{"id":154,"date":"2017-03-13T10:20:00","date_gmt":"2017-03-13T10:20:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=154"},"modified":"2017-03-13T10:20:00","modified_gmt":"2017-03-13T10:20:00","slug":"menuju-world-clash-university","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=154","title":{"rendered":"Menuju &#8220;World Clash University&#8221;"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"https:\/\/kemssa.files.wordpress.com\/2016\/12\/img-20161203-wa0071.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"263\" src=\"https:\/\/kemssa.files.wordpress.com\/2016\/12\/img-20161203-wa0071.jpg\" width=\"400\" \/><\/a><\/div>\n<blockquote>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n&nbsp;<em>Sejumlah mahasiswa yan mengatasnamakan dirinya ADU (Aliansi Darurat<br \/>\nUNY) melakukan aksi teatrikal terkait krisis demokrasi dan adanya<br \/>\nrepresifitas terhadap mahasiswa yang dilakukan oleh rektorat<strong>.<\/strong><\/em><\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nEntah, aku lupa kapan<br \/>\ntepatnya istilah \u201cworld class university\u201d didengungkan, namun kurasa<br \/>\nsemakin hari terdengar nyaring hingga memekikkan telinga. Sebuah<br \/>\nembel-embel yang sangat superior, terlebih dengan tambahan kata-kata,<br \/>\n\u201cmewujudkan generasi Indonesia emas guna.. blablabla,\u201d ahhh, lagian itu<br \/>\njuga sebuah kata basi yang banyak digunakan pada seminar-seminar<br \/>\nnasional yang luaran ril nya juga perlu dipertanyakan.<span><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKriteria World Class University atau WCU<br \/>\nseperti apa seketika muncul dalam pikiranku, mungkin juga teman-lawan<br \/>\nsemua, terlebih tidak pernah disosialisasikan secara umum juga mengenai<br \/>\nkriteria WCU ini. Tetapi tenang kawan-lawan, setelah browsing sebentar,<br \/>\naku mendapat sumber yang sangat menarik. Terlebih, yang menjabarkan<br \/>\nkriteria ini dari kampus kita tercinta sendiri, ciee tercinta. Baiklah,<br \/>\nberikut aku ulas beberapa point pentingnya, selengkapnya bisa kalian<br \/>\nakses nanti di lampiran bawah tulisan ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAda 12 pokok Benchmark WCU;<\/div>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"text-align: justify;\">Melahirkan penelitian dan memiliki SDM &nbsp;(faculty) &nbsp;yang unggul<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Memiliki kebebasan dan atmosfer akademik yang kondusif<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Dikelola secara mandiri\/Self Governance<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Memiliki fasilitas dan pendanaan yang memadai<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Mendukung keberagaman<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Melaksanakan internasionalisasi<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Memiliki kepemimpinan yang demokratis<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Memiliki mahasiswa yang berbakat<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Menggunakan ICT<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Menyapa kebutuhan masyarakat sosial<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Memiliki jaringan kerjasama internal dan eksternal yang kuat<\/li>\n<\/ol>\n<div style=\"text-align: justify;\">\ndari 12 pokok benchmark WCU diatas, masih<br \/>\n dijabarkan pula sub-sub pokok dari masing-masing butir. Namun, aku<br \/>\nhanya akan mengkritisi point-point yang menurutku <em>clash<\/em> dengan praktik yang terjadi dalam kampus.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPoin pertama, ada 3 sub point yang aku tekankan,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u2013 sekelompok faculty &nbsp;<strong>(dosen fakultas) yang unggul (excellent)<\/strong> sebagai fondamen universitas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u2013 <strong>sistem<\/strong> yang mampu melahirkan profesor-profesor berkelas dan mampu <strong>melahirkan otak-otak yang brillian<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u2013 <strong>pembelajaran<\/strong> <strong>yang sangat baik<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nWCU menuntut adanya dosen yang<br \/>\nberkualitas yang berfungsi sebagai pilar-pilar kokoh pembentuk<br \/>\nuniversitas kelas dunia. Namun, dalam perkuliahan yang sudah aku jalani<br \/>\nselama 3 semester, serta dosen-dosen pengajar yang itu-itu saja, bahkan<br \/>\nsaling mengaver antara matkul satu dengan yang lain (give applause for<br \/>\nour teacher that have multi-talent teaching) terkesan belum maksimal<br \/>\ndalam memberi pengajaran di dalam kelas. Jangankan itu, merangsang<br \/>\nmahasiswanya untuk bergairah terhadap materi yang diajarkan saja sangat<br \/>\nminim. Ketika salah seorang temanku berusaha mengeksploitasi materi,<br \/>\ndosen terkesan cari aman dalam menjawab bahkan terkadang mencap apa yang<br \/>\n dipertanyakan sebagai out of topic.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nBeberapa permasalahan di atas akan<br \/>\nmerujuk pada sub point yang kedua, sistem yang digunakan dalam<br \/>\npengajaran di kelas, bagaimana bisa melahirkan seorang yang memiliki<br \/>\notak brilian bila dari pertanyaan saja sudah terkesan dibatasi bila<br \/>\ndosen merasa tidak capable dalam menjawabnya. Merambat ke sub point<br \/>\nketiga, simpulkan sendiri wahai teman-lawan, apakah bisa diperolah hasil<br \/>\n pembelajaran yang baik?.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPoin kedua, mengenai kebebasan dan atmosfer yang diharuskan dalam kegiatan akademik. satu sub poin yang menyatakan,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u2013 <strong>Kekebasan berbicara<\/strong> mendapat tempat yang kondusif<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nBung! kakak tingkatku bahkan mengeluh<br \/>\ntentang ditolaknya sebuah seminar dan diskusi oleh kaprodi dengan alasan<br \/>\n berbahaya bagi perkembangan berpikir para mahasiswanya. Bukankah dalam<br \/>\nruang akademik sebuah kajian pastinya bisa dipertanggungjawabkan dan<br \/>\ntidak terlepas dari keilmuannya, apalagi melenceng jauh menuju kesesatan<br \/>\n berpikir. Sebagai fasilitator, kampus seharusnya menjadi tempat yang<br \/>\nnyaman dalam mengembangkan dan membebaskan mahasiswanya mengkaji<br \/>\nkeilmuan dengan catatan dapat dipertanggungjawabkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nLoncat ke point kelima, mengenai mendukung keberagaman, ada 3 sub;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u2013 Menjadi suatu lingkungan belajar di mana berbagai bidang <strong>ilmu pengetahuan dipelajari dan dihargai&nbsp;<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u2013 <strong>Mencakup<\/strong> bidang-bidang <strong>keilmuan<\/strong> yang bersifat dasar <strong>tradisional, kuno hingga disiplin ilmu baru<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u2013 Dosen dan mahasiswa harus <strong>memahami &nbsp;berbagai ragam budaya yang tumbuh<\/strong> di dunia<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPada sub point pertama kiranya hampir<br \/>\nsama dengan permasalahan yang aku jabarkan pada point sebelumnya, maka<br \/>\nyang perlu ditekankan pada poin ini adalah perkembangan keilmuan yang<br \/>\ndiajarkan dalam kelas, karena secara gamblang dijelaskan dosen dan<br \/>\nmahasiswa mampu memahami dinamika ilmu dan budaya yang berkembang di<br \/>\ndunia. Stagnansi pengajaran materi kuliah masih sangat besar kurasa.<br \/>\nMeskipun program studi yang ku jalani adalah ilmu sejarah namun perlu<br \/>\nada finishing mengenai aktualitas dari apa yang telah dipelajari, karena<br \/>\n masa sekarang adalah proyeksi yang berkembang dari sejarah itu sendiri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPoin terakhir yang aku bahas adalah poin ketujuh, mengenai kepemimpinan yang demokratis dengan sub poin;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u2013 Terbuka bagi persaingan staf maupun mahasiswa<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u2013 Bekerja sama dengan konstituen eksternal<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nEntah yang dimaksud dalam \u2018persaingan\u2019,<br \/>\nbersaing dalam kegiatan organisasi, politik, penelitian, maupun<br \/>\nakademik, terlepas dari itu perlu adanya komunikasi yang baik antara<br \/>\nmahasiswa dan birokrat karena mahasiswa mempunyai hak menyuarakan<br \/>\npendapatnya bila ada sesuatu yang tidak beres dalam struktur, bukan<br \/>\nmerepresi mahasiswa bila terjadi ketidaksesuaian pendapat, dan terkesan<br \/>\ntidak mau duduk bersama menyelesaikan masalah yang terjadi. Bila<br \/>\nmahasiswa tidak diberi ruang di dalam kehidupan berdinamikanya sendiri,<br \/>\njangan salahkan mahasiswa bila terjadi aksi yang bapak ibu anggap<br \/>\n&nbsp;memalukan nama universitas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nItu saja sih beberapa poin benchmark WCU<br \/>\nyang menurutku masih tidak sesuai dengan realitas dinamika yang terjadi<br \/>\ndi dalam kampus. Bukan berarti poin-poin yang lain sudah beres, namun<br \/>\ndiriku hanya mengungkapkan hal yang kalau kata Pak Agus dalam matkul<br \/>\nTeori Budaya \u201cEmpirik\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nBila poin-poin diatas tidak kunjung<br \/>\ndiperhatikan dan hanya memfokuskan pada peraihan prestasi belaka untuk<br \/>\nmengejar sebuah gelar \u201cWorld Class University\u201d, justru yang akan terjadi<br \/>\n adalah sebuah <em>clash<\/em> (ketidakcocokan \/ ketidakserasian) terhadap jati diri yang dibangun oleh universitas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSekali lagi, teman-lawanku, selamat berproses menuju \u201cWorld Clash University\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"color: red;\">*<\/span>Lampiran:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=http:\/\/staff.uny.ac.id\/sites\/default\/files\/lain-lain\/dr-widyastuti-purbani-ma\/MENUJU%2520WCU.pptx&amp;sa=U&amp;ved=0ahUKEwiHl8zb_tjQAhUJuI8KHT0iAkwQFggPMAM&amp;usg=AFQjCNFAVvixhVsF9YCz5nsiCaOOjpF4VQ\"><b>[PPT] Menuju World Class University&nbsp;<\/b><\/a><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\npernah dimuat di <u>kemssa.wordpress.com<\/u><b> <\/b><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp;Sejumlah mahasiswa yan mengatasnamakan dirinya ADU (Aliansi Darurat UNY) melakukan aksi teatrikal terkait krisis demokrasi dan adanya represifitas terhadap mahasiswa yang dilakukan oleh rektorat. Entah, aku lupa kapan tepatnya istilah \u201cworld class university\u201d didengungkan, namun kurasa semakin hari terdengar nyaring hingga memekikkan telinga. Sebuah embel-embel yang sangat superior, terlebih dengan tambahan kata-kata, \u201cmewujudkan generasi Indonesia emas guna.. blablabla,\u201d ahhh, lagian itu juga sebuah kata basi yang banyak digunakan pada seminar-seminar nasional yang luaran ril nya juga perlu dipertanyakan. Kriteria World Class University atau WCU seperti apa seketika muncul dalam pikiranku, mungkin juga teman-lawan semua, terlebih tidak pernah disosialisasikan secara umum juga mengenai kriteria WCU ini. Tetapi tenang kawan-lawan, setelah browsing sebentar, aku mendapat sumber yang sangat menarik. Terlebih, yang menjabarkan kriteria ini dari kampus kita tercinta sendiri, ciee tercinta. Baiklah, berikut aku ulas beberapa point pentingnya, selengkapnya bisa kalian akses nanti di lampiran bawah tulisan ini. Ada 12 pokok Benchmark WCU; Melahirkan penelitian dan memiliki SDM &nbsp;(faculty) &nbsp;yang unggul Memiliki kebebasan dan atmosfer akademik yang kondusif Dikelola secara mandiri\/Self Governance Memiliki fasilitas dan pendanaan yang memadai Mendukung keberagaman Melaksanakan internasionalisasi Memiliki kepemimpinan yang demokratis Memiliki mahasiswa yang berbakat Menggunakan ICT Menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas Menyapa kebutuhan masyarakat sosial Memiliki jaringan kerjasama internal dan eksternal yang kuat dari 12 pokok benchmark WCU diatas, masih dijabarkan pula sub-sub pokok dari masing-masing butir. Namun, aku hanya akan mengkritisi point-point yang menurutku clash dengan praktik yang terjadi dalam kampus. Poin pertama, ada 3 sub point yang aku tekankan, \u2013 sekelompok faculty &nbsp;(dosen fakultas) yang unggul (excellent) sebagai fondamen universitas. \u2013 sistem yang mampu melahirkan profesor-profesor berkelas dan mampu melahirkan otak-otak yang brillian \u2013 pembelajaran yang sangat baik WCU menuntut adanya dosen yang berkualitas yang berfungsi sebagai pilar-pilar kokoh pembentuk universitas kelas dunia. Namun, dalam perkuliahan yang sudah aku jalani selama 3 semester, serta dosen-dosen pengajar yang itu-itu saja, bahkan saling mengaver antara matkul satu dengan yang lain (give applause for our teacher that have multi-talent teaching) terkesan belum maksimal dalam memberi pengajaran di dalam kelas. Jangankan itu, merangsang mahasiswanya untuk bergairah terhadap materi yang diajarkan saja sangat minim. Ketika salah seorang temanku berusaha mengeksploitasi materi, dosen terkesan cari aman dalam menjawab bahkan terkadang mencap apa yang dipertanyakan sebagai out of topic. Beberapa permasalahan di atas akan merujuk pada sub point yang kedua, sistem yang digunakan dalam pengajaran di kelas, bagaimana bisa melahirkan seorang yang memiliki otak brilian bila dari pertanyaan saja sudah terkesan dibatasi bila dosen merasa tidak capable dalam menjawabnya. Merambat ke sub point ketiga, simpulkan sendiri wahai teman-lawan, apakah bisa diperolah hasil pembelajaran yang baik?. Poin kedua, mengenai kebebasan dan atmosfer yang diharuskan dalam kegiatan akademik. satu sub poin yang menyatakan, \u2013 Kekebasan berbicara mendapat tempat yang kondusif Bung! kakak tingkatku bahkan mengeluh tentang ditolaknya sebuah seminar dan diskusi oleh kaprodi dengan alasan berbahaya bagi perkembangan berpikir para mahasiswanya. Bukankah dalam ruang akademik sebuah kajian pastinya bisa dipertanggungjawabkan dan tidak terlepas dari keilmuannya, apalagi melenceng jauh menuju kesesatan berpikir. Sebagai fasilitator, kampus seharusnya menjadi tempat yang nyaman dalam mengembangkan dan membebaskan mahasiswanya mengkaji keilmuan dengan catatan dapat dipertanggungjawabkan. Loncat ke point kelima, mengenai mendukung keberagaman, ada 3 sub; \u2013 Menjadi suatu lingkungan belajar di mana berbagai bidang ilmu pengetahuan dipelajari dan dihargai&nbsp; \u2013 Mencakup bidang-bidang keilmuan yang bersifat dasar tradisional, kuno hingga disiplin ilmu baru \u2013 Dosen dan mahasiswa harus memahami &nbsp;berbagai ragam budaya yang tumbuh di dunia Pada sub point pertama kiranya hampir sama dengan permasalahan yang aku jabarkan pada point sebelumnya, maka yang perlu ditekankan pada poin ini adalah perkembangan keilmuan yang diajarkan dalam kelas, karena secara gamblang dijelaskan dosen dan mahasiswa mampu memahami dinamika ilmu dan budaya yang berkembang di dunia. Stagnansi pengajaran materi kuliah masih sangat besar kurasa. Meskipun program studi yang ku jalani adalah ilmu sejarah namun perlu ada finishing mengenai aktualitas dari apa yang telah dipelajari, karena masa sekarang adalah proyeksi yang berkembang dari sejarah itu sendiri. Poin terakhir yang aku bahas adalah poin ketujuh, mengenai kepemimpinan yang demokratis dengan sub poin; \u2013 Terbuka bagi persaingan staf maupun mahasiswa \u2013 Bekerja sama dengan konstituen eksternal Entah yang dimaksud dalam \u2018persaingan\u2019, bersaing dalam kegiatan organisasi, politik, penelitian, maupun akademik, terlepas dari itu perlu adanya komunikasi yang baik antara mahasiswa dan birokrat karena mahasiswa mempunyai hak menyuarakan pendapatnya bila ada sesuatu yang tidak beres dalam struktur, bukan merepresi mahasiswa bila terjadi ketidaksesuaian pendapat, dan terkesan tidak mau duduk bersama menyelesaikan masalah yang terjadi. Bila mahasiswa tidak diberi ruang di dalam kehidupan berdinamikanya sendiri, jangan salahkan mahasiswa bila terjadi aksi yang bapak ibu anggap &nbsp;memalukan nama universitas. Itu saja sih beberapa poin benchmark WCU yang menurutku masih tidak sesuai dengan realitas dinamika yang terjadi di dalam kampus. Bukan berarti poin-poin yang lain sudah beres, namun diriku hanya mengungkapkan hal yang kalau kata Pak Agus dalam matkul Teori Budaya \u201cEmpirik\u201d. Bila poin-poin diatas tidak kunjung diperhatikan dan hanya memfokuskan pada peraihan prestasi belaka untuk mengejar sebuah gelar \u201cWorld Class University\u201d, justru yang akan terjadi adalah sebuah clash (ketidakcocokan \/ ketidakserasian) terhadap jati diri yang dibangun oleh universitas. Sekali lagi, teman-lawanku, selamat berproses menuju \u201cWorld Clash University\u201d. *Lampiran: [PPT] Menuju World Class University&nbsp; pernah dimuat di kemssa.wordpress.com<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-154","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=154"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/154\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}