{"id":117,"date":"2019-05-18T21:21:00","date_gmt":"2019-05-18T21:21:00","guid":{"rendered":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=117"},"modified":"2019-05-18T21:21:00","modified_gmt":"2019-05-18T21:21:00","slug":"pandangan-aktivis98-terhadap-generasi-muda-hari-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanskertaonline.id\/?p=117","title":{"rendered":"Pandangan Aktivis\u201998 Terhadap Generasi Muda Hari Ini"},"content":{"rendered":"<div style=\"line-height: 150%;\">\n<o:p><\/o:p><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi636Q0zJJIxo7886cy8AN6k7BNZPUJPZ47YAhSgTZ7wM4Ij5T9JuuqXqzj3xx2O6wggTlGOPLjCQF4M7Cg-yokgl1ZNwDle9R8LnX3K_BahnkSQyS0JbOTwJvBbw1Tr62N_uGu0ECKRNZ-\/s1600\/WhatsApp+Image+2019-05-19+at+04.16.57.jpeg\"><span style=\"font-family: inherit;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"581\" data-original-width=\"1032\" height=\"225\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi636Q0zJJIxo7886cy8AN6k7BNZPUJPZ47YAhSgTZ7wM4Ij5T9JuuqXqzj3xx2O6wggTlGOPLjCQF4M7Cg-yokgl1ZNwDle9R8LnX3K_BahnkSQyS0JbOTwJvBbw1Tr62N_uGu0ECKRNZ-\/s400\/WhatsApp+Image+2019-05-19+at+04.16.57.jpeg\" width=\"400\" \/><\/span><\/a><\/div>\n<p><a name='more'><\/a><span style=\"font-family: inherit;\"><span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><br \/>\n<span style=\"font-family: inherit;\"><span style=\"font-family: &quot;georgia&quot; , &quot;times new roman&quot; , serif;\"><br \/><\/span><br \/>\n<\/span><\/span><\/p>\n<div style=\"text-align: center;\">\n<blockquote style=\"text-align: left;\"><p>\n<i><span style=\"font-family: inherit;\">\u201cAnak muda yang dinamis, periode 2019 masih tunduk, 2020 masih tunduk. Akan tetapi, siapa yang sanggup menundukkan kaum muda terus menerus?\u201d <\/span><\/i><\/p><\/blockquote>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<div style=\"text-align: center;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">YOGYAKARTA &#8211; Demikianlah ucap Aktivis\u201998, Budi Wardoyo dengan lugas, dalam \u201cDiskusi Peringatan Bulan Reformasi\u201d, bertajuk \u201cRetrospeksi Gerakan Mahasiswa\u201998 di Yogyakarta\u201d. Acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah ini diramaikan oleh 23 peserta dari berbagai golongan, Rabu (16\/5\/2019) . <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Bertempat di Pendopo Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, diskusi ini dihadiri dua pemantik, diantaranya Hardian Wahyu (Dosen Administarsi Publik UNY) dan Budi Wardoyo yang acap kali disapa Bung Yoyok (Aktivis\u201998).<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><span style=\"font-family: &quot;georgia&quot; , &quot;times new roman&quot; , serif;\">Lebih jauh, Bung Yoyok percaya bahwa dengan kapasitas teknologi yang makin canggih dimasa kini, seharusnya generasi sekarang memiliki potensi yang lebih besar dalam melakukan perubahan. Akan tetapi, ia menyayangkan kondisi gerakan mahasiswa yang baginya&nbsp;<\/span><span style=\"font-family: &quot;georgia&quot; , &quot;times new roman&quot; , serif;\">hari ini<\/span><span style=\"font-family: &quot;georgia&quot; , &quot;times new roman&quot; , serif;\">&nbsp;<\/span><span style=\"font-family: &quot;georgia&quot; , &quot;times new roman&quot; , serif;\">&nbsp;tidak memiliki harapan.<\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Menanggapi <i>statement<\/i> pegiat organisasi Kiri Sosial tersebut, Kepala Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah, Ahmad Effendi pun angkat bicara, sepakat. \u201cMenurut saya benar, teknologi jangan sampai <i>menina bobokan<\/i>&nbsp;kita, tetapi jadikan alat untuk membangunkan semangat gerakan pada hari ini,\u201d ucapnya.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Sementara itu, Wardoyo melihat generasi muda kini sedang ditenangkan dalam &#8220;Penjara&#8221; yang bernama kampus. \u201cKaum muda dikumpulkan dalam jumlah yang besar di dalam penjara yang bernama kampus. Maka akan ada satu titik kaum muda memberontak karena pemerintah hari ini, dengan sistem ekonomi politiknya tidak menjamin kaum muda.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Acara yang berlangsung sejak Pukul 16.00-19.00 WIB ini, sempat dijeda untuk buka bersama, sesuai dengan rancangan acara yang diagendakan panitia. Terakhir, Bung Yoyok sempat menyampaikan optimisnya terhadap gerakan mahasiswa dimasa depan. \u201cSaya sangat yakin bangkitnya gerakan mahasiswa yang akan melampui gerakan\u201998. Karena kaum muda (kini-red) jauh lebih pintar, militan dengan teknologi yang lebih maju.\u201d <o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Reporter: Azizatul Hafidoh<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%;\">\n<span style=\"font-family: inherit;\">Editor: Rachmad Ganta Semendawai<\/span><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cAnak muda yang dinamis, periode 2019 masih tunduk, 2020 masih tunduk. Akan tetapi, siapa yang sanggup menundukkan kaum muda terus menerus?\u201d YOGYAKARTA &#8211; Demikianlah ucap Aktivis\u201998, Budi Wardoyo dengan lugas, dalam \u201cDiskusi Peringatan Bulan Reformasi\u201d, bertajuk \u201cRetrospeksi Gerakan Mahasiswa\u201998 di Yogyakarta\u201d. Acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah ini diramaikan oleh 23 peserta dari berbagai golongan, Rabu (16\/5\/2019) . Bertempat di Pendopo Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, diskusi ini dihadiri dua pemantik, diantaranya Hardian Wahyu (Dosen Administarsi Publik UNY) dan Budi Wardoyo yang acap kali disapa Bung Yoyok (Aktivis\u201998). Lebih jauh, Bung Yoyok percaya bahwa dengan kapasitas teknologi yang makin canggih dimasa kini, seharusnya generasi sekarang memiliki potensi yang lebih besar dalam melakukan perubahan. Akan tetapi, ia menyayangkan kondisi gerakan mahasiswa yang baginya&nbsp;hari ini&nbsp;&nbsp;tidak memiliki harapan. Menanggapi statement pegiat organisasi Kiri Sosial tersebut, Kepala Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah, Ahmad Effendi pun angkat bicara, sepakat. \u201cMenurut saya benar, teknologi jangan sampai menina bobokan&nbsp;kita, tetapi jadikan alat untuk membangunkan semangat gerakan pada hari ini,\u201d ucapnya. Sementara itu, Wardoyo melihat generasi muda kini sedang ditenangkan dalam &#8220;Penjara&#8221; yang bernama kampus. \u201cKaum muda dikumpulkan dalam jumlah yang besar di dalam penjara yang bernama kampus. Maka akan ada satu titik kaum muda memberontak karena pemerintah hari ini, dengan sistem ekonomi politiknya tidak menjamin kaum muda.\u201d Acara yang berlangsung sejak Pukul 16.00-19.00 WIB ini, sempat dijeda untuk buka bersama, sesuai dengan rancangan acara yang diagendakan panitia. Terakhir, Bung Yoyok sempat menyampaikan optimisnya terhadap gerakan mahasiswa dimasa depan. \u201cSaya sangat yakin bangkitnya gerakan mahasiswa yang akan melampui gerakan\u201998. Karena kaum muda (kini-red) jauh lebih pintar, militan dengan teknologi yang lebih maju.\u201d Reporter: Azizatul Hafidoh Editor: Rachmad Ganta Semendawai<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10,9],"tags":[],"class_list":["post-117","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita","category-in-house-jurnalism"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/117","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=117"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/117\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=117"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=117"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanskertaonline.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=117"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}