{"id":20,"date":"2023-12-25T18:46:00","date_gmt":"2023-12-25T18:46:00","guid":{"rendered":""},"modified":"2025-03-15T10:14:48","modified_gmt":"2025-03-15T10:14:48","slug":"peran-siti-walidah-dalam-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=20","title":{"rendered":"Peran Siti Walidah Dalam Pendidikan"},"content":{"rendered":"<\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/sanskertaonline.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Yellow-20Sunflower-20weekly-20habit-20tracker-20A3-20planner.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"1414\" data-original-width=\"2000\" height=\"226\" src=\"https:\/\/sanskertaonline.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Yellow-20Sunflower-20weekly-20habit-20tracker-20A3-20planner-300x212.png\" width=\"320\" \/><\/a><\/div>\n<\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;, serif; font-size: 12pt; text-indent: 19.85pt;\">Siti Walidah lahir di Yogyakarta pada<br \/>\ntahun 1872 M. Nama kecilnya adalah Siti Walidah Binti Kiai Penghulu Haji<br \/>\nIbrahin bin Kiai Muhammad Hasan Pengkol bin Kiai Muhammad Ali Ngraden Pengkol.<br \/>\nIa merupakan putri dari pasangan Kiai Penghulu Muhammad Fadhil dan Nyai Mas.<br \/>\nSiti Walidah merupakan anak ke-4 dari 7 bersaudara. Siti Walidah dibesarkan<br \/>\ndalam lingkungan yang kental akan agama. Dimasanya perempuan tidak<br \/>\ndiperbolehkan untuk mengenyam pendidikan formal, dan hanya diperbolehkan untuk<br \/>\nbelajar agama. Meskipun besar di kalangan para Ulama, Siti Walidah hanya<br \/>\nmemperoleh pendidikan dari kedua orang tuanya, dimana beliau diajarkan mengenai<br \/>\nberbagai aspek mengenai Islam termasuk bahasa Arab dan al-Qur\u2019an. Sejak belia<br \/>\nkemampuan berdakhwahnya sudah mulai diasah, sehingga beliau dipercaya oleh<br \/>\nayahnya untuk memantu mengajar di langgar Kiai Fadhil (Dian Ardiyani, 2018:<br \/>\n14).<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 19.85pt;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Pada masa Siti Walidah, pendidikan bagi<br \/>\nperempuan dipandang menjadi hal yang tabu. Kaum perempuan tidak diperbolehkan<br \/>\nuntuk mengenyam pendidikan yang tinggi, mereka hanya diperbolehkan untuk<br \/>\nmenyelesaikan pekerjaan rumah saja. Di masa itu, perempuan yang berhak<br \/>\nmemperoleh pendidikan hanyalah mereka yang berasal dari golongan bangsawan dan<br \/>\nkaum ningrat, itupun jenjang pendidikannya dibatasi yakni hanya sampai<br \/>\npendidikan dasar saja. Budaya patriarki masih mengakar kuat dimana menganggap<br \/>\nperempuan hanya sebagai pelengkap kaum laki-laki dan merupakan kaum yang lemah.<br \/>\nKondisi tersebut didukung dengan melekatnya pemikiran bahwa perempuan kodratnya<br \/>\nadalah untuk mengurus keperluan rumah tangga saja sehingga tidak memerlukan<br \/>\npendidikan. Hal tersebut sangatlah bertentangan dengan pemikiran Siti Walidah<br \/>\nyang menganggap bahwa perempuat tidak hanya sekedar pelengkap bagi kaum<br \/>\nlaki-laki saja, akan tetapi perempuan merupakann pengerak kemajuan keluarga,<br \/>\nbangsa dan juga negara.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 19.85pt;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Siti Walidah sendiri merupakan sosok yang<br \/>\ndikenal sebagai pelopor organisasi Aisyiyah. Dimana kegiatan utama dari<br \/>\norganisasi ini adalah memajukan pendidikan dan keagamaan untuk kaum perempuan,<br \/>\nmemelihara anak yatim piatu, serta menanamkan rasa kebangsaan lewat kegiatan<br \/>\norganisasi agar kaum wanita bisa berperan aktif dalam pergerakan nasional. Siti<br \/>\nWalidah termasuk ke dalam orang yang berhasil dalam usahanya dalam meningkatkan<br \/>\npendidikan yang tidak hanya berupa teori saja, akan tetapi dibuktikan dengan kenyataan.<br \/>\nKeberhasilan Siti Walidah diantaranya adalah diselenggarakannya asrama untuk<br \/>\nputri-putri dari berbagai kalangan di Indonesia untuk mendapatkan pendikan yang<br \/>\nbaik. Orang tua dari mereka dengan sepenuh hati mempercayakan pendidikan<br \/>\nputrinya kepada Siti Walidah.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 19.85pt;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Pemikiran Siti Walidah mengenai pendidikan<br \/>\ndikenal dengan konsep \u201c<i>catur pusat<\/i>\u201d. Konsep Catur Pusat merupakan suatu<br \/>\nformula pendidikan yang mempersatukan empat komponen yakni: pendidikan di<br \/>\nlingkungan keluarga, pendidikan di dalam lingkungan sekolah, pendidikan di<br \/>\ndalam lingkungan masyarakat serta pendidikan di dalam lingkungan tempat ibadah.<br \/>\nCatur Pusat adalah satu kesatuan organik, yang apabila dilakukan dengan<br \/>\nkonsisten dapat membentuk kepribadian yang utuh. Gagasan itu kemudian<br \/>\ndiwujudkan dalam bentuk sekolah. Mula-mula Siti Walidah mendirikan Madrasah<br \/>\nIbtidhaiyah Diniyah Islamiyah di tahun 1912 dengan menerapkan sistem<br \/>\npembelajaran model Belanda. Pada awalnya terobosan ini mendapatkan respon<br \/>\ndukungan dan penolakan di kalangan masyarakat kampung kauman dan di kalangan<br \/>\nkaum Muslim (Halimarussa\u2019diyah Nasution, dkk., 2017: 132). Kelompok yang<br \/>\nmendukung terhadap terobosan ini berpendapat bahwa model pendidikan seperti<br \/>\nitulah yang akan diterima oleh masyarakat dikarenakan pada hakikatnya dengan<br \/>\nmelakukan modernisasi pada model pendidikan islam dari sistem pondok pesantren<br \/>\ndengan pendekatan tradisional menjadi modern, namun dengan tetap mempertahankan<br \/>\nciri khas pelajaran dan pendidikan Islamnya.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 19.85pt;\"><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Kiprah Siti Walidah dalam memperjuangkan<br \/>\npendidikan perempuan di Indonesia dapat dilihat dari beberapa tindakan nyata<br \/>\nyang pernah beliau lakukan seperti, menyelenggarakan asrama untuk<br \/>\nputri-putri<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>di berbagai daerah agar<br \/>\nmereka lebih mudah untuk mendapatkan pendidikan, Siti Walidah juga ikut<br \/>\nmempelopori pemberatasan buta huruf bagi orang-orang yang telah berusia lanjut,<br \/>\nBeliau juga menyelenggarakan rumah anak yatim dan anak orang miskin, dan Siti<br \/>\nWalidah juga menjadi pelopor dari berdirinya TK ABA di Indonesia yang sampai<br \/>\nsekarang masih terus berdiri dan berkembang.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\"><b><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\"><b><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Sumber<br \/>\nReferensi:<o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Ainiyah, Q. (2017). Urgensi<br \/>\npendidikan perempuan dalam menghadapi masyarakat modern.&nbsp;<i>Halaqa:<br \/>\nIslamic Education Journal<\/i>,&nbsp;<i>1<\/i>(2), 97-109.<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Alfiyanti, Dina. 2012. Mengenal<br \/>\nPahlawan Nasional Jilid 1. Erlangga Group.<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Ardiyani, D. (2018). Konsep<br \/>\nPendidikan Perempuan Siti Walidah.&nbsp;Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan<br \/>\nMuhammadiyah,&nbsp;15(1), 12-20.<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Daliman, A. (2012). Metode<br \/>\npenelitian sejarah. Penerbit Ombak.<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Junus Salam, \u201cKH. Ahmad Dahlan: Amal<br \/>\ndan Perjuangan\u201d, Jakarta, Depot Pengajaran Muhammadiyah, 1968.<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Makmur, D., Suryo Haryono, P., &amp;<br \/>\nMusa, S. (1993).&nbsp;Sejarah pendidikan di Indonesia zaman penjajahan.<br \/>\nDirektorat Jenderal Kebudayaan.<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Mardiah, N. I., Luthfiyah, L.,<br \/>\nSadat, A., Ihlas, I., Ramadhan, S., &amp; Kusumawati, Y. (2022). ANALISIS<br \/>\nPERGERAKAN PENDIDIKAN PEREMPUAN SERTA KIPRAH SITI WALIDAH DI AISYIYAH.&nbsp;TAJDID:<br \/>\nJurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan,&nbsp;6(1), 60-75.<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Nasution, H. D., Nahar, S., &amp;<br \/>\nSinaga, A. I. (2019). Studi Analisis Pemikiran Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)<br \/>\nDalam Pendidikan Perempuan.&nbsp;Ihya al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa dan<br \/>\nSastra Arab,&nbsp;5(2), 130-139.<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Ranadirdja, Bisyron Ahmadi. 1980.<br \/>\nCikal Bakal Sekolah Muhammaadiyah (yogyakarta: Badan Pembantu Pelaksana<br \/>\nPembantu Pendidikan Pawiyatan Wanita Sekolah Dasar Muhammadiyah Kauman<br \/>\nYogyakarta).<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Setianingsih, S., Syaharuddin, S.,<br \/>\nSriwati, S., Subroto, W., Rochgiyanti, R., &amp; Mardiyani, F. (2021).<br \/>\nAisyiyah: Peran dan Dinamikanya dalam Pengembangan Pendidikan Anak di<br \/>\nBanjarmasin Hingga Tahun 2014.&nbsp;PAKIS (Publikasi Berkala Pendidikan Ilmu<br \/>\nSosial),&nbsp;1(1).<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Umar, Umar, Husnatul Mahmudah, and<br \/>\nMei Indra Jayanti. \u201cPeran Nasyiatul Aisyiyah Dalam Wacana Gender Dan Pendidikan<br \/>\nProfetik Bagi Perempuan Di Bima.\u201d Kafa`ah: Journal of Gender Studies 11, no. 1<br \/>\n(June 29, 2021): 15.<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;\"><span style=\"background: white; color: black; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-color-alt: windowtext;\">Wati, I. S., &amp; Agustono, R.<br \/>\n(2017). Peran Siti Walidah Dibidang Pendidikan Dan Sosial Dalam Perkembangan<br \/>\nAisyiyah Tahun 1917-1946.&nbsp;SWARNADWIPA,&nbsp;1(2).<\/span><span style=\"background: white; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,serif; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp;Siti Walidah lahir di Yogyakarta pada tahun 1872 M. Nama kecilnya adalah Siti Walidah Binti Kiai Penghulu Haji Ibrahin bin Kiai Muhammad Hasan Pengkol bin Kiai Muhammad Ali Ngraden Pengkol. Ia merupakan putri dari pasangan Kiai Penghulu Muhammad Fadhil dan Nyai Mas. Siti Walidah merupakan anak ke-4 dari 7 bersaudara. Siti Walidah dibesarkan dalam lingkungan yang kental akan agama. Dimasanya perempuan tidak diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan formal, dan hanya diperbolehkan untuk belajar agama. Meskipun besar di kalangan para Ulama, Siti Walidah hanya memperoleh pendidikan dari kedua orang tuanya, dimana beliau diajarkan mengenai berbagai aspek mengenai Islam termasuk bahasa Arab dan al-Qur\u2019an. Sejak belia kemampuan berdakhwahnya sudah mulai diasah, sehingga beliau dipercaya oleh ayahnya untuk memantu mengajar di langgar Kiai Fadhil (Dian Ardiyani, 2018: 14). Pada masa Siti Walidah, pendidikan bagi perempuan dipandang menjadi hal yang tabu. Kaum perempuan tidak diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan yang tinggi, mereka hanya diperbolehkan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah saja. Di masa itu, perempuan yang berhak memperoleh pendidikan hanyalah mereka yang berasal dari golongan bangsawan dan kaum ningrat, itupun jenjang pendidikannya dibatasi yakni hanya sampai pendidikan dasar saja. Budaya patriarki masih mengakar kuat dimana menganggap perempuan hanya sebagai pelengkap kaum laki-laki dan merupakan kaum yang lemah. Kondisi tersebut didukung dengan melekatnya pemikiran bahwa perempuan kodratnya adalah untuk mengurus keperluan rumah tangga saja sehingga tidak memerlukan pendidikan. Hal tersebut sangatlah bertentangan dengan pemikiran Siti Walidah yang menganggap bahwa perempuat tidak hanya sekedar pelengkap bagi kaum laki-laki saja, akan tetapi perempuan merupakann pengerak kemajuan keluarga, bangsa dan juga negara. Siti Walidah sendiri merupakan sosok yang dikenal sebagai pelopor organisasi Aisyiyah. Dimana kegiatan utama dari organisasi ini adalah memajukan pendidikan dan keagamaan untuk kaum perempuan, memelihara anak yatim piatu, serta menanamkan rasa kebangsaan lewat kegiatan organisasi agar kaum wanita bisa berperan aktif dalam pergerakan nasional. Siti Walidah termasuk ke dalam orang yang berhasil dalam usahanya dalam meningkatkan pendidikan yang tidak hanya berupa teori saja, akan tetapi dibuktikan dengan kenyataan. Keberhasilan Siti Walidah diantaranya adalah diselenggarakannya asrama untuk putri-putri dari berbagai kalangan di Indonesia untuk mendapatkan pendikan yang baik. Orang tua dari mereka dengan sepenuh hati mempercayakan pendidikan putrinya kepada Siti Walidah. Pemikiran Siti Walidah mengenai pendidikan dikenal dengan konsep \u201ccatur pusat\u201d. Konsep Catur Pusat merupakan suatu formula pendidikan yang mempersatukan empat komponen yakni: pendidikan di lingkungan keluarga, pendidikan di dalam lingkungan sekolah, pendidikan di dalam lingkungan masyarakat serta pendidikan di dalam lingkungan tempat ibadah. Catur Pusat adalah satu kesatuan organik, yang apabila dilakukan dengan konsisten dapat membentuk kepribadian yang utuh. Gagasan itu kemudian diwujudkan dalam bentuk sekolah. Mula-mula Siti Walidah mendirikan Madrasah Ibtidhaiyah Diniyah Islamiyah di tahun 1912 dengan menerapkan sistem pembelajaran model Belanda. Pada awalnya terobosan ini mendapatkan respon dukungan dan penolakan di kalangan masyarakat kampung kauman dan di kalangan kaum Muslim (Halimarussa\u2019diyah Nasution, dkk., 2017: 132). Kelompok yang mendukung terhadap terobosan ini berpendapat bahwa model pendidikan seperti itulah yang akan diterima oleh masyarakat dikarenakan pada hakikatnya dengan melakukan modernisasi pada model pendidikan islam dari sistem pondok pesantren dengan pendekatan tradisional menjadi modern, namun dengan tetap mempertahankan ciri khas pelajaran dan pendidikan Islamnya. Kiprah Siti Walidah dalam memperjuangkan pendidikan perempuan di Indonesia dapat dilihat dari beberapa tindakan nyata yang pernah beliau lakukan seperti, menyelenggarakan asrama untuk putri-putri&nbsp; di berbagai daerah agar mereka lebih mudah untuk mendapatkan pendidikan, Siti Walidah juga ikut mempelopori pemberatasan buta huruf bagi orang-orang yang telah berusia lanjut, Beliau juga menyelenggarakan rumah anak yatim dan anak orang miskin, dan Siti Walidah juga menjadi pelopor dari berdirinya TK ABA di Indonesia yang sampai sekarang masih terus berdiri dan berkembang. &nbsp; Sumber Referensi: Ainiyah, Q. (2017). Urgensi pendidikan perempuan dalam menghadapi masyarakat modern.&nbsp;Halaqa: Islamic Education Journal,&nbsp;1(2), 97-109. Alfiyanti, Dina. 2012. Mengenal Pahlawan Nasional Jilid 1. Erlangga Group. Ardiyani, D. (2018). Konsep Pendidikan Perempuan Siti Walidah.&nbsp;Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah,&nbsp;15(1), 12-20. Daliman, A. (2012). Metode penelitian sejarah. Penerbit Ombak. Junus Salam, \u201cKH. Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangan\u201d, Jakarta, Depot Pengajaran Muhammadiyah, 1968. Makmur, D., Suryo Haryono, P., &amp; Musa, S. (1993).&nbsp;Sejarah pendidikan di Indonesia zaman penjajahan. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Mardiah, N. I., Luthfiyah, L., Sadat, A., Ihlas, I., Ramadhan, S., &amp; Kusumawati, Y. (2022). ANALISIS PERGERAKAN PENDIDIKAN PEREMPUAN SERTA KIPRAH SITI WALIDAH DI AISYIYAH.&nbsp;TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan,&nbsp;6(1), 60-75. Nasution, H. D., Nahar, S., &amp; Sinaga, A. I. (2019). Studi Analisis Pemikiran Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) Dalam Pendidikan Perempuan.&nbsp;Ihya al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab,&nbsp;5(2), 130-139. Ranadirdja, Bisyron Ahmadi. 1980. Cikal Bakal Sekolah Muhammaadiyah (yogyakarta: Badan Pembantu Pelaksana Pembantu Pendidikan Pawiyatan Wanita Sekolah Dasar Muhammadiyah Kauman Yogyakarta). Setianingsih, S., Syaharuddin, S., Sriwati, S., Subroto, W., Rochgiyanti, R., &amp; Mardiyani, F. (2021). Aisyiyah: Peran dan Dinamikanya dalam Pengembangan Pendidikan Anak di Banjarmasin Hingga Tahun 2014.&nbsp;PAKIS (Publikasi Berkala Pendidikan Ilmu Sosial),&nbsp;1(1). Umar, Umar, Husnatul Mahmudah, and Mei Indra Jayanti. \u201cPeran Nasyiatul Aisyiyah Dalam Wacana Gender Dan Pendidikan Profetik Bagi Perempuan Di Bima.\u201d Kafa`ah: Journal of Gender Studies 11, no. 1 (June 29, 2021): 15. Wati, I. S., &amp; Agustono, R. (2017). Peran Siti Walidah Dibidang Pendidikan Dan Sosial Dalam Perkembangan Aisyiyah Tahun 1917-1946.&nbsp;SWARNADWIPA,&nbsp;1(2).<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":242,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,3],"tags":[],"class_list":["post-20","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sanskerta","category-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":243,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20\/revisions\/243"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/242"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}