{"id":34,"date":"2022-07-09T11:16:00","date_gmt":"2022-07-09T11:16:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=34"},"modified":"2022-07-09T11:16:00","modified_gmt":"2022-07-09T11:16:00","slug":"penyesuaian-uang-kuliah-tunggal-satu-kata-problematik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=34","title":{"rendered":"Penyesuaian Uang Kuliah Tunggal: Satu Kata, Problematik"},"content":{"rendered":"<p><i style=\"text-align: justify;\"><\/i><\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><i style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhV5ASestLT1lbjrL_5-WC5dm4WDZCKt4dLqe2FC6RZs8_o3FemkqqeTW8C1PT7dJ1DSsWpboGFPX-6u5GMkNb_8JNGRNUnUOADy906F2DZidAL-zfy8n0_kcOo_AozTMZ9A_kEX_wrMz58XSKifcH1drfkOsM2anDKIlwT85QxFVBaRzV90IF3XQdWdA\/s6912\/PAMFLET%20BUANG%20SAMPAH.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"3456\" data-original-width=\"6912\" height=\"160\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhV5ASestLT1lbjrL_5-WC5dm4WDZCKt4dLqe2FC6RZs8_o3FemkqqeTW8C1PT7dJ1DSsWpboGFPX-6u5GMkNb_8JNGRNUnUOADy906F2DZidAL-zfy8n0_kcOo_AozTMZ9A_kEX_wrMz58XSKifcH1drfkOsM2anDKIlwT85QxFVBaRzV90IF3XQdWdA\/s320\/PAMFLET%20BUANG%20SAMPAH.jpg\" width=\"320\" \/><\/a><\/i><\/div>\n<p><i style=\"text-align: justify;\"><br \/><\/i><\/p>\n<p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Uang<br \/>\nKuliah Tunggal (UKT). Segepok biaya pendidikan semester yang harus dibayarkan oleh<br \/>\nmahasiswa kepada kampus. Biasanya penentuan UKT ini terjadi ketika seorang<br \/>\nmahasiswa masih awal atau mahasiswa baru. Dalam perjalanannya, UKT ini akan<br \/>\nmendapatkan penyesuaian dengan beberapa kendala mahasiswa. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Satu<br \/>\nkata, \u201cMengapa!\u201d. Ternyata hanya mahasiswa normal\u2014tidak bidik misi atau tinggal<br \/>\nsidang\u2014yang orang tuanya meninggal saja yang bisa mengajukan penyesuaian UKT?<br \/>\nPertanyaan besar saya terhadap otoritas kampus. Bagaimana penyesuaian UKT untuk<br \/>\nmahasiswa non-bidik misi hanya sekedar itu saja?<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Penyesuaian<br \/>\nUKT Problematik. Satu kata yang saya tuliskan. Seharusnya pihak otoritas kampus<br \/>\nmelihat dengan seksama apa yang terjadi dalam kurang lebih 2 tahun. Benar, ada<br \/>\npandemi covid-19. Ekonomi melemah dan pusingnya lagi biaya kebutuhan naik. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Tidak<br \/>\nseharusnya kampus melakukan kebijakan demikian. Apakah tak melakukan riset<br \/>\nterlebih dahulu dengan data yang telah didapatkan pada masa pandemi Covid-19.<br \/>\nBerapa jumlah mahasiswa yang ekonominya terdampak? Berapa jumlah mahasiswa yang<br \/>\nkondisi sosialnya berubah? Ini cukup aneh. Mengapa data demikian tak Tuan-Puan<br \/>\nmanfaatkan. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Melihat<br \/>\nkonteks secara umum, bahwa nyata adanya terdapat kelesuan ekonomi. Banyak<br \/>\nberita menyebutkan bahwa tingkat ekonomi masyarakat saat pandemi Covid-19<br \/>\nmengalami penurunan. Bukan salah pemerintah jua, karena memang hampir seluruh<br \/>\nnegara mengalaminya. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Masyarakat<br \/>\njuga mengalami kesulitan. Ini terdapat pada cara mendapatkan hal penunjang<br \/>\nsehari-hari dengan harga terjangkau. Mulai dari bensin jenis <i>Pertalite<\/i><br \/>\nyang murah, namun harus antre\u2014bahkan tak kebagian\u2014panjang. <i>Pertamax<\/i> yang<br \/>\nharganya naik. Minyak goreng yang mahal. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Dengan<br \/>\nkondisi demikian, maka kampus sebaiknya melakukan penyesuaian ulang. Mungkin,<br \/>\nsudah banyak juga yang membayar dengan cara diangsur atau langsung. Tapi dalam<br \/>\nhati pasti mereka akan berpikir, mengapa kampus tidak melakukan kebijakan penyesuaian<br \/>\nmahasiswa normal lewat sosial-ekonomi. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><b><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Penyesuaian<br \/>\nUKT Yang Lalu, Mungkin Solusi Yang Baik.<o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><b><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Sudah<br \/>\nnamanya kritik, pasti ada saran. Meskipun saran saya ini \u201cbegitu adanya\u201d<br \/>\nsetidaknya dengan halus saya bersuara. Mengapa kebijakan UKT yang lalu tidak<br \/>\ndigunakan? Apa susahnya menggunakan kebijakan yang pas dan diterima dengan<br \/>\nbaik. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Penyesuaian<br \/>\nUKT yang lalu dengan segala proses administrasi yang perlu waktu, nyatanya<br \/>\ncukup membantu. Adanya penurunan UKT untuk keluarga mahasiswa yang terdampak sosial<br \/>\nekonomi, sudah berarti cinta kasih. Mungkin syarat yang diperlukan cukup ribet,<br \/>\ntak apa kampus juga butuh verifikasi resmi pihak terkait. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Dengan<br \/>\nkondisi ekonomi negara yang tak pasti, sudah seharusnya kebijakan seperti ini<br \/>\nterus diberlakukan. Jangan malah dihentikan. Mahasiswa juga perlu kebutuhan.<br \/>\nTak hanya UKT saja. Biaya hidup lainnya juga perlu dipikirkan. Mana wujud<br \/>\nkasihmu yang dulu, Tuan-Puan. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Pengisian<br \/>\npenyesuaian dan pembayaran mungkin telah berlalu dan sedang berjalan. Tapi<br \/>\nsaran dan masukan dari mahasiswa untuk selanjutnya harus didengar. Jika tak<br \/>\nbisa dilakukan perubahan sekarang, setidaknya selanjutnya akan datang. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Mengenai<br \/>\nmahasiswa bidik misi, saya ikut mendukung apa yang mereka suarakan. Saya hanya<br \/>\nmembayangkan jika berada diposisi demikian, pasti akan kecewa jua. Saya<br \/>\nberharap, suara kawan dapat didengar oleh Tuan-Puan pemegang kebijakan. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><b><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Pungkasan<br \/>\ndari opini ini<o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><b><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Tulisan<br \/>\nyang saya gayungkan memang telat. Seharusnya saya keluarkan dan tuliskan ketika<br \/>\nmasa banding berlangsung. Tapi tak apa, lebih baik bersuara daripada tidak sama<br \/>\nsekali. &nbsp;Bagi yang sedang memperjuangkan penyesuaian<br \/>\nUKT lagi, saya mengucapkan salam perjuangan dengan mengutip Tere Liye. Kalimat<br \/>\nyang ditulis dengan tokoh penulis yang diceritakan sebagai Sutan Pane \u201c<i>Jangan<br \/>\nberkecil hati, Kawan, jika hari ini suaramu jauh dari lantang dan didengarkan&#8230;\u201d.<br \/>\n\u201cKita akan melangkah bersama. Saling menguatkan, saling mendukung. Ayo. Mari kita<br \/>\nperbaiki\u201d<\/i> (Selamat Tinggal, GPU, 2020). <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;\"><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt;\">Kalimat penutup saya<br \/>\nsendiri adalah sebuah pendapat dari kalimat awal di paragraf 1-7. \u201c<\/span><i style=\"font-size: 12pt;\">Uang<br \/>\nKuliah Tunggal (UKT), Satu kata, \u201cMengapa!\u201d Penyesuaian UKT Problematik. Tidak<br \/>\nseharusnya kampus melakukan kebijakan demikian. Melihat konteks secara umum,<br \/>\nbahwa nyata adanya terdapat kelesuan ekonomi. Masyarakat juga mengalami<br \/>\nkesulitan. Dengan kondisi demikian, maka kampus sebaiknya melakukan penyesuaian<br \/>\nulang\u201d.<\/i><\/div>\n<p><\/span><\/p>\n<div><span style=\"font-family: Times New Roman, serif;\"><i><br \/><\/i><\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<div><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin;\"><\/p>\n<p style=\"background-color: white; border: 0px; color: #444444; font-family: Roboto, sans-serif; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;\"><span style=\"border: 0px; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><b style=\"border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">Penulis: Fajar Wahyu Sejati<\/b><\/span><\/p>\n<p style=\"background-color: white; border: 0px; color: #444444; font-family: Roboto, sans-serif; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;\"><span style=\"border: 0px; font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><b style=\"border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><br style=\"margin: 0px; padding: 0px;\" \/><\/b><\/span><\/p>\n<p style=\"background-color: white; border: 0px; color: #444444; font-family: Roboto, sans-serif; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">Opini pribadi menulis<\/p>\n<p><\/span><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Uang Kuliah Tunggal (UKT). Segepok biaya pendidikan semester yang harus dibayarkan oleh mahasiswa kepada kampus. Biasanya penentuan UKT ini terjadi ketika seorang mahasiswa masih awal atau mahasiswa baru. Dalam perjalanannya, UKT ini akan mendapatkan penyesuaian dengan beberapa kendala mahasiswa. Satu kata, \u201cMengapa!\u201d. Ternyata hanya mahasiswa normal\u2014tidak bidik misi atau tinggal sidang\u2014yang orang tuanya meninggal saja yang bisa mengajukan penyesuaian UKT? Pertanyaan besar saya terhadap otoritas kampus. Bagaimana penyesuaian UKT untuk mahasiswa non-bidik misi hanya sekedar itu saja? Penyesuaian UKT Problematik. Satu kata yang saya tuliskan. Seharusnya pihak otoritas kampus melihat dengan seksama apa yang terjadi dalam kurang lebih 2 tahun. Benar, ada pandemi covid-19. Ekonomi melemah dan pusingnya lagi biaya kebutuhan naik. Tidak seharusnya kampus melakukan kebijakan demikian. Apakah tak melakukan riset terlebih dahulu dengan data yang telah didapatkan pada masa pandemi Covid-19. Berapa jumlah mahasiswa yang ekonominya terdampak? Berapa jumlah mahasiswa yang kondisi sosialnya berubah? Ini cukup aneh. Mengapa data demikian tak Tuan-Puan manfaatkan. Melihat konteks secara umum, bahwa nyata adanya terdapat kelesuan ekonomi. Banyak berita menyebutkan bahwa tingkat ekonomi masyarakat saat pandemi Covid-19 mengalami penurunan. Bukan salah pemerintah jua, karena memang hampir seluruh negara mengalaminya. Masyarakat juga mengalami kesulitan. Ini terdapat pada cara mendapatkan hal penunjang sehari-hari dengan harga terjangkau. Mulai dari bensin jenis Pertalite yang murah, namun harus antre\u2014bahkan tak kebagian\u2014panjang. Pertamax yang harganya naik. Minyak goreng yang mahal. Dengan kondisi demikian, maka kampus sebaiknya melakukan penyesuaian ulang. Mungkin, sudah banyak juga yang membayar dengan cara diangsur atau langsung. Tapi dalam hati pasti mereka akan berpikir, mengapa kampus tidak melakukan kebijakan penyesuaian mahasiswa normal lewat sosial-ekonomi. Penyesuaian UKT Yang Lalu, Mungkin Solusi Yang Baik. Sudah namanya kritik, pasti ada saran. Meskipun saran saya ini \u201cbegitu adanya\u201d setidaknya dengan halus saya bersuara. Mengapa kebijakan UKT yang lalu tidak digunakan? Apa susahnya menggunakan kebijakan yang pas dan diterima dengan baik. Penyesuaian UKT yang lalu dengan segala proses administrasi yang perlu waktu, nyatanya cukup membantu. Adanya penurunan UKT untuk keluarga mahasiswa yang terdampak sosial ekonomi, sudah berarti cinta kasih. Mungkin syarat yang diperlukan cukup ribet, tak apa kampus juga butuh verifikasi resmi pihak terkait. Dengan kondisi ekonomi negara yang tak pasti, sudah seharusnya kebijakan seperti ini terus diberlakukan. Jangan malah dihentikan. Mahasiswa juga perlu kebutuhan. Tak hanya UKT saja. Biaya hidup lainnya juga perlu dipikirkan. Mana wujud kasihmu yang dulu, Tuan-Puan. Pengisian penyesuaian dan pembayaran mungkin telah berlalu dan sedang berjalan. Tapi saran dan masukan dari mahasiswa untuk selanjutnya harus didengar. Jika tak bisa dilakukan perubahan sekarang, setidaknya selanjutnya akan datang. Mengenai mahasiswa bidik misi, saya ikut mendukung apa yang mereka suarakan. Saya hanya membayangkan jika berada diposisi demikian, pasti akan kecewa jua. Saya berharap, suara kawan dapat didengar oleh Tuan-Puan pemegang kebijakan. Pungkasan dari opini ini Tulisan yang saya gayungkan memang telat. Seharusnya saya keluarkan dan tuliskan ketika masa banding berlangsung. Tapi tak apa, lebih baik bersuara daripada tidak sama sekali. &nbsp;Bagi yang sedang memperjuangkan penyesuaian UKT lagi, saya mengucapkan salam perjuangan dengan mengutip Tere Liye. Kalimat yang ditulis dengan tokoh penulis yang diceritakan sebagai Sutan Pane \u201cJangan berkecil hati, Kawan, jika hari ini suaramu jauh dari lantang dan didengarkan&#8230;\u201d. \u201cKita akan melangkah bersama. Saling menguatkan, saling mendukung. Ayo. Mari kita perbaiki\u201d (Selamat Tinggal, GPU, 2020). Kalimat penutup saya sendiri adalah sebuah pendapat dari kalimat awal di paragraf 1-7. \u201cUang Kuliah Tunggal (UKT), Satu kata, \u201cMengapa!\u201d Penyesuaian UKT Problematik. Tidak seharusnya kampus melakukan kebijakan demikian. Melihat konteks secara umum, bahwa nyata adanya terdapat kelesuan ekonomi. Masyarakat juga mengalami kesulitan. Dengan kondisi demikian, maka kampus sebaiknya melakukan penyesuaian ulang\u201d. Penulis: Fajar Wahyu Sejati Opini pribadi menulis<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-34","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/34","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=34"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/34\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=34"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=34"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=34"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}