{"id":357,"date":"2025-05-14T07:20:09","date_gmt":"2025-05-14T07:20:09","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=357"},"modified":"2025-05-14T07:22:33","modified_gmt":"2025-05-14T07:22:33","slug":"ketika-sejarah-tak-lagi-hitam-putih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=357","title":{"rendered":"Ketika Sejarah Tak Lagi Hitam Putih"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namanya Anya, gadis remaja yang menyukai sejarah Eropa. Buku-buku tebal bersampul pudar memenuhi rak di kamarnya. Ia membayangkan dunia seperti lembaran buku-buku sejarah Eropa yang dibacanya. Megah, Indah, dan penuh petualangan. Itulah sebabnya, tanpa ragu saat lulus SMA, Anya memilih jurusan Sejarah. Ia membayangkan hari-harinya akan diisi dengan belajar tentang kastil, revolusi dan kejatuhan kekaisaran-kekaisaran besar. Namun, realita tak seindah ekspektasi itu nyata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alih-alih membahas perjanjian Versailles atau Vienna, Anya dihadapkan dengan silabus yang penuh dengan \u201cPengantar Sejarah Indonesia\u201d, \u201cMetodologi Kritik Sumber Sejarah\u201d, dan yang paling membuatnya mengeluh \u201cSejarah Indonesia Masa Kolonial dan Modern\u201d. Ia mengerutkan kening tiap kali dosen menyebutkan nama tokoh nasional yang dulu hanya sekilas ia hafalkan demi ujian. Dan yang paling membuat Anya frustasi ialah hampir semua pembahasan berakhir pada analisis politik. Anya mulai merasa salah jurusan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih parah lagi, dalam setiap diskusi kelas, Riki, teman satu sekolah Anya dan kini menjadi teman sekelasnya turut memberikan tekanan batin untuknya. Pasalnya, Riki merupakan mahasiswa lintas jurusan yang selalu tampak mendominasi diskusi. Riki terbiasa menganalisis politik, mendebatkan motif di balik setiap peristiwa, dan mengaitkan teori politik dengan peristiwa sejarah atau menghubungkan teori politik global dengan konteks sosial. Sementara Anya, mengandalkan hafalan dan cerita romantis masa lalu. Ia merasa tercekat, tenggelam dalam lautan yang seolah membunuh kecintaannya pada sejarah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah kelasnya selesai, Anya pergi ke pendopo dekat taman kampus untuk menyelesaikan tugasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKenapa sih hampir semua tugas berakhir ke politik Indonesia?\u201ducap Anya, ketika melihat layar laptopnya menampilkan judul Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru, seolah mengejek idealisme dalam dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKenapa juga semua orang di jurusan ini kayak ahli politik? Apalagi si Riki itu\u201d gerutunya. \u201cAku kan mau belajar sejarah, bukan jadi politikus,\u201d keluh Anya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Riki yang tidak sengaja mendengar namanya disebut, kemudian mendekati gadis itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cNgeluh mulu perasaan, kapan selesainya,\u201d ucapnya saat sudah berada di hadapan Anya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anya melirik sekilas pada manusia di depannya itu dan tetap diam mencoba fokus pada layar yang terus bersinar dihadapannya. Riki yang tidak kunjung mendapatkan respon kemudian menyesap kopi yang dibawanya tadi lalu mengalihkan fokusnya pada layar ponselnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJujur aku sebel banget sama kamu,\u201d kata Anya tiba-tiba, membuat Riki menoleh padanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cOh? Kenapa\u201djawabnya<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSoalnya kamu selalu tau semua hal, apalagi tentang politik. Bikin aku ngerasa bodoh\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Riki tersenyum, menaruh ponselnya. \u201cKamu tuh paham, Yaya,\u201d katanya santai. \u201cKamu cuman pakai pendekatan yang beda. Aku terbiasa membaca pola dan struktur. Tapi kamu paham narasi. Enggak semua orang bisa,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTapi aku lebih suka cerita-cerita Eropa. Sejarah Indonesia tuh&#8230; terlalu berat. Rasanya rumit, sulit untuk dimengerti,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Riki tertawa kecil, \u201cKenapa engga kamu coba pakai pendekatan yang kamu lakuin untuk sejarah Eropa ke sejarah Indonesia. Siapa tau dengan cara pemahaman yang kamu kuasai, bisa mengubah pandanganmu tentang sejarah Indonesia,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anya merenungi setiap kata yang di ucapkan Riki padanya. Hingga suatu hari, ada seminar yang diharuskan oleh mahasiswa sejarah. Seminar tersebut mendatangkan alumni bernama Nimas, seorang peneliti sejarah sosial-politik. Anya datang keseminar itu karena adanya wajib mengisi daftar hadir. Ia tidak berekspetasi lebih dan hanya menggapnya sebagai formalitas saja. Tapi kemudian perkataan Nimas menarik atensinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSaya dulu sangat suka sejarah Eropa, saya dulu tidak tertarik dengan konflik dalam negeri. Tapi kemudian saya tersadarkan, sejarah tidak hanya milik barat saja. Sejarah tentang bagaimana manusia memilih, bertahan, dan mengubah dunia sekitarnya. Kalau mau memahami dunia, kita harus mulai dari tanah tempat kita berdiri,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat itu seperti melekat dikepala Anya. Cerita Nimas sangat mirip pada dirinya saat ini. Ia kagum pada Nimas yang menyukai sejarah Eropa tapi kemudian menemukan cinta di sejarah Indonesia. Anya juga ingin merasakan itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampai suatu malam, Anya sedang menganalisis tugas tentang Reformasi 1998. Ia kemudian teringat pada revolusi Perancis yang berisi tentang rakyat bangkit dan juga berisi raja diturunkan dari tahktanya. Bukankah peristiwa itu mirip dengan yang sedang dibacanya ini? Dan peristiwa yang sedang dibacanya ini terjadi di negerinya sendiri?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemudian Anya membaca ulang, ia mencari pola yang sama antara revolusi di Prancis dan gerakan reformasi di Indonesia. Ia membaca tentang bagaimana rakyat membangun kekuatan untuk melawan kekuasaan yang korup itu. Tentang kekuasaan yang melawan dan tentang harapan yang direbut serta dikhianati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anya teringat pada perkataan Riki tempo hari lalu dan mulai memahami maksud perkataan pria itu. Anya mulai melihat sejarah Indonesia bukan sebagai sejarah yang membosankan lagi, tapi sebagai bagian dari pola sejarah Eropa yang ia selalu kagumi, yaitu pertarungan manusia melawan ketidakadilan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa hari kemudian, di perpustakaan. Anya duduk di seberang Riki yang saat itu sedang fokus pada layar laptop di depannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anya terdiam sejenak, Lalu berkata, \u201cAku baru sadar, sejarah Indonesia nggak kalah kompleks dari sejarah Eropa&#8230; revolusi Prancis itu kan bukan cuma tentang rakyat lapar yang marah, tapi juga penghianatan bahkan propaganda. Sama kayak Reformasi di Indonesia, ada mimpi tapi juga ada yang dimanipulasi,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Riki melirik dan kemudian tersenyum,\u201cAkhirnya sadar juga, dari dulu aku kagum cara kamu melihat cerita sejarah, kamu buat sejarah politik jadi punya sisi manusia&#8230; dan kamu bilang kamu nggak ngerti politik,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anya tersenyum kecil,\u201cAku ngga ngerti politik karena aku nggak suka. Tapi sekarang aku sadar, sejarah tanpa politik itu kayak naskah ga ada konflik. Bikin bosen,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Riki berpikir sejenak,\u201cKamu tau? Pendekatan kamu itu menarik. Kamu paham cerita dan aku paham struktur. Mungkin kita bisa saling belajar,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSerius? Kamu mau jadi temen diskusi ku?\u201d tanya Anya<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIya, itupun kalo kamu ga keberatan kalah argumen sekali-kali,\u201d Jawab Riki dengan alis yang terangkat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTapi jangan bosen ya kalo aku sebut Napoleon tiap kita diskusi,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Riki tertawa,\u201cAsal kamu mau nyebut Tan Malaka sesekali, kita damai.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka tertawa. Pertama kalinya Anya tak merasa kecil di tengah sejarah bangsanya. Mereka mulai sering berdiskusi sejak itu. Riki membantu Anya memahami struktur politik dan Anya dengan cermat merangkai cerita, membuat pembahasan sejarah menjadi hidup. Seperti Nimas, Anya mulai belajar melihat sejarah bukan sebagai hitam dan putih melainkan sebagai warna yang terus bergerak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akhirnya, Anya berdamai, tidak hanya dengan sejarah tetapi juga dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis: Serly C. Amalia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Namanya Anya, gadis remaja yang menyukai sejarah Eropa. Buku-buku tebal bersampul pudar memenuhi rak di kamarnya. Ia membayangkan dunia seperti lembaran buku-buku sejarah Eropa yang dibacanya. Megah, Indah, dan penuh petualangan. Itulah sebabnya, tanpa ragu saat lulus SMA, Anya memilih jurusan Sejarah. Ia membayangkan hari-harinya akan diisi dengan belajar tentang kastil, revolusi dan kejatuhan kekaisaran-kekaisaran besar. Namun, realita tak seindah ekspektasi itu nyata. Alih-alih membahas perjanjian Versailles atau Vienna, Anya dihadapkan dengan silabus yang penuh dengan \u201cPengantar Sejarah Indonesia\u201d, \u201cMetodologi Kritik Sumber Sejarah\u201d, dan yang paling membuatnya mengeluh \u201cSejarah Indonesia Masa Kolonial dan Modern\u201d. Ia mengerutkan kening tiap kali dosen menyebutkan nama tokoh nasional yang dulu hanya sekilas ia hafalkan demi ujian. Dan yang paling membuat Anya frustasi ialah hampir semua pembahasan berakhir pada analisis politik. Anya mulai merasa salah jurusan. Lebih parah lagi, dalam setiap diskusi kelas, Riki, teman satu sekolah Anya dan kini menjadi teman sekelasnya turut memberikan tekanan batin untuknya. Pasalnya, Riki merupakan mahasiswa lintas jurusan yang selalu tampak mendominasi diskusi. Riki terbiasa menganalisis politik, mendebatkan motif di balik setiap peristiwa, dan mengaitkan teori politik dengan peristiwa sejarah atau menghubungkan teori politik global dengan konteks sosial. Sementara Anya, mengandalkan hafalan dan cerita romantis masa lalu. Ia merasa tercekat, tenggelam dalam lautan yang seolah membunuh kecintaannya pada sejarah. Setelah kelasnya selesai, Anya pergi ke pendopo dekat taman kampus untuk menyelesaikan tugasnya. \u201cKenapa sih hampir semua tugas berakhir ke politik Indonesia?\u201ducap Anya, ketika melihat layar laptopnya menampilkan judul Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru, seolah mengejek idealisme dalam dirinya. \u201cKenapa juga semua orang di jurusan ini kayak ahli politik? Apalagi si Riki itu\u201d gerutunya. \u201cAku kan mau belajar sejarah, bukan jadi politikus,\u201d keluh Anya. Riki yang tidak sengaja mendengar namanya disebut, kemudian mendekati gadis itu. \u201cNgeluh mulu perasaan, kapan selesainya,\u201d ucapnya saat sudah berada di hadapan Anya. Anya melirik sekilas pada manusia di depannya itu dan tetap diam mencoba fokus pada layar yang terus bersinar dihadapannya. Riki yang tidak kunjung mendapatkan respon kemudian menyesap kopi yang dibawanya tadi lalu mengalihkan fokusnya pada layar ponselnya. \u201cJujur aku sebel banget sama kamu,\u201d kata Anya tiba-tiba, membuat Riki menoleh padanya. \u201cOh? Kenapa\u201djawabnya \u201cSoalnya kamu selalu tau semua hal, apalagi tentang politik. Bikin aku ngerasa bodoh\u201d Riki tersenyum, menaruh ponselnya. \u201cKamu tuh paham, Yaya,\u201d katanya santai. \u201cKamu cuman pakai pendekatan yang beda. Aku terbiasa membaca pola dan struktur. Tapi kamu paham narasi. Enggak semua orang bisa,\u201d \u201cTapi aku lebih suka cerita-cerita Eropa. Sejarah Indonesia tuh&#8230; terlalu berat. Rasanya rumit, sulit untuk dimengerti,\u201d Riki tertawa kecil, \u201cKenapa engga kamu coba pakai pendekatan yang kamu lakuin untuk sejarah Eropa ke sejarah Indonesia. Siapa tau dengan cara pemahaman yang kamu kuasai, bisa mengubah pandanganmu tentang sejarah Indonesia,\u201d Anya merenungi setiap kata yang di ucapkan Riki padanya. Hingga suatu hari, ada seminar yang diharuskan oleh mahasiswa sejarah. Seminar tersebut mendatangkan alumni bernama Nimas, seorang peneliti sejarah sosial-politik. Anya datang keseminar itu karena adanya wajib mengisi daftar hadir. Ia tidak berekspetasi lebih dan hanya menggapnya sebagai formalitas saja. Tapi kemudian perkataan Nimas menarik atensinya. \u201cSaya dulu sangat suka sejarah Eropa, saya dulu tidak tertarik dengan konflik dalam negeri. Tapi kemudian saya tersadarkan, sejarah tidak hanya milik barat saja. Sejarah tentang bagaimana manusia memilih, bertahan, dan mengubah dunia sekitarnya. Kalau mau memahami dunia, kita harus mulai dari tanah tempat kita berdiri,\u201d Kalimat itu seperti melekat dikepala Anya. Cerita Nimas sangat mirip pada dirinya saat ini. Ia kagum pada Nimas yang menyukai sejarah Eropa tapi kemudian menemukan cinta di sejarah Indonesia. Anya juga ingin merasakan itu. Sampai suatu malam, Anya sedang menganalisis tugas tentang Reformasi 1998. Ia kemudian teringat pada revolusi Perancis yang berisi tentang rakyat bangkit dan juga berisi raja diturunkan dari tahktanya. Bukankah peristiwa itu mirip dengan yang sedang dibacanya ini? Dan peristiwa yang sedang dibacanya ini terjadi di negerinya sendiri? Kemudian Anya membaca ulang, ia mencari pola yang sama antara revolusi di Prancis dan gerakan reformasi di Indonesia. Ia membaca tentang bagaimana rakyat membangun kekuatan untuk melawan kekuasaan yang korup itu. Tentang kekuasaan yang melawan dan tentang harapan yang direbut serta dikhianati. Anya teringat pada perkataan Riki tempo hari lalu dan mulai memahami maksud perkataan pria itu. Anya mulai melihat sejarah Indonesia bukan sebagai sejarah yang membosankan lagi, tapi sebagai bagian dari pola sejarah Eropa yang ia selalu kagumi, yaitu pertarungan manusia melawan ketidakadilan. Beberapa hari kemudian, di perpustakaan. Anya duduk di seberang Riki yang saat itu sedang fokus pada layar laptop di depannya. Anya terdiam sejenak, Lalu berkata, \u201cAku baru sadar, sejarah Indonesia nggak kalah kompleks dari sejarah Eropa&#8230; revolusi Prancis itu kan bukan cuma tentang rakyat lapar yang marah, tapi juga penghianatan bahkan propaganda. Sama kayak Reformasi di Indonesia, ada mimpi tapi juga ada yang dimanipulasi,\u201d Riki melirik dan kemudian tersenyum,\u201cAkhirnya sadar juga, dari dulu aku kagum cara kamu melihat cerita sejarah, kamu buat sejarah politik jadi punya sisi manusia&#8230; dan kamu bilang kamu nggak ngerti politik,\u201d Anya tersenyum kecil,\u201cAku ngga ngerti politik karena aku nggak suka. Tapi sekarang aku sadar, sejarah tanpa politik itu kayak naskah ga ada konflik. Bikin bosen,\u201d Riki berpikir sejenak,\u201cKamu tau? Pendekatan kamu itu menarik. Kamu paham cerita dan aku paham struktur. Mungkin kita bisa saling belajar,\u201d \u201cSerius? Kamu mau jadi temen diskusi ku?\u201d tanya Anya \u201cIya, itupun kalo kamu ga keberatan kalah argumen sekali-kali,\u201d Jawab Riki dengan alis yang terangkat. \u201cTapi jangan bosen ya kalo aku sebut Napoleon tiap kita diskusi,\u201d Riki tertawa,\u201cAsal kamu mau nyebut Tan Malaka sesekali, kita damai.\u201d Mereka tertawa. Pertama kalinya Anya tak merasa kecil di tengah sejarah bangsanya. Mereka mulai sering berdiskusi sejak itu. Riki membantu Anya memahami struktur politik dan Anya dengan cermat merangkai cerita, membuat pembahasan sejarah menjadi hidup. Seperti Nimas, Anya mulai belajar melihat sejarah bukan sebagai hitam dan putih melainkan sebagai warna yang terus bergerak. Akhirnya, Anya berdamai, tidak hanya dengan sejarah tetapi juga dirinya sendiri. Penulis: Serly C. Amalia<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":359,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-357","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/357","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=357"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/357\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":361,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/357\/revisions\/361"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/359"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=357"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=357"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=357"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}