{"id":31,"date":"2022-10-05T20:44:00","date_gmt":"2022-10-05T20:44:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=31"},"modified":"2022-10-05T20:44:00","modified_gmt":"2022-10-05T20:44:00","slug":"seberapa-ampuh-uu-tpksapakah-hanya-parfum-yang-disemprot-pada-luka-dan-bedanya-dengan-ruu-pks","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=31","title":{"rendered":"Seberapa Ampuh UU TPKS?Apakah hanya parfum yang disemprot pada luka? dan Bedanya dengan RUU PKS"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<\/span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<\/span><\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEj0dbFGlzgrLkfZ_AY3u8EJiWcPm85SgmawXrJUXhOCEGWiu63VGJZ_wiYzwwnORGZREl1LTVVvU0H3JFovwYWwycUiD78K7b0svNeAIh3HVVL_U9AG8s9LUZ7UZTZA5FpcBUhrdndCkd1uJYJpwPUWmFXpsTyj46ArevNG9YaMeMF9IbTIStd-wh4-aw\/s1920\/Seberapa%20ampuh%20UU%20TPKS.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"1080\" data-original-width=\"1920\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEj0dbFGlzgrLkfZ_AY3u8EJiWcPm85SgmawXrJUXhOCEGWiu63VGJZ_wiYzwwnORGZREl1LTVVvU0H3JFovwYWwycUiD78K7b0svNeAIh3HVVL_U9AG8s9LUZ7UZTZA5FpcBUhrdndCkd1uJYJpwPUWmFXpsTyj46ArevNG9YaMeMF9IbTIStd-wh4-aw\/s16000\/Seberapa%20ampuh%20UU%20TPKS.png\" \/><\/a><\/div>\n<p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 19.9pt;\"><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<\/span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<\/span>Kekerasan adalah<br \/>\nsalah satu bentuk dari pelanggaran HAM, baik itu kekerasan fisik, psikologis<br \/>\natau bahkan kekerasan seksual. Kekerasan seksual sering terjadi mayoritas<br \/>\nterhadap wanita dan bahkan di lembaga formal sekalipun kekerasan seksual sering<br \/>\nsekali terdengar. Hal ini pasti sangat mengecewakan bagi bangsa kita<br \/>\ndikarenakan<\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 19.9pt;\">&nbsp; <\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 19.9pt;\">bangsa kita memiliki budaya<br \/>\ntimur yang sangat kuat dan budaya timur itu mengajarkan bahwa norma dan nilai<br \/>\ndi masyarakat sangat dijunjung tinggi apalagi terhadap perempuan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 19.9pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"mso-char-indent-count: 1.66; text-align: justify; text-indent: 19.9pt; text-justify: inter-ideograph;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\">&nbsp;Maka dari itu <\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; mso-ansi-language: IN;\">I<\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\">ndonesia<br \/>\nmerancang R<\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; mso-ansi-language: IN;\">ancangan <\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\">U<\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; mso-ansi-language: IN;\">ndang-<\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\">U<\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; mso-ansi-language: IN;\">ndang Penghapusan<\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; mso-ansi-language: IN;\">Kekerasan Seksual (RUU <\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\">PKS<\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; mso-ansi-language: IN;\">)<\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\"><br \/>\nselama bertahun-tahun dan akhirnya ketok palu oleh ketua DPR, dan keluarlah<br \/>\nundang-undang tindak pidana kekerasan seksual. Menurut saya pribadi hal ini<br \/>\nadalah angin segar bagi para korban yang pernah mendapat perlakuan biadab dari<br \/>\npara pelaku. <\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; mso-ansi-language: IN;\">Poin<\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\"> penting di dalam RUU PKS adalah<br \/>\nmencegahnya pelecehan seksual non fisik, pelecehan seksual fisik, pemaksaan<br \/>\nkontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan kekerasan seksual<br \/>\nberbasis elektronik, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual dan yang terakhir<br \/>\nadalah perbudakan seksual. Pada RUU PKS ada yang dihapus yang tidak tercantum<br \/>\npada UU PKS yaitu tentang pemerkosaan dan aborsi. Sebab dalam prosedur nya<br \/>\ntidak ada yang namanya layanan prosedur aborsi yang aman bagi korban<br \/>\npemerkosaan, walaupun undang-undang kesehatan sudah memiliki aturan tentang<br \/>\nitu.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"mso-char-indent-count: 1.66; text-align: justify; text-indent: 19.9pt; text-justify: inter-ideograph;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\"><span>&nbsp;&nbsp; <span>&nbsp;&nbsp; <\/span>&nbsp;<\/span>Dikutip<br \/>\ndari BBC Indonesia dengan judul artikel &#8220;RUU TPKS disahkan setelah berbagai penolakan selama enam tahun, apa saja poin pentingnya?&#8221; pada 12 April 2022 meski tindak pidana pemerkosaan akan diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). namun<br \/>\ntidak ada jaminan pengaturan pemerkosaan dengan beragam jenis, cara, modus dan<br \/>\ntujuannya. Yang diharapkan ada dalam RUU TPKS. RUU TPKS menjadi harapan<br \/>\nbaru.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\"><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<\/span>&nbsp;Menurut saya pribadi memang RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) ini<br \/>\nmemang belum sempurna namun bisa dibilang memiliki beberapa hal yang lebih<br \/>\ndominan atau berpihak pada korban. Dikutip lagi dari BBC Indonesia<br \/>\n\u201cseperti yang di singgung Willy dalam rapat paripurna undang-undang itu mengizinkan<br \/>\nlembaga penyedia layanan berbasis masyarakat ikut berperan dalam proses<br \/>\npendampingan dan perlindungan korban kekerasan seksual\u201d.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-fareast-theme-font: minor-fareast;\"><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt;\">&nbsp; &nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\">&nbsp;Yang paling utama pada<br \/>\nundang-undang ini adalah mengatur ketentuan tentang hak korban, keluarga<br \/>\nkorban, saksi ahli dan pendamping untuk memastikan pemenuhan hak korban dalam<br \/>\nmendapatkan keadilan dan perlindungan. Menurut saya inilah hal yang paling<br \/>\npenting dari inti UU PKS tersebut.&nbsp;<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt;\"><b>Oleh: Ignatius Pandu Jagad Y.&nbsp;<\/b><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt;\"><b><br \/><\/b><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b><i>Wartawan lapangan Divisi Pers dan Historiografi dan Sanskerta Online 2022<\/i><\/b><\/div>\n<p><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;Kekerasan adalah salah satu bentuk dari pelanggaran HAM, baik itu kekerasan fisik, psikologis atau bahkan kekerasan seksual. Kekerasan seksual sering terjadi mayoritas terhadap wanita dan bahkan di lembaga formal sekalipun kekerasan seksual sering sekali terdengar. Hal ini pasti sangat mengecewakan bagi bangsa kita dikarenakan&nbsp; bangsa kita memiliki budaya timur yang sangat kuat dan budaya timur itu mengajarkan bahwa norma dan nilai di masyarakat sangat dijunjung tinggi apalagi terhadap perempuan. &nbsp;Maka dari itu Indonesia merancang Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) selama bertahun-tahun dan akhirnya ketok palu oleh ketua DPR, dan keluarlah undang-undang tindak pidana kekerasan seksual. Menurut saya pribadi hal ini adalah angin segar bagi para korban yang pernah mendapat perlakuan biadab dari para pelaku. Poin penting di dalam RUU PKS adalah mencegahnya pelecehan seksual non fisik, pelecehan seksual fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan kekerasan seksual berbasis elektronik, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual dan yang terakhir adalah perbudakan seksual. Pada RUU PKS ada yang dihapus yang tidak tercantum pada UU PKS yaitu tentang pemerkosaan dan aborsi. Sebab dalam prosedur nya tidak ada yang namanya layanan prosedur aborsi yang aman bagi korban pemerkosaan, walaupun undang-undang kesehatan sudah memiliki aturan tentang itu. &nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Dikutip dari BBC Indonesia dengan judul artikel &#8220;RUU TPKS disahkan setelah berbagai penolakan selama enam tahun, apa saja poin pentingnya?&#8221; pada 12 April 2022 meski tindak pidana pemerkosaan akan diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). namun tidak ada jaminan pengaturan pemerkosaan dengan beragam jenis, cara, modus dan tujuannya. Yang diharapkan ada dalam RUU TPKS. RUU TPKS menjadi harapan baru. &nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;Menurut saya pribadi memang RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) ini memang belum sempurna namun bisa dibilang memiliki beberapa hal yang lebih dominan atau berpihak pada korban. Dikutip lagi dari BBC Indonesia \u201cseperti yang di singgung Willy dalam rapat paripurna undang-undang itu mengizinkan lembaga penyedia layanan berbasis masyarakat ikut berperan dalam proses pendampingan dan perlindungan korban kekerasan seksual\u201d. &nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;Yang paling utama pada undang-undang ini adalah mengatur ketentuan tentang hak korban, keluarga korban, saksi ahli dan pendamping untuk memastikan pemenuhan hak korban dalam mendapatkan keadilan dan perlindungan. Menurut saya inilah hal yang paling penting dari inti UU PKS tersebut.&nbsp; Oleh: Ignatius Pandu Jagad Y.&nbsp; Wartawan lapangan Divisi Pers dan Historiografi dan Sanskerta Online 2022<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,12],"tags":[],"class_list":["post-31","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini","category-rekonstruksi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/31","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=31"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/31\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=31"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=31"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=31"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}