuan, mayoritas merupakan penulisan yang menggunakan model biografi atau hanya berpusat kepada kaum elite saja. &nbsp; Oleh karena itu, buku Perempuan dalam Historiografi Indonesia hadir sebagai suatu karya sejarah yang secara khusus membahas mengenai perempuan melalui perspektif kritis serta menggunakan penelitian yang mendalam. Penulisan sejarah yang bertemakan perempuan memang jarang menarik perhatian, hal ini dikarenakan adanya kultur masyarakat yang cenderung masih patriarki. Padahal, ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah para perempuan dalam garis sejarah Indonesia, kisah mereka pada masa penjajahan misalnya, di mana harkat dan martabat mereka sebagai seorang perempuan terkesan tidak ada harganya di mata laki-laki, dan di mana perempuan sering kali hanya dianggap sebagai alat pemuas nafsu belaka. Kisah perempuan dalam rangkaian sejarah Indonesia sebenarnya sangat menarik untuk dibahas, bagaimana para perempuan berjuang melawan ketidakadilan yang dirasakan dengan cara melawan ataupun diam, dan bagaimana harkat dan martabat perempuan perlahan mulai diangkat pada masa kemerdekaan. &nbsp; &nbsp; Dalam kajian sejarah Indonesia, tokoh perempuan yang sering ditampilkan umumnya adalah perempuan yang termasuk ke dalam kelompok elite atau bangsawan yang sering kali ditulis dengan landasan kekaguman. Pada masa sebelum kemerdekaan, para penulis Belanda menggolongkan perempuan Indonesia ke dalam dua kelompok, yakni mereka yang melakukan perlawanan dengan memberontak, memusuhi dan melawan penjajahan Belanda seperti Cut Nyak Dien, Nyi Ageng Serang, Christina Martha Tiahahu yang pada akhirnya dianggap sebagai pemberontak bagi pemerintahan Belanda, kemudian yang kedua adalah kelompok perempuan yang dianggap membuahkan ide dan pikiran, terutama dalam pendidikan bagi kaum perempuan, sebagai contoh Kartini, Dewi Sartika, dan Maria Walanda Maramis yang mendapatkan sambutan hangat oleh Belanda dan buah pemikirannya dianggap sebagai suatu keberhasilan bagi proses pembaratan dalam perspektif Belanda. &nbsp; Pola penulisan sejarah perempuan di Indonesia yang telah ada selama ini masih terbatas pada konteks perjuangan melawan penjajahan Belanda, perjuangan politik, dan perjuangan untuk mengembangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Padahal ada peran perempuan yang tidak kalah penting, yakni bagaimana perempuan di wilayah domestik. Seperti bagaimana mereka berperan dalam lingkungan keluarga, mempertahankan keluarganya, dan merawat suami yang hingga kini masih belum dilirik oleh kajian sejarah di Indonesia. Hal ini dapat dikaitkan dengan pernyataan \u201cDi balik laki-laki hebat ada perempuan yang hebat\u201d, di mana para tokoh-tokoh besar sejarah Indonesia keberhasilannya tidak pernah lepas dari peranan para perempuan dalam hidup mereka. &nbsp; Kajian penelitian yang mengangkat tema perempuan lebih sering ditemukan dalam disiplin ilmu sosiologi dan antropologi. Sejarawan lebih banyak bergantung pada ilmu-ilmu tersebut untuk menjelaskan kondisi perempuan di Indonesia. Ketika melakukan kajian penelitian seputar sejarah perempuan, rawan terjadi kesalahan karena banyak peneliti sejarah yang terjebak dalam pendekatan ilmu sosial lain, sehingga menghilangkan perspektif historisnya. Untuk menghindari kesalahan dalam penelitian dapat dilakukan dengan cara menentukan objek penelitian yang jelas, sebagai contoh perempuan dalam perang sebagai objek penelitian. Dapat diketahui bahwa kisah perempuan dalam perang bukanlah suatu kisah yang menyenangkan, dalam perang, perempuan sering kali mengalami kekerasan baik secara fisik, seksual maupun mental. Di sinilah peran peneliti menjadi sangat penting, bagaimana caranya peneliti mampu meyakinkan narasumber untuk \u2018bersuara\u2019 tanpa harus membuka luka lama maupun meromantis konflik yang ada. Bagaimana peneliti meyakinkan narasumber bahwa kajian penelitian ini akan memberi manfaat bagi perkembangan manusia di masa depan. Dalam melakukan kajian sejarah, metode pengambilan data juga merupakan suatu hal yang sangat penting, ungkapan no document no history kini sudah mulai digeser, karena sumber sejarah tidak selalu berwujud dokumen, oral history atau cerita lisan juga termasuk sumber sejarah yang dapat digunakan. &nbsp; Perkembangan penulisan sejarah perempuan di Indonesia apabila dibandingkan dengan sejarah sosial lainnya memang cenderung lebih lambat, karena kurangnya perhatian dari para sejarawan terhadap topik-topik sejarah lain yang menyangkut perempuan, kebanyakan sejarawan hanya mengangkat tema politik dan lebih sering melirik tema-tema berbau patriarki sehingga mengesampingkan perempuan. Dominasi budaya patriarki inilah yang menjadi tali belenggu bagi perkembangan sejarah perempuan di Indonesia. Selanjutnya, adanya kekeliruan perspektif para peneliti ketika mengkaji topik \u2018perempuan\u2019 yang justru lebih terpengaruh oleh disiplin ilmu sosial lain dan meninggalkan esensi historisnya. &nbsp; Apabila dilihat dari banyaknya karya-karya sejarah yang sudah dihasilkan oleh para sejarawan Indonesia, memang sangat jarang disinggung \u2018perempuan\u2019 di dalamnya, sebagai contoh, dalam buku cetak pegangan siswa untuk para pelajar, di buku PSBB misalnya, peranan perempuan pada masa revolusi dan pasca revolusi hilang. Dalam buku KTSP 2006 dan Kurikulum 2013, nama perempuan tidak disebutkan sama sekali. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahkan dalam proses pembelajaran nasional sekalipun, historiografi perempuan tidak memiliki ruang. Padahal untuk membangun mental generasi muda yang tidak patriarki harus dibangun dari dasarnya, dan pendidikan formal adalah salah satu medianya. &nbsp; Laporan wartawan Sanskerta untuk diskusi dari divisi Penelitian dan Pengembangan (Bedah Buku 2022) bersama Reni Nuryanti, S.Pd., MA. Dan &nbsp;Dr. (Candidate) Rhoma Aria Dwi Yuliantri pada 23 April 2022 &nbsp; Reporter dan penulis: Aulia Yuantika Pramodya, dkk Editor: Fajar Wahyu Sejati &nbsp; *Tulisan ini merupakan bagian&nbsp; dalam peran Sanskertaonline untuk menjadi wadah pers dari kegiatan Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah 2022 Kabinet Wirasena.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,11],"tags":[],"class_list":["post-38","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-in-house-jurnalism","category-resensi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/38","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=38"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/38\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=38"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=38"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=38"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}