{"id":181,"date":"2015-05-21T10:58:00","date_gmt":"2015-05-21T10:58:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=181"},"modified":"2015-05-21T10:58:00","modified_gmt":"2015-05-21T10:58:00","slug":"sanskerta-pergerakan-wanita-dalam-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=181","title":{"rendered":"Sanskerta Pergerakan Wanita dalam Sejarah"},"content":{"rendered":"<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjb4_iX7HJ5iVUudInzQWUVRCt0jDqWH832BCzfK41atgqNeY6nkfzdcDMZMsMV8xipJROwSvFPfL5ucnMcesmrsAK1EE02-WNTR57GIvjmQgzO-av_20SivBtqtK-biLSp72f6h68UyZ6H\/s1600\/gerwani.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"226\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjb4_iX7HJ5iVUudInzQWUVRCt0jDqWH832BCzfK41atgqNeY6nkfzdcDMZMsMV8xipJROwSvFPfL5ucnMcesmrsAK1EE02-WNTR57GIvjmQgzO-av_20SivBtqtK-biLSp72f6h68UyZ6H\/s320\/gerwani.jpg\" width=\"320\" \/><\/a><\/div>\n<p>\nSalam Literasi, STUPA MERAH!<br \/>\nPenempaan ini terus berlanjut, terus menempa siapapun yang ingin belajar, memahami, dan melaksanakan setiap ilmu pengetahuan yang disediakan oleh Sang Pencipta di alam semesta ini. Sebagai bagian dari makhluk Tuhan, manusia diwajibkan untuk terus belajar dari lahir hingga meninggal dunia. Hal yang sangat mendasar yang dilakukan manusia sebagai wujud rasa syukur atas dititipkannya anugerah yang tidak dimiliki makhluk ciptaan-Nya yang lain, yaitu akal. Manusia menggunakan akalnya untuk terus berfikir dan belajar mengenal berbagai gejala yang ada di dunia, hingga orang bijak mengatakan \u201cGuru terbaik ialah pengalaman\u201d . Pengalaman yang diperoleh setiap manusia untuk menjadi bahan pembelajaran agar lebih hati-hati dalam bertindak dan menjalani kehidupan selanjutnya. Seperti halnya kami (mahasiswa) yang pada hakekatanya ialah manusia,<br \/>\nmelakukan proses belajar dan mencoba melaksanakan setiap ilmu yang diperoleh kedalam tulisan. Mengingat Sejarah merupakan keilmuan yang kami pelajari, menjadikan kami terus belajar memahami makna sebuah peristiwa dimasa lampau. Kami mencoba menceritakan kembali berbagai ingatan masa lampau, bukan untuk membuka luka lama maupun hanya sebatas mengenang kejayaan dan mengabadikannya. Namun, hal ini semua kami sadari sebagai bagian proses belajar karena<br \/>\nsejarah merupakan ilmu yang menjembatani antara masa lampau dan masa depan kehidupan manusia.<br \/>\nSebuah proses panjang baru berjalan di roda keorganisasian Hima Ilmu Sejarah, mengenalkan beragai<br \/>\nwacana keilmuan melalui membaca dan mendiskusikannya sebagai wujud pengelolaan dari berbagai ilmu yang ada. Diakhirnya, kami mencoba belajar untuk menuliskannya sebagai wujud pengingat pentingnya keberadaan Pers dan Historigrafi (PH) di dalam tubuh organisasi Hima Ilmu Sejarah. Buletin Sanskerta sebagai wadah kami dalam menuliskan berbagai keilmuan menjadi sebuah barang yang berharga dan untuk terus kami jaga keberadaanya. Itu sebabnya, perubahan yang terjadi dalam Buletin Sanskerta sebagai wujud penghargaan kami supaya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.<br \/>\nPada edisi ke dua ini, Buletin Sanskerta mencoba mengganti bentuk font logo dan tata letak penulisan disetiap rubrik. Penambahan rubrik di akhir halaman berupa \u201cUNIK\u201d bertujuan untuk mengisi waktu luang dan mengasah akan pengetahuan sejarah dari pembaca. Adanya karikatur juga menjadi wujud penyalurkan karya seni menggambar di dalam Hima Ilmu Sejarah. Sedangkan pada rubrik rekontruksi, kami mengajak pembaca untuk melihat kembali sejarah panjang perjuangan wanita-wanita Indonesia. Perjuangan wanita dimulai dari datangnya Belanda sebagai penjajah hingga setelah kemerdekaan yang diperoleh rakyat Indonesia pada tahun 1945.<\/p>\n<p>Martha Christina Tiahahu sebagai salah satu tokoh pahlawan wanita Indonesia yang mengusir Belanda dengan gagah berani menjadi sangat menarik untuk dibaca pada rubrik tokoh kali ini. Sejarah kelam Jugun Ianfu yang penuh kekejaman dan menganggap rendah kaum wanita tersaji pada rubrik prespektif. Rubrik prespektif kedua kami mencoba menuliskan perkembangan kaum buruh dengan berbagai alasan munculnya pergerakan buruh. Sedangkan pada rubrik resensi, perjuangan dan perjalanan hidup&nbsp; Tjokroaminoto yang diperankan oleh Reza Rahardian pada film \u201cGuru Bangsa: Tjokroaminoto\u201d menjadi menarik untuk dibaca. Hingga akhirnya, pada rubrik intip Jemparingan menjadi tema yang<br \/>\nkami angkat. Jemparingan merupakan seni olahraga panahan Mataraman khas Yogyakarta yang mulai terpinggirkan. Sekiranya demikian pengetahuan yang coba kami tulis pada edisi kedua Buletin Sanskerta kali ini. Sebagai bagian proses belajar, tentulah masih banyak kekurangan pada isi<br \/>\nmaupun \u201ckemasan\u201d didalam Buletin Sanskerta. Perlunya kritik dan saran, dari pembaca tentulah kami harapkan sebagai wujud perhatian dan membangun Divisi PH. Akhir kata, selamat \u201cmenjelajah waktu dan peradaban\u201d pada sejarah panjang perjalanan kaum wanita Indonesia, dan salam literasi.<br \/>\n<a href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/0B5-5HNCNQyOhVTRURWdZRjJZaUk\/view?usp=sharing\" target=\"_blank\"><span style=\"font-size: x-large;\"><br \/><\/span><\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/0B5-5HNCNQyOhVTRURWdZRjJZaUk\/view?usp=sharing\" target=\"_blank\"><span style=\"font-size: x-large;\">Baca SANSKERTA Online<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salam Literasi, STUPA MERAH! Penempaan ini terus berlanjut, terus menempa siapapun yang ingin belajar, memahami, dan melaksanakan setiap ilmu pengetahuan yang disediakan oleh Sang Pencipta di alam semesta ini. Sebagai bagian dari makhluk Tuhan, manusia diwajibkan untuk terus belajar dari lahir hingga meninggal dunia. Hal yang sangat mendasar yang dilakukan manusia sebagai wujud rasa syukur atas dititipkannya anugerah yang tidak dimiliki makhluk ciptaan-Nya yang lain, yaitu akal. Manusia menggunakan akalnya untuk terus berfikir dan belajar mengenal berbagai gejala yang ada di dunia, hingga orang bijak mengatakan \u201cGuru terbaik ialah pengalaman\u201d . Pengalaman yang diperoleh setiap manusia untuk menjadi bahan pembelajaran agar lebih hati-hati dalam bertindak dan menjalani kehidupan selanjutnya. Seperti halnya kami (mahasiswa) yang pada hakekatanya ialah manusia, melakukan proses belajar dan mencoba melaksanakan setiap ilmu yang diperoleh kedalam tulisan. Mengingat Sejarah merupakan keilmuan yang kami pelajari, menjadikan kami terus belajar memahami makna sebuah peristiwa dimasa lampau. Kami mencoba menceritakan kembali berbagai ingatan masa lampau, bukan untuk membuka luka lama maupun hanya sebatas mengenang kejayaan dan mengabadikannya. Namun, hal ini semua kami sadari sebagai bagian proses belajar karena sejarah merupakan ilmu yang menjembatani antara masa lampau dan masa depan kehidupan manusia. Sebuah proses panjang baru berjalan di roda keorganisasian Hima Ilmu Sejarah, mengenalkan beragai wacana keilmuan melalui membaca dan mendiskusikannya sebagai wujud pengelolaan dari berbagai ilmu yang ada. Diakhirnya, kami mencoba belajar untuk menuliskannya sebagai wujud pengingat pentingnya keberadaan Pers dan Historigrafi (PH) di dalam tubuh organisasi Hima Ilmu Sejarah. Buletin Sanskerta sebagai wadah kami dalam menuliskan berbagai keilmuan menjadi sebuah barang yang berharga dan untuk terus kami jaga keberadaanya. Itu sebabnya, perubahan yang terjadi dalam Buletin Sanskerta sebagai wujud penghargaan kami supaya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Pada edisi ke dua ini, Buletin Sanskerta mencoba mengganti bentuk font logo dan tata letak penulisan disetiap rubrik. Penambahan rubrik di akhir halaman berupa \u201cUNIK\u201d bertujuan untuk mengisi waktu luang dan mengasah akan pengetahuan sejarah dari pembaca. Adanya karikatur juga menjadi wujud penyalurkan karya seni menggambar di dalam Hima Ilmu Sejarah. Sedangkan pada rubrik rekontruksi, kami mengajak pembaca untuk melihat kembali sejarah panjang perjuangan wanita-wanita Indonesia. Perjuangan wanita dimulai dari datangnya Belanda sebagai penjajah hingga setelah kemerdekaan yang diperoleh rakyat Indonesia pada tahun 1945. Martha Christina Tiahahu sebagai salah satu tokoh pahlawan wanita Indonesia yang mengusir Belanda dengan gagah berani menjadi sangat menarik untuk dibaca pada rubrik tokoh kali ini. Sejarah kelam Jugun Ianfu yang penuh kekejaman dan menganggap rendah kaum wanita tersaji pada rubrik prespektif. Rubrik prespektif kedua kami mencoba menuliskan perkembangan kaum buruh dengan berbagai alasan munculnya pergerakan buruh. Sedangkan pada rubrik resensi, perjuangan dan perjalanan hidup&nbsp; Tjokroaminoto yang diperankan oleh Reza Rahardian pada film \u201cGuru Bangsa: Tjokroaminoto\u201d menjadi menarik untuk dibaca. Hingga akhirnya, pada rubrik intip Jemparingan menjadi tema yang kami angkat. Jemparingan merupakan seni olahraga panahan Mataraman khas Yogyakarta yang mulai terpinggirkan. Sekiranya demikian pengetahuan yang coba kami tulis pada edisi kedua Buletin Sanskerta kali ini. Sebagai bagian proses belajar, tentulah masih banyak kekurangan pada isi maupun \u201ckemasan\u201d didalam Buletin Sanskerta. Perlunya kritik dan saran, dari pembaca tentulah kami harapkan sebagai wujud perhatian dan membangun Divisi PH. Akhir kata, selamat \u201cmenjelajah waktu dan peradaban\u201d pada sejarah panjang perjalanan kaum wanita Indonesia, dan salam literasi. Baca SANSKERTA Online<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-181","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sanskerta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/181","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=181"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/181\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=181"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=181"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=181"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}