{"id":153,"date":"2017-03-13T13:19:00","date_gmt":"2017-03-13T13:19:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=153"},"modified":"2017-03-13T13:19:00","modified_gmt":"2017-03-13T13:19:00","slug":"banda-neira-musik-dan-ingatan-di-dalam-bui-tapol-65","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=153","title":{"rendered":"Banda Neira: Musik dan Ingatan di Dalam Bui Tapol &#8217;65"},"content":{"rendered":"<p><i>oleh: <b>Deby Hermawan<\/b><\/i> <\/p>\n<blockquote><p>\n<span style=\"font-family: inherit;\">Musik adalah sendjata, sendjata yang menggembleng barisan sendiri, memperkuat front dengan sekutu maupun mengobrak-abrik lawan<\/p>\n<p>    -Njoto<\/span><\/p><\/blockquote>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid;\">\n<\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><a href=\"https:\/\/debyhermawan.files.wordpress.com\/2017\/01\/wp-1485192799416.jpeg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"640\" src=\"https:\/\/debyhermawan.files.wordpress.com\/2017\/01\/wp-1485192799416.jpeg\" width=\"640\" \/><\/a><\/span><\/div>\n<p><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/>\n<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: center;\">\n<span style=\"font-size: x-small;\"><span style=\"font-family: inherit;\">&nbsp;<i style=\"outline: 0px solid;\">Ilustrasi dari Ellena Ekarahendy&#8211;Pekerja<br \/>\ngrafis serabutan &amp; juru ketik musiman. Ilustrator @Ingat65. Sedang<br \/>\nberlatih menjadi pemimpi profesional penuh waktu.<\/i><\/span><\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Banda<br \/>\n Neira, band asal Bandung yang belum lama ini memutuskan untuk undur<br \/>\ndiri dari dunia musik Indonesia. Tepatnya tanggal 23 Desember, Ananda<br \/>\nBadudu dan Rara Sekar menerbitkan foto di sosial media Instagram serta<br \/>\nmenuliskan caption semacam&nbsp;<i style=\"outline: solid 0px;\">press &nbsp;release&nbsp;<\/i>mengenai masa depan Banda Neira.<br style=\"outline: solid 0px;\" \/>Duo<br \/>\n yang telah menghasilkan dua album tersebut, pada awalnya hanya akan<br \/>\nvakum dikarenakan sibuk dengan pekerjaan dan pendidikan. Namun setelah<br \/>\nlama tak terdengar rimbanya, Ananda Badudu dan Rara Sekar secara<br \/>\nmengejutkan sepakat untuk tidak meneruskan Banda Neira<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Suara<br \/>\n khas Rara Sekar ditemani alunan petikan gitar Ananda Badudu serta lirik<br \/>\n yang sarat makna membuat Banda Neira mudah mendapat tempat di industri<br \/>\nmusik Indonesia.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">****<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Salah<br \/>\n satu lagu yang membuat decak kagum ialah &#8216;Tini dan Yanti&#8217;. Duo Banda<br \/>\nNeira menyihir setiap pendengarnya dengan alunan lirik dirangkul hangat<br \/>\noleh petikan gitar.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Tini<br \/>\n dan Yanti, lagu yang didapuk sebagai salah satu lagu di project<br \/>\nbertajuk &#8216;Prisons Song&#8217;. Prisons Song merupakan project musisi tanah air<br \/>\n khususnya di pulau Dewata yang menggarap lagu-lagu yang ditemukan<br \/>\nditembok penjara mantan tahanan politik (eks-tapol) 1965.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Lirik<br \/>\n lagu Tini dan Yanti ditulis oleh Tapol Bali bernama Ida Bagus Santosa.<br \/>\nLagu ini ditulis didinding ruang penjara. Lirik yang sarat akan emosi<br \/>\nkerinduan terhadap wanita bernama Tini dan Yanti, disampaikan sendu oleh<br \/>\n suara Rara Sekar.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Lagu<br \/>\n yang diaransemen ulang oleh Banda Neira &#8211;sebelumnya diaransemen oleh<br \/>\nAmir, seorang Eks-tapol dan kepala RRI Kupang&#8211; dan dimuat didalam<br \/>\nPrisons Song, menceritakan tentang sebuah kerinduan dari seorang suami<br \/>\ndan calon ayah bagi anaknya.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Ida<br \/>\n Bagus Santosa dijebloskan kedalam penjara karena diduga simpatisan<br \/>\nPartai Komunis Indonesia (PKI). Ida Bagus meninggalkan istrinya (Tini)<br \/>\nyang sedang mengandung. Didalam penjara, Ida Bagus mempunyai keinginan<br \/>\njika anaknya lahir dan seorang perempuan akan dikasih nama Yanti.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Dalam<br \/>\n tulisan didinding penjara, Ida Bagus berpesan bahwa ayahnya tidak<br \/>\njahat. Bahwa ayahnya berjuang melawan ketidakadilan. Dan ia percaya,<br \/>\nbahwa di masa yang akan datang, sejarah akan membebaskannya. Pesan<br \/>\nseorang ayah pada anaknya, yang akhirnya tak sempat diucap karena<br \/>\nterlanjur dieksekusi.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Di dalam frase terakhir syair Ida Bagus menuliskan&nbsp;<i style=\"outline: solid 0px;\">&#8216;La Historia Me Absolvera&#8217;<\/i>.<br \/>\n Tulisan berbahasa Spanyol ini berarti sejarah yang akan membebaskan ku.<br \/>\n Tulisan yang sama seperti yang diucapkan oleh Fidel Castro pada pidato<br \/>\npembelaan di pengadilan 1953.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Tulisan<br \/>\n Ida Bagus menjadi kawan setia para teman-teman Tapol. Disaat Ida Bagus<br \/>\ntak lagi ditemukan lagi di selnya, teman-teman Tapol menghidupkan Ida<br \/>\nBagus ala teman-temannya melalui syair &#8216;Tini dan Yanti&#8217; yang menjadi<br \/>\nsemacam Hymne Tapol di Pekambingan, Bali.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">***<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Banda<br \/>\n Neira menjadi duo band yang merawat ingatan melalui musik dan lirik.<br \/>\nLirik yang tercipta bukan dari ruang kosong, namun setiap lirik memiliki<br \/>\n kekuatan dan pesan yang ingin disampaikan. Perjuangan manusia melawan<br \/>\nkekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa, tulis Milan Kundera<br \/>\n&#8211;dalam buku&nbsp;\u201cThe Book of Laughter and Forgetting\u201d.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Banda<br \/>\n Neira tak ubahnya dengan apa yang dilakukan John Lennon dan Yoko Ono<br \/>\nyang menciptakan &#8216;Give Peace a Chance&#8217; yang menjadi sorotan penikmat<br \/>\nmusik dunia pada saat perang Vietnam bergejolak, atau layaknya Martin<br \/>\nLuther King Jr dengan lagunya &#8216;We Shall Overcome&#8217; yang melawan isu<br \/>\nrasial di Amerika.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Di<br \/>\n Indonesia bukan hanya Banda Neira yang menyajikan musik-musik yang<br \/>\nmengobrak-abrik ingatan yang sengaja ditumpulkan. Efek Rumah Kaca, Sore,<br \/>\n Fajar Merah, dan masih banyak lagi.<br style=\"outline: solid 0px;\" \/>Peran<br \/>\nmusik sangat membantu untuk mengisi lubang ingatan yang tak sengaja atau<br \/>\n disengaja digerus oleh gelombang waktu. Musisi-musisi mencoba<br \/>\nmenghadirkan atau menutup lubang-lubang yang tercipta.<\/span><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"font-size: 13.76px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; margin-top: 0px; outline: 0px solid; text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Pernah di muat dalam wordpress pribadi <a data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?hl=id&amp;q=http:\/\/debyhermawan.wordpress.com&amp;source=gmail&amp;ust=1489497177253000&amp;usg=AFQjCNGp6sgrz45TmrHCTjI5IHNEvg86FQ\" href=\"http:\/\/debyhermawan.wordpress.com\/\" target=\"_blank\">debyhermawan.wordpress.com<\/a><\/span><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh: Deby Hermawan Musik adalah sendjata, sendjata yang menggembleng barisan sendiri, memperkuat front dengan sekutu maupun mengobrak-abrik lawan -Njoto &nbsp;Ilustrasi dari Ellena Ekarahendy&#8211;Pekerja grafis serabutan &amp; juru ketik musiman. Ilustrator @Ingat65. Sedang berlatih menjadi pemimpi profesional penuh waktu. Banda Neira, band asal Bandung yang belum lama ini memutuskan untuk undur diri dari dunia musik Indonesia. Tepatnya tanggal 23 Desember, Ananda Badudu dan Rara Sekar menerbitkan foto di sosial media Instagram serta menuliskan caption semacam&nbsp;press &nbsp;release&nbsp;mengenai masa depan Banda Neira.Duo yang telah menghasilkan dua album tersebut, pada awalnya hanya akan vakum dikarenakan sibuk dengan pekerjaan dan pendidikan. Namun setelah lama tak terdengar rimbanya, Ananda Badudu dan Rara Sekar secara mengejutkan sepakat untuk tidak meneruskan Banda Neira Suara khas Rara Sekar ditemani alunan petikan gitar Ananda Badudu serta lirik yang sarat makna membuat Banda Neira mudah mendapat tempat di industri musik Indonesia. **** Salah satu lagu yang membuat decak kagum ialah &#8216;Tini dan Yanti&#8217;. Duo Banda Neira menyihir setiap pendengarnya dengan alunan lirik dirangkul hangat oleh petikan gitar. Tini dan Yanti, lagu yang didapuk sebagai salah satu lagu di project bertajuk &#8216;Prisons Song&#8217;. Prisons Song merupakan project musisi tanah air khususnya di pulau Dewata yang menggarap lagu-lagu yang ditemukan ditembok penjara mantan tahanan politik (eks-tapol) 1965. Lirik lagu Tini dan Yanti ditulis oleh Tapol Bali bernama Ida Bagus Santosa. Lagu ini ditulis didinding ruang penjara. Lirik yang sarat akan emosi kerinduan terhadap wanita bernama Tini dan Yanti, disampaikan sendu oleh suara Rara Sekar. Lagu yang diaransemen ulang oleh Banda Neira &#8211;sebelumnya diaransemen oleh Amir, seorang Eks-tapol dan kepala RRI Kupang&#8211; dan dimuat didalam Prisons Song, menceritakan tentang sebuah kerinduan dari seorang suami dan calon ayah bagi anaknya. Ida Bagus Santosa dijebloskan kedalam penjara karena diduga simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ida Bagus meninggalkan istrinya (Tini) yang sedang mengandung. Didalam penjara, Ida Bagus mempunyai keinginan jika anaknya lahir dan seorang perempuan akan dikasih nama Yanti. Dalam tulisan didinding penjara, Ida Bagus berpesan bahwa ayahnya tidak jahat. Bahwa ayahnya berjuang melawan ketidakadilan. Dan ia percaya, bahwa di masa yang akan datang, sejarah akan membebaskannya. Pesan seorang ayah pada anaknya, yang akhirnya tak sempat diucap karena terlanjur dieksekusi. Di dalam frase terakhir syair Ida Bagus menuliskan&nbsp;&#8216;La Historia Me Absolvera&#8217;. Tulisan berbahasa Spanyol ini berarti sejarah yang akan membebaskan ku. Tulisan yang sama seperti yang diucapkan oleh Fidel Castro pada pidato pembelaan di pengadilan 1953. Tulisan Ida Bagus menjadi kawan setia para teman-teman Tapol. Disaat Ida Bagus tak lagi ditemukan lagi di selnya, teman-teman Tapol menghidupkan Ida Bagus ala teman-temannya melalui syair &#8216;Tini dan Yanti&#8217; yang menjadi semacam Hymne Tapol di Pekambingan, Bali. *** Banda Neira menjadi duo band yang merawat ingatan melalui musik dan lirik. Lirik yang tercipta bukan dari ruang kosong, namun setiap lirik memiliki kekuatan dan pesan yang ingin disampaikan. Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa, tulis Milan Kundera &#8211;dalam buku&nbsp;\u201cThe Book of Laughter and Forgetting\u201d. Banda Neira tak ubahnya dengan apa yang dilakukan John Lennon dan Yoko Ono yang menciptakan &#8216;Give Peace a Chance&#8217; yang menjadi sorotan penikmat musik dunia pada saat perang Vietnam bergejolak, atau layaknya Martin Luther King Jr dengan lagunya &#8216;We Shall Overcome&#8217; yang melawan isu rasial di Amerika. Di Indonesia bukan hanya Banda Neira yang menyajikan musik-musik yang mengobrak-abrik ingatan yang sengaja ditumpulkan. Efek Rumah Kaca, Sore, Fajar Merah, dan masih banyak lagi.Peran musik sangat membantu untuk mengisi lubang ingatan yang tak sengaja atau disengaja digerus oleh gelombang waktu. Musisi-musisi mencoba menghadirkan atau menutup lubang-lubang yang tercipta. Pernah di muat dalam wordpress pribadi debyhermawan.wordpress.com<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-153","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-resensi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/153","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=153"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/153\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=153"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=153"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=153"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}